Coming Up Wed 3:00 PM  AEST
Coming Up Live in 
Live
Indonesian radio

'Melakukannya demi Anak-anak': Bagaimana Keluarga Australia yang Multikultural Ini Merayakan Tahun Baru Imlek

Nick and Karina Molodysky try to keep the Chinese culture lives in their small family. Source: Supplied

Nick Molodysky tidak memiliki keturunan Tionghoa sama sekali, tetapi istrinya yang orang Indonesia berdarah Tionghoa, Karina Santoso, menganggap Nick bahkan "lebih Tionghoa" daripada dia sendiri. Pasangan asal Sydney ini mengatakan mereka ingin agar anak-anak mereka menganut warisan budayanya.

Highlights:

  • Nick Molodysky, warga Australia keturunan Inggris, Austria, Kiwi, dan Ukraina, menikah dengan Karina Santoso, warga Indonesia keturunan Tionghoa, pada 2015 dan dikaruniai dua orang putri.
  • Karina mengatakan bahwa Nick, yang menulis buku tentang masakan Indonesia dan Tionghoa, bahkan 'lebih Tionghoa' daripada dia sendiri.
  • Pasangan Sydney ini mengatakan bahwa merayakan Tahun Baru Imlek itu penting agar kedua putri mereka 'tahu bahwa mereka orang Tionghoa'.

Food blogger dan penulis buku Nick Molodysky tidak dapat menyebut dengan jelas alasan mengapa ia tertarik dengan budaya Tionghoa. 

"Yaa.. suka aja," jawabnya saat ditanya oleh SBS Indonesian.

Pria Australia berdarah Inggris, Austria, Kiwi dan Ukraina ini menikah dengan Karina Santoso, orang Indonesia keturunan Tionghoa, di tahun 2015.

Keduanya pertama kali saling kenal melalui percakapan daring saat mereka SMA dan Nick sedang mempelajari Bahasa Indonesia. Saat ini, mereka memiliki dua anak perempuan, Zoe yang berusia 5 tahun dan Hazel berusia setahun. 

The Molodyskys
Zoe (R) and Hazel Molodysky are exposed to some of the Chinese culture since very young age.
Supplied

Namun ketertarikan Nick akan budaya Tionghoa sudah lama ada bahkan sejak ia bertemu istrinya.

Nick mengatakan bahwa, tanpa sadar, ia sudah banyak terpapar budaya Tionghoa sejak kecil.

Orangtuanya selalu mengajaknya untuk menyaksikan barongsai saat perayaan Tahun Baru Imlek di Sydney dan Nick ingat saat dirinya berdiri di barisan penonton paling depan dengan membawa selada untuk diberikan pada si singa yang lapar. 

Untuk gelar sarjananya, Nick mengambil jurusan studi Indonesia dan memilih ilmu budaya Tionghoa sebagai studi utamanya. Menggabungkan pengetahuan di bangku kuliah dengan kecintaannya akan dunia kuliner, Nick telah menulis beberapa buku resep masakan Indonesia, yangmana salah satunya didedikasikan khusus untuk masakan Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa.

Menurut aku, orang Indonesia itu nggak tahu dulu itu seberapa banyak makanan yang dibawa oleh orang Chinese ke Indonesia, kayak bakso, tahu, kecap.

"Bakso itu sekarang jadi makanan Indo, tapi aslinya dari Selatan Cina," jelasnya.

Food blogger, Nick Molodysky (R)
Food blogger, Nick Molodysky (R) dan istrinya, Karina.
SBS Indonesian

Sementara Nick memiliki ketertarikan yang sangat tinggi akan budaya Tionghoa padahal tidak memiliki darah Tionghoa, hal yang sebaliknya terjadi pada sang istri.

Meski tumbuh dengan kentalnya pengaruh cap cay, fu yung hai dan mie goreng sebagai bagian dari menu keseharian keluarganya, Karina mengatakan bahwa keluarganya bukanlah keluarga Tionghoa yang "totok", istilah yang dipakai untuk keluarga tradisional Tionghoa yang masih mengikuti budaya dengan sangat patuh.  

Karina mengatakan bahkan Nick dan keluarganya "lebih Tionghoa" daripada keluarganya sendiri. Salah satunya, Karina merasa, adalah karena lebih sulit untuk mempraktekkan budaya Tionghoa di Indonesia dibandingkan dengan di Australia.

Di Sydney lebih bebas berekspresi. Mana boleh kalau jaman dulu di Jakarta, kota asalku. Di sini sangat di-embrace gitu, kalau di Indo lebih susah.

"Mungkin [karena] dulu di Indonesia ada sentimen negatif sama orang Chinese," ujarnya, menjelaskan bahwa di jaman Orde Baru ayahnya terpaksa harus mengubah nama China-nya menjadi nama yang "lebih terdengar" Indonesia.

"Di sini juga ada sih sentimen gitu, tapi pada umumnya positif banget. Jadi enak, di sini rame," tambah Karina, mengomentari tentang perayaan Imlek di Australia.

tiger
A lunar lantern designed by Sydney-based Chinese artist Chrissy Lau in 2012.
AAP Image/City Of Sydney,Chris Southwood
 

Menyebut keluarga kecilnya sebagai "88 persen Tionghoa" - angka 88 diyakini sebagai angka keberuntungan oleh kebanyakan orang Tionghoa - Karina mengatakan bahwa mereka melestarikan budaya Tionghoanya melalui hal-hal sederhana seperti menu masakan sehari-hari, masakan khusus saat ulang tahun, dan juga panggilan yang mereka gunakan di rumah.

"Zoe sekarang maunya dipanggil 'cece'," ujar Karina, merujuk pada panggilan untuk kakak perempuan dalam budaya Tionghoa.

Nick menambahkan sambil disambung tawa, "Jadi Hazel nggak tahu klo nama kakaknya sebenernya Zoe.”

Meski sekarang semakin sulit untuk dapat berkumoul bersama dengan keluarga besar Karina di Indonesia akibat pandemi, pasangan ini masih melakukan tradisi-tradisi Tahun Baru Imlek.

Termasuk ikut menyampaikan ucapan selamat tahun baru kepada orangtua dan saudara yang lebih tua dari Karina, serta memberikan ang pao - uang yang biasanya dimasukkan dalam amplop merah dan diberikan kepada saudara yang masih muda, belum bekerja atau belum menikah - yang kini sudah berubah ke dalam bentuk digital. 

Lalu bagaimana dengan budaya dari latar belakang Nick sendiri?

Pria asli Sydney yang bulan depan akan kembali ke bangku kuliah untuk mempelajari ilmu pengobatan tradisional China ini mengatakan bahwa ia merasa tidak memiliki kebudayaan yang jelas saat tumbuh besar. 

“Aku pribadi dari kecil, saking banyaknya keturunannya, sampai nggak ada budaya yang jelas gitu di rumah," ujarnya.

"Klo dari keluarga Karina, meski dia kurang sadar seberapa Chinese-nya, tapi mereka masih lumayan Chinese. Dan aku pinginnya itu nurun ke anak, jadi biar berbudaya gitu lho.

Mereka harus tahu kalau mereka orang Chinese.


Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.

Ikuti kami di Facebook dan jangan lewatkan podcast kami.

Coming up next

# TITLE RELEASED TIME MORE
'Melakukannya demi Anak-anak': Bagaimana Keluarga Australia yang Multikultural Ini Merayakan Tahun Baru Imlek 29/01/2022 22:53 ...
Warta Berita Radio SBS Program Bahasa Indonesia - 15 Mei 2022 15/05/2022 09:27 ...
Kekhawatiran terhadap pendanaan Program Bahasa Inggris Migran Dewasa 15/05/2022 06:24 ...
Aku tahu aku mengunci pintu itu dengan benar. Tapi mungkin aku akan memeriksanya lagi, sekali lagi 15/05/2022 12:49 ...
Selamat Bilqis Prasista tapi sekarang giliran kita. Hari Minggu ini akan menjadi hari yang menyenangkan bersama Persatuan Pemuda Indonesia Australia (AIYA) 15/05/2022 13:55 ...
Warta Berita Radio SBS Program Bahasa Indonesia - 13 Mei 2022 13/05/2022 09:48 ...
NAPLAN 2022 dimulai meskipun masih ada ketidaksukaan di kalangan pendidik 13/05/2022 06:26 ...
Pemilihan Federal 2022: Pemungutan suara dini telah dimulai 9 Mei 13/05/2022 04:32 ...
Pria dan wanita dapat menderita alopecia. Namun mengapa tampaknya hal itu lebih merusak bagi wanita? 13/05/2022 07:54 ...
Rencana pemekaran wilayah atau daerah Papua oleh pemerintah pusat di Jakarta mendatangkan polemik 13/05/2022 09:52 ...
View More