SBS Indonesian, pendengar, telah bergabung
kali ini bersama dengan teman baru saya
dari Melbourne, Ibu Helena
Anggraeni. Apa kabar?
Baik, terima kasih sudah boleh diganggu.
Ini saya teleponnya saat akhir pekan
pendengar karena Ibu Helena ini sibuk
sekali during the week saat Senin sampai
Jumat begitu ya karena Ibu guru yang
berdedikasi sekali. Ibu boleh perkenalkan
dulu profesinya dan juga mengajar di mana
Ibu?
Oh iya, jadi saya mengajar di SMU Dromana
College di
-Saya mengajar kelas 8, 9, 10, 11 dan 12.
-Untuk
-pelajaran?
-Bahasa Indonesia.
Right. Ibu, ini kalau belajar dari delapan
sampai dua belas, saya bertanya dulu,
kalau di Victoria itu apakah kelas tujuh
itu mereka harus pilih salah satu bahasa
-asing atau bagaimana?
-Ya, jadi kalau di Victoria wajib untuk
belajar bahasa. Di sekolah saya kebetulan
ada dua pilihan bahasa, bahasa Indonesia
dan bahasa Jepang. Jadi waktu mereka kelas
tujuh, mereka harus milih mau belajar
bahasa Indonesia atau belajar bahasa
Jepang. Lalu harus belajar bahasa itu
Lalu kelas sembilan dan seterusnya itu kan
penjurusan. Jadi mereka boleh milih mau
-belajar bahasa Indonesia atau tidak.
-Oke, kita bicara mungkin jumlah minat ini
berbeda-beda setiap tahun ya. Tapi kalau
rata-rata saja sepanjang
Ibu Helena mengajar di Dromana College,
which is sudah berapa tahun Ibu, kurang
Dua setengah tahun. Saya cukup baru di
Dromana College.
tahu Ibu berarti dari selama dua setengah
tahun ini jumlahnya rata-rata berapa Ibu?
-Berapa anak?
-Jumlah peminat belajar bahasa memang
selalu menurun ya karena murid-murid pada
waktu mereka kelas sembilan itu sudah
mulai berpikir, aku akan menjadi apa suatu
hari nanti, cita-citanya akan menjadi
apa. Jadi, mereka sudah memikir apakah
bahasa itu bisa membantu karir mereka.
Jadi, untuk gambaran saja di Dromana
College, itu ada tujuh kelas bahasa
Indonesia. Tujuh kali dua puluh lima murid
ya kurang lebih.
Lalu itu kelas sembilannya, tahun depan
kami ada tiga kelas bahasa Indonesia.
Kasarannya misalnya tiga dikali dua puluh
jumlahnya menurun ya dari tujuh kelas
sampai menurun jadi tiga kelas. Dan kelas
sepuluhnya, kebetulan tahun depan saya
punya empat belas murid.
Jadi cukup drastis ya penurunan dari tiga
kelas menjadi hanya empat belas murid.
Tetapi itu cukup normal Bu kalau di
Victoria ya setahu saya cuma Victoria.
Cukup normal menurunnya jumlah murid
seperti itu. Lalu kelas sebelas tahun
depan ada lima murid dan kelas dua belas
saya ada lima murid juga.
Hingga lulus begitu bisa dibilang lulus
adalah lima murid berbahasa Indonesia
Kalau dibilang lima, ini untuk Dromana
College begitu. Apakah setahu Ibu berarti
di sekolah-sekolah lain yang mungkin
menawarkan pelajaran bahasa Indonesia juga
ini hitungannya udah bagus atau ini
rata-rata sama atau
kurang sih gitu kalau Ibu melihat?
Kalau kita mau lihat presentase memang
kecil ya, tetapi cukup lumrah
di sekolah-sekolah lain juga kurang lebih
di bawah sepuluh. Kalau ada yang di atas
sepuluh, kita langsung tepuk tangan. Luar
biasa gitu. Seperti saya bilang tadi
mungkin karena kemungkinan pekerjaan,
lapangan pekerjaan suatu hari nanti,
minatnya juga mungkin berkurang. Dan
memang susah ya, belajar bahasa itu memang
susah, nggak untuk semua orang. Waktu
saya SMA dulu juga saya tidak memilih
kuliah IPA karena saya tidak tertarik
dalam bidang itu. Jadi, minat murid ya
terlihat sekali pada waktu kelas sepuluh,
sebelas pada
-waktu mereka pemilihan pelajaran.
-Mungkin juga pendengar, wah ini Dromana
College saya pernah dengar namanya begitu
kan beberapa kali muridnya ini
ada satu yang pernah saya interview, Wes
Fraser, kemudian juga salah satu juga yang
berbincang dengan SBS Indonesian pada
saat itu di acara musik, kemudian sangat
pandai begitu berbahasa Indonesia. Ibu,
sebenarnya anak-anak ini dari awalnya
memang sudah punya bibit kepandaian bicara
bahasa Indonesia atau gimana sih, Bu?
Lucu bu sebenarnya salah satu murid saya
kemarin itu--yang lancar ya yang kemarin
mengirim saya video dia waktu dia kelas
tujuh.
Ya ampun bahasanya berantakan sekali dan
dia berkata, "Wah, tidak mungkin saya akan
meneruskan bahasa Indonesia." Tetapi ya
seiring waktu, semakin belajar, semakin
jatuh cinta kepada kebudayaannya. Itu
awalnya memang budaya sih harusnya. Kalau
budayanya menarik, mereka tertarik akan
bahasanya. Jadi sekarang dia mau jadi
vlogger. Dia sekarang di Sulawesi, Bu. Di
Sulawesi, mau ke Toraja. Mau
nge-vlog, mau melihat-lihat Indonesia.
Tapi karena kepandaian bahasa Indonesianya
lancar sekali, dia pede, percaya diri
untuk pergi ke daerah yang cukup terpencil
ya, yang gak banyak bulenya. Karena
kebanyakan
murid yang sudah lulus lah atau
murid-murid yang belajar bahasa Indonesia
tuh ya ke Bali kan ya dengan keluarganya.
Tetapi ini tiga murid saya sekarang ada di
Sulawesi percaya diri. Mereka percaya
bahwa mereka akan aman, mereka bisa
berpetualang melihat keindahan budaya
Indonesia, alam Indonesia, dan mereka bisa
komunikasi dengan orang lokal.
Ada triknya tidak sih, Bu? Mengajar
anak-anak, remaja, ini kan sulit ya.
Maksudnya, adakah triknya tersendiri untuk
membuat belajar bahasa Indonesia ini
mungkin lebih mudah, lebih menyenangkan,
itu tergantung gurunya atau gimana sih,
-Bu?
-Oh, banyak Bu, banyak faktornya. Kalau
misalnya mau lihat dari teknis ya
misalnya, worksheets-nya yang kita berikan
ke mereka. Jangan terlalu
banyak pertanyaan dalam satu halaman
misalnya. Hal-hal kecil seperti itu. Jadi
cuman delapan pertanyaan. Kalau bisa hebat
kamu, luar biasa. Mereka senang, mereka
jadi merasa, oh aku bisa ini gitu. Kalau
dikasih worksheet pertanyaannya lima
belas, nggak bisa setengahnya, terus
mereka putus semangat. Hal-hal seperti
itu. Juga saya memutar banyak film,
video-video untuk membuat mereka tertarik,
mereka menonton film Ada Apa Dengan
Cinta, itu film paling bagus bahasanya ya.
Memang film lama sih tapi bahasanya
bagus. Lalu banyak sekarang reel-reel di
cukup menarik yang mereka bisa tonton
di sela-sela pelajaran. Dan memang harus
kreatif ya sebagai guru. Harus diajak
berbicara dalam bahasa Indonesia. Dibuat
sedekat mungkin dengan kehidupan mereka
sehari-hari
agar mereka bisa, apa, bisa mencari
hubungan yang realistis gitu
dengan bahasanya. Seperti kita dulu
belajar bahasa Inggris ya Bu, ya. Kita kan
selalu dikelilingi oleh bahasanya. Selalu
dikelilingi oleh musik dalam bahasa
Inggris. Film-film dalam bahasa Inggris.
Jadi kita mudah untuk kita belajar bahasa
Inggris. Sedangkan murid-murid ini tidak.
Jadi, kita harus, saya biasanya
mengelilingi mereka dengan bahasa, lewat
budaya dan lewat lagu-lagu, film, begitu.
Apakah itu memang terstruktur misalnya ada
di kurikulumnya begitu ya, panduannya
jelas, atau guru itu lebih baik
improvisasi begitu Ibu?
Kalau saya sendiri, kadang kalau ada reel
yang bagus saya putar saja di kelas. Tapi
satu reel dalam satu pelajaran jadi tidak
terlalu banyak. Kalau lagu itu saya
masukkan ke dalam latihan mendengarkan.
Waktu Ibu wawancara dengan Wes Fraser, dia
kan berkata salah satu hal yang paling
sulit itu adalah pada waktu latihan
Nah, saya kasih lagu, saya beri lagu,
terus liriknya saya hapus, beberapa lirik
saya hapus, lalu mereka harus mendengar,
lalu harus mengisi liriknya apa. Ya itu
salah satu cara untuk memasukkan materi
ini ke dalam kurikulum.
Juga kalau menonton film,
ada pertanyaan setelah itu. Karakter dalam
film Ada Apa Dengan Cinta seperti apa?
Siapa yang menurutmu yang paling dominan
misalnya? Lalu
buatlah ending yang baru gitu misalnya
dari film ini. Seperti itu bu, jadi banyak
-yang kreatif.
-Tadi juga menarik Bu Helena bilang membuat
bahasa ini dekat dengan si siswa begitu
ya di lingkungannya. Sedangkan kalau kita
bicara bahasa Indonesia itu kan yang dekat
dengan kita
sebenarnya nggak terlalu bahasa baku ya
Ibu karena banyak juga kita pakai bahasa
-nggak baku. Itu bagaimana Ibu?
-Susah ya. Jadi itulah makanya saya harus
mencari materi yang bahasanya bagus. Ada A
pa Dengan Cinta itu filmnya bahasanya
bagus sekali kecuali gue dan lo nya di
tengah-tengah itu. Dan saya ceritakan
kalau gue lo itu ya tolong dianggap kamu
dan saya atau kamu dan aku. Susah
mencari materi yang bahasanya baku. Dan
mereka berlibur ke Bali dengan keluarga,
orang-orang di sana berbahasanya bahasa
slang gitu ya. Betul. Dan murid-murid saya
waktu menjawab dalam bahasa baku
ditertawakan.
-Betul.
-Lalu mereka tanya, "Miss, kenapa mereka
menertawakan kami?". Saya berkata, "Oh,
karena bahasa kalian lebih bagus dari
bahasa mereka. Jangan khawatir mereka
mungkin juga terheran kok bisa bahasa
Indonesia," gitu. Dan ya hal-hal itulah
yang harus saya tekankan ke mereka.
tipsnya tidak sih untuk membuat bahasa
Indonesia itu menarik begitu atau semakin
menarik untuk anak muda sehingga
kemungkinan akhirnya lima mungkin di
tahun-tahun mendatang di kelas dua belas
itu akan bisa sepuluh, akan bisa lima
belas anak gitu Ibu.
seberapa gencarnya kita sebagai guru untuk
mempromosikan bahasa ini, tetap kalau
mereka tidak akan menggunakannya di masa
depan,
susah untuk mendorong mereka. Tapi menurut
saya sih kalau di universitas, tingkat
universitas itu lebih banyak universitas
yang menawarkan bahasa mungkin akan lebih
menarik tuh, soalnya kebanyakan yang
memilih bahasa Indonesia di kelas sebelas
itu memang mau meneruskan sampai
universitas. Jadi sebelas, dua belas kan
VCE kasarannya itu benar benar penjurusan
serius gitu. Kalau mereka akan meneruskan
ke universitas, mereka harus memikirkan
universitas mana yang ada kursus bahasa
Indonesianya. Jadi misalnya kembali lagi
seperti si Wes Fraser, dia ingin menjadi
seorang dokter. Di universitas pilihannya
ada jurusan bahasa Indonesia. Itu
beruntung sekali. Coba kalau ada
salah satu murid saya yang lain itu ingin
menjadi insinyur, tetapi di universitasnya
tidak ada pilihan bahasa Indonesia. Jadi
ya semuanya memang banyak faktornya Bu,
ya. Dan seperti Ibu tanyakan sebelumnya,
tips-tipsnya apa, ya kembali ke guru,
kembali ke kurikulum, kalau bisa
mengikutsertakan semua
film-film, hal-hal yang menarik bagi
mereka, yang, yang
lebih relevan ke kehidupan mereka
sehari-hari. Itu sih saran saya. Lebih
memperbanyak hal-hal seperti itu daripada
hanya duduk di kelas, menterjemahkan
kata-kata. Dan mungkin program PenPal Bu
kalau ada kesempatan bisa berhubungan
dengan sekolah-sekolah di Indonesia. Apa,
video chat dengan murid-murid di
END OF TRANSCRIPT