Striving for the world peace is the focus of Catholic Church in this year's Easter celebration. How does this manifest itself for the wider community?
We may not be able to influence the whole world, but the small things we do have an impact too.Fr Aloysius Lamere MSC
Fr Aloysius Lamere MSC is the Parish Priest of St Thomas The Apostle Church in Melbourne. He shared his unique experience as a priest originally from Indonesia serving the local community in Australia, especially given the strong secularisation of the country.
Father Alo — as he is usually refer to — also spoke to SBS Indonesian about the church's focus for Easter this year. He emphasised the importance of prayer and small actions we can take to promote peace around us.

"It's quite difficult for us to face the world at war like this," Father Alo said. "But we continue to raise our moral voice for world peace, through our prayers as one of the ways."
Listen to the full interview.
Bergabung bersama dengan kita pada saat ini ada Romo Aloysius Lamere MSC
-dari Melbourne. Apa kabar, Romo? -Baik, puji Tuhan. Baik, baik. Terima
-kasih. -Biasanya ketemu Romo Alo ini... Saya
panggilnya Romo Alo, Pendengar. Beberapa umat juga yang mengenal beliau atau
biasanya mengikuti misa beliau juga memanggilnya Romo Alo. Kalau di Melbourne,
dipanggilnya apa biasanya?
-Iya, Romo Alo juga. -Romo Alo juga.
Karena dulu sempat di Sydney bertugasnya, betul ya, Mo?
Iya, saya pernah tugas di Sydney, di Kensington.
Dan kemudian sekarang menjadi Pastor Paroki di St. Thomas the Apostle di
-Blackburn, Victoria, demikian? -Ya, di Blackburn, Victoria.
Dari tahun kapan, Romo, kalau ingat?
Saya masuk ke sini tahun 2021, pas COVID itu saya masuk ke sini.
Jadi sekarang tahun keenam saya di paroki ini.
Lebih lama mana kalau dibandingkan dengan pada saat di Kensington, di Sydney?
Oh, saya di Kensington delapan tahun. Ya,
sebenarnya
tiap periode kan tiga tahun.
Nah, saya enam tahun di sana, kemudian diperpanjang lagi
untuk periode ketiga, tapi periode kedua-- ketiga itu dua tahun saya sudah diminta
untuk pindah ke sini karena dibutuhkan di sini.
Apakah nanti ini juga akan ada periode ketiga untuk Romo di Blackburn?
Itu saya belum tahu. Kita masih, eh, lihat lagi, tapi yang pasti akhir tahun ini
periode kedua saya selesai di Blackburn dan nanti kita lihat lagi bagaimana
perkembangannya kemudian.
Right. Romo, ini kan saya mengganggu Romo untuk meminta, eh, waktunya ngobrol
tentang Paskah, tapi sebelum itu, Romo, karena
saya tertarik juga dengan, eh, Romo Alo yang seorang Indonesian, punya latar
belakang Indonesia begitu, tapi menjadi Pastor Paroki gereja lokal di Australia
begitu ya, Romo. Ini ada tantangan tersendiri tidak sih, Mo?
Ya tentu saja ada tantangannya karena kita dibesarkan dalam kebudayaan yang berbeda
dengan kebudayaan di Australi.
Apalagi kita di Indonesia itu stra-- secara tradisional,
gereja itu, eh, bertumbuh dengan sangat bagus.
Eh, biarpun kita minoritas di Indonesia, tetapi kita itu bertumbuh dengan sangat
bagus. Kalau di Australi tantangannya berbeda lagi. Tantangannya itu
sekularisasi yang begitu kuat di Australi sebenarnya. Kebudayaan, tapi untunglah
bahwa dulu saya bekerja dengan para pastor Australi di Pasifik, di Kiribati maupun
di Fiji, sehingga saya terbiasa dengan cara kerja mereka, sehingga untuk
penyesuaian budaya saya tidak mengalami banyak kesulitan, tetapi penyesuaian
dengan itu,
eh, kebudayaan baru dalam arti, apa namanya, sekularisasi itu begitu kuat yang
kita perlu untuk humble, tapi juga we need to be strong gitu loh.
Suka sebal gemas mungkin dari yang sederhana saja, seperti misalnya cara
berpakaian ke gereja mungkin atau cara mereka ikut bernyanyi atau enggak ikut
bernyanyi begitu?
Ya, secara partisipasi orang Indonesia begitu aktif berpartisipasi dalam gereja.
Maka pengalaman saya di Sydney waktu itu,
eh, punya, eh, empat puluh persen orang Indonesia di paroki itu sangat bagus
karena gereja aktif, gereja hidup. Tetapi orang, eh, sini juga, orang lokal juga
hidup dalam, eh, kre-- eh, punya sumbangan yang lain bagi gereja. Mereka mungkin
tidak secara aktif itu, eh, di dalam bidang liturgi, tetapi mereka aktif dalam
hal sosial, kemasyarakatan, dan kita perlu balance antara dua ini, kehidupan liturgi
maupun kehidupan sosial. Dan orang Australi sangat, sangat baik dalam hal
kehidupan sosial, charitable work, charity itu mereka sangat kuat. Jadi kita
-balance-nya bagus. -Right. Dan kalau untuk paroki yang
sekarang, Romo, apakah juga banyak, eh, mereka warga atau umatnya yang berlatar
-belakang Asia mungkin? -Eh, tidak di sini. Di Melbourne, di
Blackburn di mana saya, eh, sebagai Pastor Paroki ini sembilan puluh lima persen itu
orang lokal, orang, eh, Australi.
Untunglah bahwa saya tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan
mereka.
Eh, tetapi mereka itu, eh, tinggal di sini sudah puluhan tahun, sehingga jadi
ownership, eh, terhadap gereja itu begitu kuat, sehingga mereka merasa memiliki,
sehingga, eh, tidak ada kesulitan banyak ketika mereka diminta untuk
berpartisipasi, karena mereka me-merasa memiliki paroki ini, sehingga
-partisipasinya sangat bagus juga. -Kita beralih ke tema Paskah, Romo. Ini
apakah dari Gereja Katolik sendiri ada pesan Paskah khusus begitu untuk tahun
2026 ini, Romo?
Iya, khusus Paskah tahun ini karena kita melihat keadaan dunia yang kurang baik,
jadi fokus kita itu pada perdamaian dunia.
Jadi kita dalam doa-doa kita, persiapan kita untuk masa, eh, Paskah ini, menyambut
Paskah, kita fokus berdoa untuk perdamaian dunia.
Dan kemarin kita,
eh, ada Lenten Lecture atau seminar tentang public theology. Kita
berbicara mengenai bagaimana kita itu mempengaruhi dunia dengan, dengan iman
kita.
Ya, salah satunya dengan doa. Memang
agak sulit juga untuk kita menghadapi keadaan dunia yang perang seperti ini,
tapi kita terus-menerus menyuarakan suara moral untuk perdamaian dunia, salah
satunya dengan doa kita.
Pesan yang baik, Romo. Tapi kalau dari sisi umat begitu ya, masyarakat, agak
sulit mungkin. Maksudnya ketika kita menggembar-gemborkan tentang perdamaian,
kita berdamai dengan tetangga kita begitu ya, tapi kemudian secara negara misalnya
bertengkar dengan tetangganya jauh begitu ya misalnya, itu
kemudian signifikansinya apa? Ngapain saya melakukan perdamaian ini gitu, gimana
Romo?
Kita mulai dari hal-hal kecil. Memang tidak gampang bahwa kita itu mempengaruhi
dunia dengan,
eh, pengaruh yang besar, tetapi pengaruh kecil itu akan bermanfaat juga untuk
orang-orang kita untuk bersuaraKita tidak bisa mempengaruhi seluruh dunia, tapi
pengaruh kita dalam kehidupan sosial kita
itu sedikit banyak, eh, menyuarakan ke-- suara kenabian ke dalam dunia itu. Karena
Yesus mengatakan bahwa biji yang jatuh di tanah tidak mati maka tinggal sebiji saja.
Jadi biji yang kecil bisa menghasilkan buah kalau kita mau untuk rela untuk
menyewa-- nyuarakan itu biarpun mungkin tidak didengar begitu banyak orang.
Pertama kita berdoa, yang kedua itu bagaimana kita hidup dengan berdamai
dengan orang lain di sekitar kita. Rasism harus ditinggalkan, lalu kemudian
diskriminasi harus ditinggalkan,
eh, eh, promoting peace dalam kehidupan, eh, berbangsa kita di sini. Tetapi juga
saya punya umat yang, yang secara vokal dan secara rutin mengirim, apa namanya,
surat, surat ke parlemen,
oh, untuk menyuarakan tentang kedamaian ini dan banyak yang sangat vokal untuk,
eh, mengirim surat ke Perdana Menteri untuk menyuarakan tentang perdamaian ini.
Saya enggak tahu apakah itu Perdana Menterinya act on it or not, tapi bahwa
kita punya orang-orang yang berani untuk mengirim surat untuk menyuarakan
-perdamaian itu ada, gitu. -Dan kalau di Katolik kan juga ada misalnya
pemahaman semacam kalau ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan gitu ya atau
sebaliknya misalnya Romo. Maaf kalau saya salah meng-quote-nya. Tapi, em, apakah
dengan hal-hal semacam ini membuat kita itu lebih pasif begitu, Romo?
Eh, kalau bilang pasif juga tidak, karena kita a-aktif untuk berdoa. Kita aktif juga
untuk menciptakan keadaan aman di masyarakat kita. Kita aktif, aktif juga
menyuarakan perdamaian dengan cara kita yang paling sederhana dengan mengirim
surat kepada itu parlemen. Itu sebenarnya hal yang kita tidak dipandang, banyak
orang tidak memandang itu, tapi cukup mempengaruhi karena mereka yang di
parlemen itu ada ketakutan juga kalau mereka tidak menyuarakan itu, maka
posisinya terancam juga ketika ada pemilihan. Memang kita bukan untuk
mengancam mereka dengan itu, tapi kita secara moral mau menyuarakan itu. Kita
memang tidak bisa mempengaruhi seluruh dunia, tetapi hal kecil yang kita lakukan
punya dampak juga.
Romo mungkin bisa sampaikan selamat Paskah atau pesan Paskahnya kepada para
pendengar SBS Indonesian yang saat ini juga bergabung dengan kita. Boleh, Romo?
Oke, dari Down Under atau di Australia, saya mengucapkan selamat Paskah kepada
para pendengar
dan semoga Paskah tahun ini sebagaimana Yesus mencurahkan hatinya untuk
keselamatan dunia, kita juga berusaha untuk sama seperti Yesus memberikan diri
untuk membangun perdamaian dunia. Dengan cara kita yang kecil, kita bisa
mempengaruhi dunia.
Eh, ada pepatah dari China itu, eh, seribu langkah perlu dimulai dengan langkah
pertama. Tanpa langkah pertama, seribu langkah tidak pernah akan terjadi. Selamat
Paskah.
Romo Aloysius Lamere MSC, terima kasih sudah bergabung bersama SBS Indonesian.
Terima kasih.





