Helena Anggraeni, pendengar, adalah
seorang guru bahasa Indonesia di Dromana
Secondary College di Victoria. Beberapa
saat lalu, SBS Indonesian berbincang
dengan beliau mengenai bagaimana
pembelajaran bahasa Indonesia bisa dibuat
sedekat mungkin dengan para murid di
Australia. Telah menjadi pendidik bahasa
Indonesia di Victoria sejak tahun 2008, p
ada tahun ini Ibu Helena Anggraini
menerima penghargaan dari pemerintah
Australia. Beliau membagikan ceritanya
kepada SBS Indonesian berikut ini.
Ya. Dengar-dengar baru balik dari Canberra
ada acara apa?
Jadi saya baru saja menerima penghargaan
dari Australian Indonesian Institute
Excellence Teaching Award, ya. Jadi, uh,
ya sangat tersentuh untuk mendapat
penghargaan ini. Prosesnya itu adalah saya
dinominasikan oleh seorang, uh, teman
kerja, ya. Lalu teman kerja saya juga
harus mengikutsertakan referensi. Nah, dia
memutuskan untuk minta murid-murid saya
kelas dua belas itu untuk menulis
dari apa yang mereka tulis dengan semua
yang mereka tulis tentang saya dan tentang
apa yang saya sudah capai
dalam hal mengajar ya. Itu saya dipilih
untuk menjadi salah satu dari pemenang di
Australia untuk guru tahun 2025 ini. Jadi,
ya, saya baru diberitahu tiga
minggu sebelumnya. Lalu, ya, terkejut
sekali.
Tapi kalau Bu Helena bisa mengira-ira
sendiri, kira-kira apa nih yang membuat
-nilai tambah, begitu?
-Emm, mungkin
konsistensi dalam menyampaikan pelajaran
dengan cara berbeda ya.
Karena saya juga banyak melibatkan
murid-murid ke acara di luar sekolah,
misalnya lewat musik, lewat
ikut acara model UN Indonesia dalam bahasa
Indonesia,
Excursion, juga saya sering apply grant
ya. Grant itu kayak uang dari pemerintah
untuk, eh, membantu sekolah-sekolah di
sekitar sekolah saya.
sepertinya yang di luar, eh, pengajar
umumnya. Jadi yang ekstra ya.
Kegiatan ekstra yang saya lakukan di luar
mengajar di sekolah.
Iya dan ketika mengetahui bahwa ibu yang
terpilih untuk mendapatkan penghargaan ini
tahun ini, Ibu sendiri bagaimana kemudian
juga anak didik, sekolah, kolega,
-bagaimana Ibu?
-Oh saya nangis Bu.
Tidak ini ya, tidak disangka ya. Saya tahu
sih saya jauh dari sempurna. Banyak
orang, banyak guru-guru yang lebih hebat
daripada saya. Cuman hanya saja kalau
diakui, ya, di-dia, we being acknowledge,
we being recognized, that's a really
Saya belum cerita ke murid-murid sih, malu
juga Bu ya. Cuma yang murid dua yang
menominasi, menominasi saya
-langsung saya telepon, saya kabarin.
-Oke, ini sekolah berarti belum tahu
-maksudnya Ibu?
-Murid-murid belum tahu, sekolah sudah
-tahu, guru-guru sudah tahu.
-Oke dan karena momennya juga ini kan di
-akhir tahun ajaran begitu ya, ini-
-Betul.
Kapan nih berarti Bu Helena akan memberi
tahu yang rekan-rekan kelas dua belas
-misalnya?
-Oh, oh kelas, eh, kelas dua belas, mungkin
Saya, saya nggak mau, saya apa, orang
Jawa, Bu, ya. Saya tidak mau heboh gitu
memberitahu ke semua orang saya menang
ini, gitu. Saya tunggu saja.
Maaf, berarti si dua murid ini yang
menuliskan referensinya atau mungkin dalam
-video, Ibu. Ini tulisan apa video?
-Tulisan. Itu si Finn Collins dan Wes
-Fraser.
-Kalau boleh ada bocorannya begitu, dari
yang mereka tuliskan, yang jadi highlight
atau jadi sorotan mereka dari sisi
-kacamata murid ya, Bu. Itu apa sih, Bu?
-Iya. Bu, sejujurnya saya belum baca, Bu.
Saya takut nangis. Saya cerita ke, ke
mereka waktu saya telepon saya dapat
penghargaannya. Mereka berkata, "Oh
berarti Ibu sudah baca referensi kami."
Saya berkata, "Belum." "Kenapa?" "Karena
saya takut menangis nanti kalau membaca."
Lalu mereka berkata, "Ya sudah jangan
dibaca Bu, pasti menangis nanti," dia
-bilang.
-Berarti sampai setelah menerima
-penghargaannya pun belum dibaca?
-Belum.
Bu Helena nanti kalau sudah tahu apa
isinya, boleh berbagi dengan SBS
-Indonesian mungkin ya? [tertawa]
-Iya.
Pekerjaan guru ini kan, em, ada hal-hal
lain tentu di balik
nilai materi mungkin atau pengakuan dari
murid. Tapi kemudian ada pihak lain lagi
lebih mengakuinya begitu. Untuk ibu
sendiri, memaknainya apa atau, wah,
-berarti harus apa lagi nih, begitu?
-Mm, I don't think I can top this. Gak ada
lagi yang bisa, maksudnya saya sudah
senang sekali gitu loh. Jadi ke depannya
mungkin saya tetap berusaha melakukan apa
yang saya biasa lakukan. Tidak akan
berhenti, tetapi ya luar biasa itu
kenang-kenangan yang luar biasa dan
piagamnya besar dan berat sekali. Hampir
disita di airport kemarin, Bu. Karena
berat sekali. Mereka tanya, "Ini apa?"
Saya berkata, "Ini baru dapat tadi pagi,
Pak." Saya berkata, lalu dibaca. "Oh iya
hebat, hebat. Terima kasih, selamat." Dia
Ibu, apakah menjadi orang asli Indonesia
ini memiliki keuntungan tersendiri ketika
mengajarkan bahasa Indonesia kepada para
murid berbahasa Inggris?
Hm, pendekatannya berbeda sekali, Bu.
Jadi, saya punya seorang colleague, ya,
kolega, namanya Jane Gibson. Dia adalah
salah satu guru senior dan Bu, saya tidak
pernah bertemu dengan orang, orang bukan
native Indonesia yang tahu bahasa
Indonesia lebih baik daripada saya. Karena
Bu, dia itu belajar bahasa Indonesia
sebagai second language. Jadi dia tahu
cara mengajar ke murid-murid yang tidak
berbahasa Indonesia sejak lahir. Jadi cara
dia mengajar itu luar biasa, hebat
sekali. Sedangkan saya terkadang saya
tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Misalnya murid bertanya, akhiran "me-kan",
memperkenalkan, dan "me-i", memperkenali,
bagaimana? Bedanya apa, Bu? Saya kadang
bingung menjelaskannya. Lalu saya lihat
Ibu Jane Gibson, dia tertawa. Begini, lalu
dia menjelaskan, Bu, dengan luwesnya,
dengan luar biasanya. Itu pendekatannya
beda, Bu. Jadi ada untungnya belajar
bahasa Indonesia dari orang asli, tetapi
banyak juga keuntungan belajar bahasa
Indonesia dari orang asing karena mereka
tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan
logika mereka. Kekurangannya kita sebagai
native kita kurang tahu, uh, strukturnya
bagaimana cara mengajarkannya.
END OF TRANSCRIPT