Hampir satu dari empat orang Australia telah mengalami diskriminasi besar-besaran, mulai dari diabaikan untuk pekerjaan hingga ditolak saat meminjam ke bank.
Itulah masukan yang mengejutkan dari 6.000 warga Australia yang disurvei tentang sikap mereka terhadap inklusi sosial.
Dipanggil dengan nama tertentu dan kurang dihormati terjadi pada seperempat warga Australia setidaknya setiap minggu, menurut laporan yang dirilis pada hari Senin oleh para peneliti di BehaviourWorks Australia, yang merupakan bagian dari Monash Sustainable Development Institute di Monash University.
Mereka yang merupakan minoritas dalam segi agama dan ras, serta penduduk asli Aborijin dan Kepulauan Selat Torres menjadi yang paling mungkin mengalami diskriminasi.
Namun sepertiga dari warga Australia yang disurvei bersedia menjadi sukarelawan untuk membantu kelompok-kelompok yang kurang beruntung dan minoritas, sementara setengahnya akan melakukan campur tangan untuk menghentikan diskriminasi ketika mereka melihatnya.
Indeks ini memiliki nilai tertinggi 100 dari lima ukuran kunci, dimana Australia mencapai nilai total 62.
Indeks inklusi sosial ini merupakan yang pertama di negara ini.
Profesor Liam Smith dari BehaviourWorks Australia mengatakan mereka mengukur "sikap dan perilaku yang tertanam" terhadap orang-orang dari latar belakang, pandangan dan keadaan yang berbeda.
Rekan peneliti Nick Faulkner mengatakan temuan itu mengungkapkan bahwa negara memiliki tantangan besar yang perlu diatasi guna memastikan semua warga Australia merasa menjadi bagian.
"Mengurangi prasangka, menciptakan lebih banyak peluang untuk kontak dan persahabatan antar kelompok, serta membangun rasa kesejahteraan dari kelompok-kelompok minoritas adalah beberapa tantangan yang perlu kita tangani," kata Dr. Faulkner.
"Dengan diskriminasi yang dikaitkan dengan berkurangnya kesehatan dan kesejahteraan, dan merusak sejauh mana orang merasa menjadi bagian dari komunitas Australia, maka penting agar inisiatif-inisiatif dikembangkan guna memajukan inklusi sosial di Australia."
Laporan ini mengacu pada tiga gelombang data survei yang dikumpulkan antara tahun 2017 dan 2018.
