Polisi Federal Australia (AFP) menyita dua properti hunian di Sydney, bernilai lebih dari $3,8 juta dolar, sebagai bagian dari operasi perdagangan manusia.
Properti tersebut diduga tempat korban, seorang perempuan warga negara Indonesia, ditahan dan menjalani kerja paksa selama hampir enam tahun.
Tiga orang ditangkap di pinggiran kota Sydney di Eastlakes pada 2 Desember 2019, setelah penyelidikan polisi selama setahun, dengan nama sandi Operasi Falchion.
Polisi menduga pria dan dua wanita tersebut menggunakan korban yang berusia 26 tahun sebagai pembantu di kediaman mereka di Sydney mulai Juli 2014.
Sejak Agustus 2014, korban pelanggar hukum yang yang bukan warga negara, selama berada di Australia, tidak diizinkan memegang paspornya atau diizinkan untuk pulang.
Lebih lanjut diduga selain dipaksa melakukan jam kerja yang signifikan setiap hari, korban tidak pernah dibayar selama masa kerja paksa.
Pada 22 Maret, AFP melalui Satuan Tugas Penyitaan Aset Kriminal (CACT), mendapat perintah penahanan atas dua hunian di pinggiran Sydney Eastlakes dan Mascot, sebagai properti yang diduga dimana pelanggaran terjadi.

More than 40 million people are held in modern slavery, which includes forced labour and forced marriage. Source: EyeEm
Manajer Litigasi Aset Kriminal Nasional AFP, Stefan Jerga, mengatakan perdagangan manusia adalah kejahatan yang mengerikan dan AFP akan menggunakan semua kemampuan yang tersedia untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku.
"Mandat CACT adalah untuk merampas hasil dan keuntungan dari kejahatan mereka, tetapi juga untuk menyita instrumen kejahatan, yang menjadi properti yang digunakan sehubungan dengan tindakan pelanggaran mereka," kata Jerga.
"Tuduhan dalam kasus ini mewakili contoh seseorang yang dibawa ke Australia tanpa persetujuan mereka dan dipaksa untuk tinggal dan bekerja dalam kondisi yang menurut warga Australia tercela."
“Hari ini kami dapat menunjukkan - jika Anda melakukan kejahatan seperti ini - Anda tidak hanya berisiko masuk penjara, tetapi AFP dan mitranya juga akan menargetkan aset Anda untuk disita.”
Ketiga tersangka yaitu, seorang wanita berusia 40 tahun, seorang wanita 36 tahun dan seorang pria 35 tahun, masih akan menghadapi pengadilan dengan dua tuduhan.
Mereka selanjutnya dijadwalkan akan menghadapi Pengadilan Distrik New South Wales pada 17 September 2021.
CACT yang dipimpin AFP secara resmi dimulai pada tahun 2011 sebagai bagian dari tindakan keras multi-lembaga terhadap aset kriminal, menyatukan sumber daya dan keahlian AFP, Komisi Intelijen Kriminal Australia, Kantor Perpajakan Australia, Pusat Laporan dan Analisis Transaksi Australia, dan Pasukan Perbatasan Australia.
Secara bersama, lembaga-lembaga ini melacak, menahan, dan menyita aset kriminal.
Asisten Komisaris Lesa Gale, pimpinan komando Perdagangan Manusia AFP, mengatakan kasus ini menyoroti tren yang berkembang dalam jumlah perdagangan manusia dan pelanggaran perbudakan di seluruh Australia dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah kejahatan yang sering tidak terlihat di masyarakat Australia. Kami mendesak semua warga Australia untuk 'melihat lebih dalam' apa yang mungkin terjadi di sekitar Anda, di lingkungan Anda sendiri, dan di halaman belakang Anda sendiri,” katanya.
Menghentikan Perdagangan Manusia dan perbudakan modern adalah tanggung jawab semua orang.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal di komunitas Anda adalah korban perdagangan manusia atau perbudakan, harap hubungi AFP di 131AFP (131237) atau email NOSSC-Client-Liaison@afp.gov.au
Share
