Sebagai sebuah negara, Australia tidak pernah tampil lebih 'beruntung'. Kekayaan kolektif kita berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dengan saham kolektif kita sekarang bernilai $ 826 miliar dan lebih dari $ 1 triliun uang tunai.
"Kami baru-baru ini mengetahui bahwa Australia telah mengungguli ekonomi OECD lainnya dengan mencapai 25 tahun pertumbuhan ekonomi positif," tulis Profesor Peter Saunders dari Pusat Penelitian Kebijakan Sosial, UNSW dalam laporannya Poverty in Australia 2016.
"Itu adalah prestasi yang hebat dan yang merupakan sumber kebanggaan kolektif.
"Artinya seseorang yang lahir pada tahun 1991 sekarang hidupp di negara di mana pendapatan rumah tangga yang dapat dibelanjakan mencapai sekitar dua kali lipat ketika mereka lahir, bahkan setelah memperhitungkan kenaikan harga dan pertumbuhan penduduk."
Jadi apakah ini berarti bahwa Australia masih merupakan 'negara beruntung' atau haruskah kita meninggalkan kepercayaan kita terhadap label tersebut?
Profesor Saunders menyatakan bahwa meskipun "ekonomi telah tumbuh secara substansial selama periode ini", namun banyak warga Australia yang tidak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut.
Sekitar 3 juta orang yang tinggal di Australia diperkirakan hidup di bawah garis kemiskinan. Kelompok ini sering menghadapi kenaikan biaya hidup, pertumbuhan upah yang lamban atau stagnan dan tingkat lapangan kerja yang semakin menantang.
Chief Executive The Smith Family, Dr Lisa O'Brien, mengatakan kepada SBS bahwa meskipun banyak orang Australia diberi kesempatan yang sejalan dengan keberuntungan sebuah negara maju seperti Australia, namun banyak orang lain yang kehilangannya.
"Saya pikir dalam banyak hal, kita masih merupakan negara yang beruntung, tapi kita memiliki sejumlah besar anak muda yang tumbuh dalam kemiskinan dan bagi mereka, dunia tidak terasa begitu cerah," kata Dr O'Brien. "Kita semua harus bertanggung jawab akan hal itu."
Dr Cassandra Goldie, kepala eksekutif Australian Council of Social Services (ACOSS) menambahkan bahwa kemiskinan biasanya bukan akibat kegagalan pribadi melainkan hasil dari kegagalan oleh pemerintah, bisnis dan masyarakat.
"Kemiskinan adalah pilihan yang kami buat sebagai sebuah masyarakat, seperti upah rendah dan stagnan, pekerjaan yang tidak aman, berkurangnya kesempatan pendidikan, perumahan yang tidak terjangkau, dan pembayaran jaminan sosial jauh di bawah garis kemiskinan," Dr. Goldie mengatakan kepada SBS melalui email.
Bagaimana kita mendefinisikan kemiskinan?
Meskipun istilah 'garis kemiskinan' dibahas secara luas dalam kaitannya dengan kerugian sosial, Australia tidak memiliki satu definisi resmi tentang apa itu garis kemiskinan.
Sebuah pengukuran yang digunakan dalam laporan Kemiskinan di Australia 2016 adalah '50 persen pendapatan rata-rata '.
Data ini mengelompokkan pendapatan gabungan rumah tangga di bawah setengah dari pendapatan rata-rata semua rumah tangga di Australia adalah berada di bawah 'garis kemiskinan'. Perkiraan pendapatan itu tidak termasuk biaya perumahan.
Pengukuran tersebut mengelompokkan rumah tangga menjadi empat jenis - orang dewasa tunggal, pasangan tanpa anak, orang tua tunggal dan pasangan dengan dua anak.
Menurut definisi ini, garis kemiskinan (50 persen dari pendapatan rata-rata) untuk orang dewasa tunggal adalah $ 426,30 seminggu pada tahun 2014. Untuk pasangan dengan dua anak, itu adalah $ 895,22 seminggu.
"Hampir 731.300 orang anak-anak tinggal di keluarga-keluarga di bawah garis kemiskinan setelah memperhitungkan biaya perumahan dan banyak di antara merkea tidak dapat menanggung kebutuhan, terkucilkan dan kesempatan terbatas yang tidak terpenuhi dalam masa muda dan dewasa mereka," laporan tersebut menyatakan.
Tingkat kemiskinan etelah memasukkan biaya perumahan di Australia pada 2013-14 mencapai 13,3 persen.
Terlepas dari kinerja ekonomi kami yang kuat, tingkat kemiskinan di Australia pada 2014 berada di peringkat 14 tertinggi dari 36 negara OECD. Kami berada pada posisi yang lebih baik daripada Amerika Serikat, yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi kedua di grup ini pada 17,5 persen tapi lebih buruk dari Denmark, yang mencatat tingkat kemiskinan terendah kedua di 5,4 persen.
"Fakta menunjukkan bahwa ada enam negara dengan tingkat kemiskinan delapan persen atau kurang menunjukkan adanya kemungkinan untuk membuat jalan masuk yang substansial, bahkan di negara-negara yang secara konsisten dengan perkembangan ekonominya," Profesor Saunders menulis dalam laporan tersebut.
Chief executive of The Smith Family, Dr Lisa O’Brien menekankan bahwa kemiskinan dapat terjadi pada siapa saja: "tidak butuh banyak bagi roda untuk jatuh".
"Kemiskinan dapat disebabkan oleh berbagai alasan, entah itu penyakit serius, kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan mental atau kecacatan yang membuatnya sulit untuk bekerja," kata Dr O'Brien. "itu adalah keadaan yang akan sangat mempersulit keluarga dan orang tua tunggal, dan menempatkan mereka di b awah tekanan yang luar biasa.
"Penting untuk diingat bahwa kadang-kadang [kemiskinan atau kerugian] hanya bisa menjadi masalah keberuntungan atau keadaan."
Jika artikel ini mengangkat masalah bagi Anda atau seseorang yang Anda kenal dan membutuhkan dukungan, hubungi Lifeline di 13 11 14.
