Apakah Anda Membayar Seseorang untuk Mengerjakan Ujian atau Esai Perkuliahan?

Mereka yang menipu atau curang di universitas di Australia dapat dihadapkan dengan hingga 210.000 dolar atau dua tahun penjara, berdasarkan usulan undang-undang baru yang ketat.

College student using laptop on floor

Are you paying someone to write your university exam or essay? Source: Getty Images/Hero Images

Investigasi yang dilakukan oleh SBS Punjabi telah mengungkapkan betapa mudah dan cepatnya untuk membeli tugas akademik secara online yang dapat tidak terdeteksi oleh para profesor universitas dan juga perangkat lunak plagiarisme berteknologi tinggi.

Pencarian internet sederhana untuk 'write my assignment' memunculkan hasil yang tak terhitung jumlahnya, yang mengarah ke situs web penyedia layanan 'contract cheating', menawarkan esai 'bebas plagiarisme' dengan imbalan biaya dengan 'kerahasiaan yang terjamin.'

Beberapa iklannya dirancang untuk memikat para pelajar asal India di universitas-universitas Australia yang bergulat dengan 'Bahasa Inggris’, 'mata kuliah yang menakutkan’ dan ‘lingkungan asing’.

Obrolan online dengan salah satu penyedia layanan tersebut mengungkapkan bahwa biaya layanan bervariasi sesuai dengan gelar dan subjek pelajaran, jumlah kata yang digunakan, batas waktu pengumpulan tugas dan standar bahasa Inggris yang diharapkan dari mahasiswa tersebut.

Beberapa penyedia layanan ini bahkan mengijinkan klien mereka untuk menawar para penulis dan memilih paket yang sesuai yang berkisar dari 'Premium' hingga 'Platinum' tergantung pada seberapa banyak mereka siap untuk membayar.

contract cheating
Snapshot of SBS Punjabi's chat with a 'cheating' service provider. Source: SBS

Sebagai contoh, esai empat halaman terkait hukum privasi Australia untuk program sarjana akan berkiar di harga antara 150 hingga 200 dolar, menurut salah satu penyedia layanan itu.

contract cheating
Snapshot of a sample 'order summary' for an essay. Source: SBS

Penanganan keras atas kecurangan di universitas

Namun kini situasinya memanas untuk layanan penulisan semacam ini.

Menteri Pendidikan Dan Tehan baru-baru ini mengumumkan bahwa pemerintah telah menyusun undang-undang baru yang menarget penipuan semacam ini, dengan mengatakan bahwa orang atau layanan yang dibayar untuk mengerjakan ujian atau menulis esai untuk mahasiswa akan menghadapi hukuman penjara hingga dua tahun serta denda hingga 210.000 dolar.

"Jika Anda menulis esai universitas milik orang lain, itu adalah tindakan yang curang, dan Anda menipu siswa lainnya yang bekerja keras dan juga merusak sistem pendidikan kita yang berkelas dunia," ujar Mr Tehan pada bulan April.

"Kami akan membuat penipuan berkontrak ini sebagai tindakan kejahatan, mengirim pesan yang sangat jelas bahwa para penipu tidak berhasil di bawah Pemerintah Morrison."

Penting untuk dicatat bahwa reformasi yang diusulkan ini hanya akan menghukum mereka yang menyediakan layanan, dan bukan mahasiswa yang tertangkap menggunakan layanan tersebut.

langkah tegas pemerintah ini kemudian memunculkan pertanyaan: Seberapa besarkah masalah kecurangan?

Sebuah survei baru-baru ini, yang dilakukan oleh University of South Australia mengungkap bahwa siswa internasional lebih cenderung menggunakan layanan ini.

Studi ini mendapati bahwa enam persen siswa terlibat dalam beberapa bentuk kecurangan - mulai dari berbagi catatan dan tugas hingga membayar esai atau orang lain untuk mengerjakan ujian.

Shivi Bhalla, yang menjalankan English Wise, sebuah lembaga bahasa untuk siswa internasional di Sydney, mengatakan kepada SBS Punjabi bahwa siswa internasional, terutama dari India, secara proporsional menunjukkan perilaku curang yang lebih tinggi karena mereka memiliki prioritas yang berbeda.

“Jika Anda melihat gambaran yang lebih besar, sebagian besar siswa India datang ke Australia lebih karena untuk mendapatkan status penduduk tetap daripada memperoleh gelar,” kata Bhalla.

“Dan kedua, pendidikan universitas di Australia sangat mahal sehingga sebagian besar waktu mereka digunakan untuk mengumpulkan cukup uang untuk membayar semester mereka berikutnya. Jadi di mana waktu untuk menyelesaikan tugas atau mempersiapkan ujian,” ungkapnya.

Masalah mendasar lainnya adalah tantangan bahasa, tambah Bhalla.

“50 hingga 60 persen siswa yang datang kepada kami tidak fasih berbahasa Inggris dan seringkali memiliki keterampilan menulis yang kurang. Dan para siswa lainnya yang dapat menulis dengan baik seringkali tidak menyadari gaya penulisan atau standar tugas yang dapat diterima di universitas-universitas Australia.”

Jack Goodman, seorang pakar pendidikan dan pendiri Studiosity, sebuah kelompok pendukung studi online, merasa bahwa tidak mengherankan jika siswa internasional yang bekerja di lingkungan bahasa yang kurang akrab beralih ke layanan semacam ini dengan biaya yang lebih tinggi.

"Tetapi penting untuk memahami mengapa mereka memilih untuk curang atau menjiplak," kata Mr Goodman.

“Siswa internasional jauh lebih kecil kemungkinannya untuk angkat tangan saat perkuliahan dan mencari bantuan. Jadi universitas perlu proaktif dan harus menawarkan layanan dukungan gratis dan terakreditasi di universitas itu sendiri bagi siswa yang kesulitan untuk mengatasi masalah sejak awal. "

Akankah langkah hukuman akan menyelesaikan masalah?

“Sangatlah penting untuk mengirim sinyal kuat kepada para siswa dan layanan ini. Tetapi paling jauh, reformasi ini akan membuat layanan tersebut ilegal, tetapi mungkin tidak akan menuntut mereka karena mereka memiliki begitu banyak URL dan tempat persembunyian serta beberapa diantaranya berbasis di luar negeri,” kata Mr Goodman.

“Pada saat yang sama, akan sangat mengerikan jika universitas melihat pengesahan undang-undang tersebut sebagai alasan bagi mereka untuk berhenti berinvestasi dalam pemberian layanan dukungan kepada para mahasiswanya. Jadi kita harus berhati-hati akan siapa yang menjadi target dan bagaimana.”


Share

4 min read

Published

Updated

Source: SBS Punjabi




Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now