Simulasi penerbangan kembali dilakukan untuk menguji situasi krisis yang serupa dengan yang diduga oleh penyelidik dalam kecelakaan Lion Air di Indonesia Oktober lalu.
Dalam pengujian, satu sensor gagal, memicu perangkat lunak yang dirancang untuk membantu mencegah pesawat diam. Pilot mendapati bahwa mereka memiliki waktu kurang dari 40 detik untuk mengambil alih sistem otomatis pada jet baru Boeing dan mencegah terjadinya bencana.
SBS News melaporkan bahwa meskipun investigasi sedang berlangsung, sistem otomatis, MCAS, menjadi fokus pihak berwenang yang mencoba untuk menentukan apa yang salah dalam bencana Lion Air dan kecelakaan Ethiopian Airlines dari model Boeing yang sama bulan lalu.
Maneuvering Characteristics Augmentation System, atau MCAS, yang teraktivasi tanpa input dari pilot telah membuat kegelisahan di kalangan pilot pesawat jet 737 Max.
Ada laporan pilot yang dikutip oleh The Verge yang menyebutkan bahwa "tidak masuk akal bahwa pihak pabrikan, FAA, dan maskapai penerbangan akan memiliki pilot yang menerbangkan pesawat tanpa pelatihan yang memadai, atau bahkan penyediaan sumber daya yang ada dan dokumentasi yang memadai untuk memahami sistem yang sangat rumit yang membedakan pesawat ini dari model sebelumnya ".
The Verge juga menulis bahwa banyak pilot yang belajar tentang fitur-fitur baru 737 ini di iPad dan bukan dengan melakukan sesi pelatihan berjam-jam dalam simulator senilai jutaan dolar.
Jadi, apakah teknologi otomasi lebih penting daripada kecakapan pilot itu sendiri?
Pilot dan advokat keselamatan Chesley "Sully" Sullenberger mengatakan bahwa otomatisasi tidak menghilangkan kesalahan.
"Semakin banyak lapisan yang ditumpukkan ke dalam sistem yang semakin kompleks, semakin banyak jalur kegagalan yang diperkenalkan kepada kami," menurut tulisannya dalam sebuah artikel LinkedIn.
"Kami telah belajar bahwa otomatisasi tidak menghilangkan kesalahan. Sebaliknya, ini mengubah sifat kesalahan yang dibuat, dan membuat kemungkinan kesalahan baru."
Kapten Sully dikenal sebagai pilot yang berhasil mendaratkan Airbus A320-214 di Sungai Hudson, New York menyusul matinya kedua mesin pesawatnya yang disebabkan oleh serangan burung. Kesemua 155 penumpang dan awak US Airways Penerbangan 1549 pada 15 Januari 2009 itu selamat.

Boeing 737 MAX adalah turunan terbaru dari pesawat berbadan sempit yang sangat sukses, Boeing 737. Pesawat modern ini dirancang untuk menjadi lebih efisien dengan tetap menjaga kenyamanan dan keselamatan para penumpang.
Penggemar penerbangan yang berbasis di Sydney, Arlan Santos, mengatakan bahwa ia percaya bahwa produsen pesawat hanya dapat membuat pesawat terbang seaman yang mereka mampu.
"Pesawat hanya bisa lebih aman dengan cara belajar dari semua kesalahan dan keadaan yang menyebabkan kecelakaan tersebut - apakah itu cacat desain, manajemen sumber daya kokpit, atau faktor alam - dan memastikan kesalahan ini tidak akan terjadi lagi," ujarnya kepada SBS Indonesian.
Kapten Sully mengatakan bahwa sistem yang mengintegrasikan kapasaitas terbaik dari kemampuan manusia dan teknologi adalah yang paling aman bagi semua pihak.
"Jadi ketika merancang sistem, kita perlu menetapkan peran yang tepat bagi komponen manusia dan teknologi," tulisnya. "Yang terbaik adalah dengan manusia sebagai pelaku dan teknologi sebagai pemantau, menyediakan alat bantu pengambilan keputusan dan perlindungan."
Boeing menyebut dalam situs web mereka bahwa mereka terus bekerja dengan FAA dan badan regulator lainnya dalam sertifikasi pembaruan perangkat lunak MCAS.
