Menteri Luar Negeri Julie Bishop menolak memberikan penjelasan mengapa dokumen-dokumen tentang operasi mata-mata Australia selama pendudukan Indonesia atas Timor Timur tetap dirahasiakan.
Sejak 2014, akademisi yang berbasis di Canberra, Clinton Fernandes, berusaha mendapatkan akses terhadap dokumen dari Lembaga Intelejen Rahasia Australia (Australian Secret Intelligence Service) yang telah berumur 43 tahun mengenai Timor Timur, melalui Lembaga Arsip Nasional Australia.
Direktur jenderal badan intelejen rahasia yang beroperasi di luar negeri, Paul Symon, dijadwalkan untuk mendebat pengungkapan dokumen ini dalam siang tertutup Pengadilan Banding Administratif pada hari Jumat.
"Bukan praktik pemerintah Australia untuk mengomentari masalah intelejen," ujar MS Bishop kepada para wartawan di Sydney.
Dirinya menyampaikan bahwa masalah tersebut dibahas di hadapan pengadilan dan akan tidak pantas baginya untuk memberikan komentar atas hal tersebut.
Profesor Fernandes mengatakan, tim hukumnya berharap dalam proses untuk mengajukan pertanyaan yang membuat ASIS membenarkan mengapa dengan alasan keamanan nasional dokumen tersebut harus terus ditahan selama 43 tahun setelah kejadian.
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa Australia terlibat di Timor Timur dan sangat tertarik dengan Indonesia pada tahun 1970an," ujar profesor University of New South Wales tersebut pada ABC.
Dirinya yakin bahwa dokumen-dokumen tersebut dapat memberikan petunjuk atas beberapa peristiwa yang berujung pada kematian lima orang wartawan Australia di Balibo pada tahun 1975.