Umat Kristen mengatakan mereka di-bully, tapi apakah hal itu benar-benar terjadi, atau sebaliknya?

Warga Kristen mengklaim mereka sebagai yang korban yang 'diganggu', hanya karena mayoritas masyarakat telah memutuskan bahwa mereka tidak menyukai cara kita memperlakukan orang lain!

Christians Like Us

Christians Like Us Source: SBS

Gereja-gereja Kristen di Australia mengalami kesulitan.

Jumlah jemaatnya semakin menurun.

Pelecehan, kemunafikan, dan prasangka sudah marak dan sebagai akibatnya, opini publik tentang kekristenan cenderung kritis daripada merangkul.

Bagi orang Kristen, ini mendatangkan kesulitan.

Lagi pula, di Australia, penganut Kristen telah memiliki monopoli sebagai salah satu, bahkan pengaruh utama opini masyarakat selama bertahun-tahun.

Isu-isu seperti peran perempuan, gender, seks dan seksualitas sebagian besar telah dibahas, bahkan di komunitas sekuler, dengan kepercayaan Kristen diasumsikan memiliki moralitas bersama selama beberapa dekade.

Namun pandangan itu kini telah berubah.

Chris Csabs muncul dalam program SBS Christians Like Us, yang mengudara selama dua malam pada pukul 8.35 siang, Rabu 3 April dan 10 di SBS.

Dalam film dokumenter SBS Christians Like Us, Cris bersama dengan sembilan orang Kristen lainnya berbagi rumah selama seminggu untuk membahas masalah-masalah seperti ini, hal pertama yang memecah belah kami adalah gagasan tentang penganiayaan terhadap umat Kristen.

"Tidak mudah menjadi seorang Kristen di masyarakat ini," kata seorang anggota dan yang lain membalas dengan anggukan setuju.

"Tidak mudah menjadi seorang Katolik!" kata yang lain.

clu_cjz_98-_dsf3487.jpg?itok=6mO2iKnu&mtime=1554254297

Chris Csabs will appear on new SBS documentary series 'Christians Like Us'.

 

Reaksi instan dalam hati nurani saya adalah kemarahan, dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memasukkan pendapat saya. "Tidak sulit juga," saya menyela, melihat sembilan pasang mata beralih menghadap saya.

"Saya seorang Kristen, tetapi saya juga seorang lelaki gay yang mengalami 'terapi konversi' bertahun-tahun. Saya tahu mengapa teman-teman serumah saya merasa bahwa mereka dianiaya, tetapi saya juga tahu bahwa kenyataannya adalah: Saya telah mengalami jauh lebih banyak penganiayaan sebagai pria gay daripada sebagai seorang Kristen ... dan sebagian besar berasal dari Gereja.  Karena alasan ini, saya tidak lagi pergi ke gereja, meskipun saya mempertahankan iman saya pada Tuhan dan hubungan saya dengan-Nya:".

I am a Christian, but I am also a gay man that experienced years of ‘conversion therapy’.

Sebagai orang Kristen, kita sudah lama berlaku semau kita sendiri.  Bahkan, dapat dikatakan sampai saat ini, Gereja telah menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam norma-norma sosial di Australia.

Namun, opini publik sekarang jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh Gereja.

Ini dibuktikan, antara lain, oleh dukungan luar biasa untuk kesetaraan pernikahan, yang mungkin tidak ada dalam mayoritas yang kuat satu dekade yang lalu.  Sayangnya, reaksi dari Gereja sebagian besar adalah mengklaim bahwa mereka sekarang 'diintimidasi' dan 'dianiaya'.

Orang-orang Kristen di Australia melakukan beberapa kritik. Maksudku, kita benar-benar menjadikan diri kita sasaran empuk. Apakah orang menertawakan kita? Terkadang ya!

Apakah orang menyukai kita? Seringkali, tidak!

Tapi mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, mengapa?

Dan jawabannya adalah - karena orang Kristen melakukan dan mengatakan hal-hal yang sepenuhnya mendatangkan kritikan.

"Saya punya teman homoseksual," kata seorang teman serumah, "... tapi saya dipanggil homofobia karena saya mungkin tidak setuju dengan sesuatu. Itu bukan sesuatu yang adil ... "

Sebagai orang Kristen, kami telah menempuh jalan yang begitu lama sehingga kami bahkan tidak menyadari bahwa dikritik bukanlah penganiayaan yang sesungguhnya ... seringkali, kami hanya tidak sependapat.

Tetapi setelah berpuluh-puluh tahun memonopoli pengaruh norma-norma sosial, kami merasa 'berubah seiring dengan waktu' yang sulit.

Tidak mudah untuk bangun pada tahun 2019 dan menyadari bahwa pandangan Anda tidak lagi sejalan dengan mayoritas, dan bahkan lebih sulit untuk menerima bahwa sistem kepercayaan Anda tidak lagi memiliki kekuatan yang sama atas masyarakat seperti dulu.

As Christians, we have had our way for such a long time that we don’t even recognise that being criticised isn’t really persecution...

Gereja memiliki sejarah panjang tentang penganiayaan nyata terhadap orang-orang LGBT +. 'Terapi konversi LGBT' kini menjadi sorotan, dan ideologi bahwa kaum gay dan trans bisa 'diperbaiki' atau 'disembuhkan' masih melekat di lebih banyak gereja daripada yang ingin Anda pikirkan.

Keyakinan bahwa menjadi LGBT + adalah penyimpangan dari tatanan alam telah membuat mereka menjadi sasaran pelecehan, kekerasan dan diskriminasi untuk waktu yang lama di Australia.

Meskipun tidak semua diskriminasi berasal langsung dari Gereja, pengaruh sikap Gereja terhadap homoseksualitas sering melanggengkan dan bahkan memaafkan homofobia dan transphobia di komunitas Australia.

Orang-orang LGBT + yang bekerja di organisasi-organisasi Kristen masih takut kehilangan pekerjaan, dan mereka yang pergi ke gereja-gereja yang tidak mengafirmasi seringkali menolak peran dalam pelayanan dan, dalam beberapa kasus, diminta untuk pergi.

Pada 2017, pemerintah Australia menggunakan survei nasional untuk menentukan pendapat publik tentang pernikahan sesama jenis.  Ini adalah waktu yang traumatis dan merusak bagi LGBT + Australia, karena sesama warga negara mereka diberikan izin - tidak, didorong - untuk memberikan pendapat mereka tentang apakah homoseksual harus dianggap sama ketika menyangkut hukum perkawinan.

Ketakutan dan homofobia adalah taktik dari kampanye 'Tidak'. Iklan-iklan selama debat menyiratkan bahwa anak-anak diajarkan menjadi gay dan trans, dan mengklaim bahwa kesetaraan pernikahan akan menghilangkan hak-hak orang tua.

Saya benar-benar muak mendengar orang-orang Kristen mengeluh tentang 'penganiayaan' karena keyakinan mereka.

Secara historis, kita telah menjadi pengganggu.

Betapa beraninya kita mengklaim sekarang sebagai yang 'diganggu', hanya karena mayoritas masyarakat telah memutuskan bahwa mereka tidak menyukai cara kita memperlakukan orang lain.

 

 

 


Share

5 min read

Published

Updated

By Chris Csabs



Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now