Studi Menyebut Perubahan Iklim Dapat Membuat Kita Lebih Gemuk, Bodoh dan Muram

Sebuah laporan baru menemukan bahwa perubahan iklim memiliki beberapa konsekuensi tak terduga bagi mereka yang tinggal di kawasan Asia Pasifik.

Increasing temperatures could lead to higher rates of obesity.

Increasing temperatures could lead to higher rates of obesity. Source: AAP

Meskipun sering dilaporkan bahwa perubahan iklim memengaruhi kesehatan planet kita, sebuah laporan baru yang memetakan dampak perubahan iklim di kawasan Asia Pasifik telah menemukan bahwa perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan populasi.

Studi dari Global Health Alliance Australia (GHAA) menguraikan serangkaian area dimana kesehatan populasi kawasan ini dipengaruhi oleh perubahan iklim, termasuk penurunan IQ pada anak-anak dari mereka yang selamat dari bencana alam, kekurangan gizi akibat menurunnya panen. dan kematian akibat gelombang panas.

Laporan yang diterbitkan pekan lalu tersebut juga menunjuk pada peningkatan tingkat obesitas sebagai konsekuensi potensial yang tidak terduga dari perubahan iklim, dengan kenaikan suhu mengacu pada penurunan tingkat aktivitas fisik.
People living in rural Australia are particularly susceptible to increased rates of mental illness due to the effects of climate change.
People living in rural Australia are particularly susceptible to increased rates of mental illness due to the effects of climate change. Source: AAP
"Beberapa produk sampingan dari bahan bakar fosil juga menghasilkan bahan kimia yang mengganggu endokrin, yang mengubah kandungan mikroba usus," tambah laporan itu.

"Ketika terjadi pada wanita, terutama selama kehamilan, hal ini dapat mengubah prekursor adiposit [sel-sel penyimpan lemak] selama perkembangan janin."

Menurut laporan itu, warga pedesaan Australia secara khusus rentan terhadap dampak kesehatan dari perubahan iklim, dengan pengurangan produktivitas pertanian akibat cuaca, mengarah pada meningkatnya tingkat depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat dan bunuh diri di komunitas-komunitas ini.

Disamping warga pedesaan Australia, perempuan, anak-anak, orang pribumi serta penyandang disabilitas juga diidentifikasi sebagai kelompok yang khususnya berisiko.
Dalam kasus anak-anak, laporan itu mengatakan ada semakin banyak bukti dari wanita yang telah mengalami peristiwa cuaca ekstrem, seperti banjir, kebakaran hutan, kekeringan dan angin topan, ketika mereka hamil yang menunjukkan anak-anak mereka juga mengalami konsekuensi yang merugikan - termasuk yang berhubungan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.

"Mekanisme yang diduga terjadi adalah hormon stres melintasi plasenta dan memberikan efek buruk pada perkembangan neurokognitif janin," sebut laporan itu.

Rekomendasi ini termasuk mengenali dampak kesehatan dari perubahan iklim, memperkenalkan program pelatihan bagi para profesional kesehatan tentang bagaimana beradaptasi dengan dampak kesehatan yang berubah dan menyusun agenda implementasi untuk mengurangi dampak tersebut.

Penulis laporan tersebut, direktur eksekutif GHAA Misha Coleman dan profesor kesehatan planet di Universitas Sydney Anthony Capon mengatakan "pencegahan utama" dampak kesehatan harus menjadi "prioritas utama".

"Dalam kasus perubahan iklim, hal ini berarti mitigasi perubahan iklim untuk menghindari dampak kesehatan yang berpotensi tidak terkendali," tulis laporan itu.

Share

2 min read

Published

Updated

Source: SBS News




Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps
SBS Audio
SBS On Demand

Listen to our podcasts
Independent news and stories connecting you to life in Australia and Indonesian-speaking Australians.
Ease into the English language and Australian culture. We make learning English convenient, fun and practical.
Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS
SBS Indonesian News

SBS Indonesian News

Watch it onDemand