Pada September 2020, Putu Audrey Prameswari, merasakan dua jari kanannya kaku dan seminggu kemudian dia kesulitan untuk mengontrol kelima jarinya.
Audrey yang menempuh studi child care di Kirana College, Sydney tidak bisa menggenggam benda bahkan yang kecil sekalipun.
Dia mengira gejala itu akibat kelelahan atau gangguan karena melakukan gerak berulang pada pekerjaannya sebagai barista di kafe.
Audrey pun mendatangi chiropractor dan akupuntur, tapi gejala yang dialaminya terus meningkat dalam tiga pekan.
Dia mulai kehilangan kontrol terhadap tangan kanannya dan sulit menggerakkan seluruh lengannya sehingga hanya mengandalkan tangan kirinya.

In September 2020, Audrey Prameswari began to lose control on her right hand fingers. She was not able to grip even the smallest item. Source: Supplied
Kanker agresif
Terapi dari chiropractor dan akupuntur tidak membuahkan hasil dan dua minggu kemudian Audrey sepenuhnya kehilangan kontrol atas lengan kanannya.
"Saya menemui ahli syaraf dan menjalani tes. Hasilnya tidak ada yang salah dengan tangan saya," kata Audrey.
"Menurut neurologist ada masalah lain di luar tangan saya yang tidak berfungsi."
Pemilik kafe tempatnya bekerja masih mengizinkan dia tetap masuk meski dia tidak bisa menjalankan kemampuan fisiknya secara optimal.
Neurologist merujuk Audrey untuk menjalani tes MRI pada awal Desember karena gejala yang dia alami sangat serius.
"Sehari setelah tes, dokter mengabari saya kalau ada tumor otak di bagian kiri berukuran lima sentimeter, sementara ukuran maksimal tumor otak enam sentimeter," sebut Audrey.
"Saya kanker otak stadium tiga."
Tumor yang tumbuh cepat itu mengakibatkan Audrey mulai mengalami kelumpuhan pada kaki kanannya dan memengaruhi kemampuannya berbicara.
"Saya harus bicara pelan dan terbata-bata."
Profesor Antonio Di leva, dokter senior yang menangani Audrey mengatakan dia harus segera dioperasi karena pertumbuhan kanker yang sangat agresif.
Visa darurat
Ibu Audrey, Ayu Suryanita, di Denpasar Bali yang mendapat kabar Audrey harus segera mendapat tindakan medis langsung mengajukan visa Australia, yang tak mungkin didapatkan untuk tujuan kunjungan biasa karena Australia masih menutup perbatasan.
"Kalau Audrey yang pulang ke Indonesia dia harus karantina, saya tidak mau ambil resiko. Jadi lebih baik Audrey dioperasi di Sydney, saya yang datang," kata Ayu.
"Saya minta rumah sakit untuk mengirimkan semua dokumen untuk menunjukkan Audrey butuh pendampingan saya. Saya perlu alasan yang sangat kuat untuk bisa masuk karena Australia masih menutup perbatasan."
Pada 20 Desember, dokter mengatakan Audrey akan dioperasi tiga hari kemudian di Macquarie Hospital, dimajukan dari rencana sebelumnya pada Januari 2021.
"Dia jalan sudah menabrak-nabrak, keseimbangannya sulit. Tapi dia masih kerja, pemilik kafenya sangat baik membolehkan dia tetap kerja dan tetap dibayar. Kalau capek dia bisa istirahat kapan saja, bahkan disediakan makanan," kata Ayu.
"Saya katakan pada Audrey, saya pasti akan datang begitu mendapat visa. Tapi saya minta dia tidak menunggu saya datang untuk operasi. Akhirnya dia menguatkan diri, dan merasa siap."
Ayu pun mendapat kabar dari Kedutaan Australia di Jakarta kalau visanya disetujui setelah mengajukan dua hari sebelumnya.
Pada 22 Desember malam, Ayu terbang dari Bali dan tiba di Sydney keesokan paginya ketika Audrey berada di ruang operasi.
Dari Bali Ayu membawa hasil pemeriksaan kesehatannya sebagai syarat untuk mengajukan pembebasan dari kewajiban karantina 14 hari karena alasan darurat.
"Begitu tiba di hotel saya swab test, sambil menunggu saya dapat persetujuan pengecualian dari karantina. Biasanya orang dikarantina swab test di hari ketiga dan kesepuluh," kata Ayu.
"Tapi saat saya tiba ada kasus positif baru COVID-19 di Sydney. Pengajuan saya untuk dibebaskan dari karantina ditolak."
Selama dua minggu di karantina hotel, Ayu hanya bisa melakukan panggilan video dengan Audrey.
"Setelah operasi Audrey dua hari di ICU dan seharusnya enam hari dirawat. Tapi dokter tahu saya masih dikarantina, jadi dia diperbolehkan tinggal di rumah sakit karena tidak ada yang mengurus dia."
Keluar dari karantina 6 Januari, Ayu akhirnya bertemu Audrey setelah dua tahun terpisah sejak Audrey kuliah di Sydney.

Audrey's mother Ayu Suryanita managed to come to Australia on emergency granted visa and arrived in Sydney in the morning Audrey undergo surgery. Source: Supplied
"Seharusnya saya datang ke Sydney bulan Maret 2020, tapi Australia mulai tutup perbatasan. Lalu Audrey berencana ke Bali bulan Juli, tapi dia batalkan karena akan sulit lagi kembali masuk ke Australia, sekolahnya akan tertunda."
Kemoterapi setahun setiap hari
Keluar dari rumah sakit, Audrey tinggal di Royal Rehab Centre di kawasan Ryde untuk menjalani fisioterapi dan terapi bicara.
Berkat fisioterapi saat ini Audrey sudah mulai bisa berjalan 10-16 langkah tanpa bantuan orang lain, namun kondisi tangannya yang terlebih dulu menunjukkan gejala kanker menyerang syaraf, masih lemah.
Dokter mengatakan tumor yang diangkat 40 persen karena sel kanker yang tersisa terlalu riskan untuk diambil karena sangat dekat dengan banyak syaraf kecil di otak.
"60 persen sel kanker yang tersisa dihambat pertumbuhannya dengan radioterapi dan kemoterapi. Radioterapi enam minggu dan kemoterapi setahun."
"Melihat gejala yang dialami Audrey, sel kankernya sangat agresif. Dokter mengatakan setelah operasi sisa sel kanker bisa menyebar."
"Tapi hasil tes MRI setelah tiga minggu operasi menunjukkan selnya tidur, tidak kemana-mana."
Ayu mengatakan Audrey sangat bersemangat menjalani radioterapi lima kali seminggu dan kemoterapi setiap hari.
"Pagi jam 9-11 fisioterapi, jam 12 makan, jam 1 ke rumah sakit untuk radioterapi, jam 3.30 balik ke Royal Rehab, makan malam jam 6, lalu malamnya kemoterapi. Setiap hari begitu," kata Ayu.
Profesor Antonio Di leva mengatakan kasus Audrey langka karena kanker otak seperti dia biasanya dialami bayi atau orang usia lanjut, jarang pada orang berusia 20an tahun.
"Biasanya setelah operasi tumor otak bisa terjadi gangguan pada leher ke atas, misalnya pada bibir atau mata, atau yang terburuk pasien meninggal. Tapi Audrey dari leher ke atas sangat baik. Hanya tangan dan kakinya yang masih lemah," kata Ayu mengutip pernyataan Profesor Di leva.
"Dengan mata berkaca-kaca, dokter bilang ke Audrey, 'You're such a beautiful heart'."
Penggalangan donasi
Audrey telah mendapat tagihan pertama untuk biaya operasi sebesar $23.000. Asuransi kesehatan pelajar internasional tidak menutup semua biaya pengobatan.
Dengan rencana terapi yang masih panjang akan banyak biaya yang tak terduga muncul.
Audrey dengan bantuan dua temannya Wina Suparman dan Wenny Wen membuat penggalangan donasi dari publik untuk membantu biaya penyembuhannya lewat platform GoFundMe.
Dengar target donasi $150.000, permintaan bantuan Audi telah direspons oleh sekitar 360 donatur dengan $21.500 hasil donasi dalam dua hari.
Pada laman penggalangan dana di GoFundMe, Audrey berterima kasih pada donatur dan mengunggah video perkembangan fisioterapinya.

Audrey's friends, Wina Suparman dan Wenny Wen helped her to start a fundraising cause on GoFundMe so she can get immediate help with medical bills. Source: Supplied
"Saya berterima kasih untuk semua donasi. Saya merasa sangat tersentuh dan bersyukur," tulis Audrey.
"Saya sudah mulai merasakan kaki kanan saya kembali. Sekarang saya dapat berdiri dan menopang diri sendiri selama 10-15 detik, dan juga mampu melangkah pendek tanpa bantuan.
"Sayangnya tidak banyak kemajuan di lengan kanan saya, saya bisa mengangkat bahu tapi kemajuan adalah kemajuan."
"Saya berterima kasih banyak kepada yang membantu, di masa susah pandemi ini masih banyak yang tergerak menyisihkan berapa pun mereka mau untuk membantu Audrey," kata Ayu.
Ayu juga merasa bersyukur atas kebijaksanaan rumah sakit yang tidak mengedepankan persoalan finansial dalam menangani Audrey.
"Saat keluar dari Macquarie hospital, saya tanya bagaimana dengan tagihannya. Pihak rumah sakit dan dokter bilang jangan pikirkan dulu, pindah saja dulu ke Royal Rehab. Saya merasakan sekali bagaimana kemanusiaan jauh didahulukan daripada persoalan uang," kata Ayu.
"Sama seperi yang saya alami saat selesai karantina, saya diantar keluar dan sudah siap membayar biaya karantina $3.000. Tapi petugas karantina mengatakan pemerintah akan mengirimkan tagihan, pembayaran belakangan."
Share
