Penyelidikan menemukan 50% wanita beresiko dimensia, Parkinson atau stroke

Penelitian telah menemukan bahwa beberapa strategi pencegahan dapat mengurangi resiko wanita mengembangkan kondisi terjangkit dimensia, Parkinson atau stroke antara 20 dan 50 persen.

Researchers tracked more than 12,000 healthy people over the age of 45 from 1990 to 2016.

Researchers tracked more than 12,000 healthy people over the age of 45 from 1990 to 2016. Source: AAP

Hampir setengah dari wanita dan satu dari tiga pria berisiko terkena penyakit stroke atau degeneratif neurologis seperti demensia dan Parkinson selama masa hidup mereka, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan beru-baru ini.

Peneliti Belanda mempertimbangkan ketiga kondisi ini "untuk memahami seberapa besar masalah penyakit otak yang tak tersembuhkan dalam kehidupan akhir sebenarnya," kata penulis senior studi itu, Arfan Ikram.

"Kami mengelompokkan penyakit ini bukan hanya karena mereka umum tetapi juga karena ada indikasi bahwa kondisi ini sering terjadi bersamaan dan mungkin berbagi beberapa penyebab yang tumpang tindih," Ikram, dari Erasmus MC University Medical Center Rotterdam di Belanda, mengatakan kepada AFP.

 

Read More

1x1

 

Ini bisa berarti ada juga cara tumpang tindih untuk menunda atau menghindari penyakit, dan penelitian menemukan bahwa beberapa strategi pencegahan dapat mengurangi risiko antara 20 dan 50 persen.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Neurology Neurosurgery and Psychiatry, para peneliti melacak lebih dari 12.000 orang sehat di atas usia 45 dari 1990 hingga 2016.

Selama 26 tahun, 5.291 orang meninggal. Hampir 1.500 didiagnosis dengan demensia - 80 persen dengan Alzheimer - sementara 1.285 mengalami stroke dan 263 menderita Parkinson.

Hasil itu menunjukkan bahwa kemungkinan wanita berusia diatas 45 tahun terjangkit penyakit itu adalah 48 persen, sementara itu 36 persen untuk pria.

Perpecahan gender sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa pria meninggal lebih awal daripada wanita, kata Ikram.

Dua persen dari GDP

"Penelitian kami tidak menunjukkan adanya efek perlindungan bagi pria," katanya. "Sebaliknya itu hanya disebabkan lebih sedikit pria yang bertahan hidup sampai usia lanjut."

Karena mereka hidup lebih lama, wanita memiliki peningkatan risiko penyakit seperti itu, dan penelitian menemukan wanita dua kali lebih mungkin dibandingkan pria untuk mengembangkan dementia dan stroke.

Meskipun tidak ada obat untuk penyakit ini, gaya hidup yang sehat - diet yang baik, tidak merokok atau menderita diabetes - dapat melindungi diri dari stroke dan membantu mencegah terjadinya demensia, kata Ikram.

 

Read More

1x1

Ada juga indikasi bahwa gaya hidup sehat dapat mengurangi risiko Parkinson, tambahnya.

Biaya tiga penyakit saraf itu diyakini lebih dari dua persen dari produktivitas ekonomi tahunan (GDP) dunia, kata para peneliti dalam sebuah pernyataan.

Namun sementara bahaya penyakit lain seperti kanker payudara dan penyakit jantung sudah dikenal, "hal yang sama tidak dapat dikatakan tentang demensia, stroke, dan Parkinsonisme", kata pernyataan itu.

Para peneliti mencatat bahwa studi ini hanya melibatkan orang-orang keturunan Eropa dengan harapan hidup yang relatif panjang, itu "mungkin tidak berlaku untuk etnis / populasi lain".

Di seluruh dunia, sekitar tujuh persen orang di atas 65 menderita Alzheimer atau beberapa bentuk demensia, persentase yang meningkat hingga 40 persen di atas usia 85 tahun.

menurut Organisasi Kesehatan Dunia, jumlah penderita diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 menjadi 152 juta, menimbulkan tantangan besar bagi sistem perawatan kesehatan.

Read More

Source: AFP - SBS


Share

3 min read

Published

By SBS News

Source: SBS



Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now