TEMANGGUNG, MInggu 2 Juli 2017 - Sebuah helikopter penyelamatan BASARNAS jenis Dauphin warna oranye telah jatuh saat memberikan bantuan pengevakuasian penduduk di dekat sebuah gunung berapi yang aktif di Jawa Tengah di Indonesia.
Kecelakaan itu menewaskan delapan orang penumpangnya.
Helikopter tersebut jatuh sekitar tiga menit sebelum tiba di Dataran Tinggi Dieng, kawasan wisata yang populer dimana telah terjadi letusan gunung berapi pada hari Minggu yang melukai setidaknya 10 orang.
Pesawat tersebut dilaporkan menabrak tebing di Gunung Butak di distrik Temanggung, provinsi Jawa Tengah.
Kedelapan orang di dalamnya tewas, demikan dikatakan oleh Mayor Jenderal Heronimus Guru, wakil kepala operasi Badan SAR Nasional.
Mayat korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Semarang.
Brigadir Jenderal Ivan Titus, direktur operasi dan pelatihan di agen pencarian BASARNAS, mengatakan kepada stasiun TVOne dalam sebuah wawancara langsung dari Temanggung, bahwa korban adalah empat perwira angkatan laut dan empat regu penyelamat.

Kawah Sileri di Dataran Tinggi Dieng memuntahkan lava dingin, lumpur dan abu setinggi 50 meter ke langit saat meletus pada hari Minggu pagi, demikan kata juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sutopo Purwo Nugroho.
Terjadi letusan tiba-tiba pada saat sekitar 17 pengunjung berada di sekitar kawah. Sepuluh orang terluka dan dirawat di rumah sakit.
Tentara dan petugas polisi dikirim dan penduduk setempat serta pengunjung diminta untuk mengungsi jika terjadi letusan lebih lanjut, kata Nugroho.
Kawah itu tampak sepi pada Senin pagi, dan semua pengunjung ke dataran tinggi telah dievakuasi.
Sileri adalah kawah yang paling aktif dan berbahaya di antara 10 kawah di Dieng Plateau. Letusannya terakhir terjadi di tahun 2009 mengeluarkan material vulkanik setinggi 200 meter dan memicu terciptanya tiga kawah baru.

Dataran Tinggi Dieng, yang terletak di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, merupakan daya tarik wisata yang populer karena iklimnya yang sejuk dan candi Hindu abad kesembilan.
Sekitar 142 orang dilaporkan mengalami sesak napas pada tahun 1979 ketika gunung berapi memuntahkan gas.
