Christiano Dery Theodorus masih berusia 11 tahun ketika ayahnya pindah ke Australia.
Setelah terpisah selama 18 tahun, pada tahun 2016 Dery dan adik perempuannya pindah ke Australia setelah mendapatkan visa tinggal permanen atas sponsor ayahnya.
Dery meninggalkan bisnis dekorasi dan cafe yang ia jalani di kota asalnya Semarang.
"Sewaktu masih di Semarang hampir setiap hari saya bicara bicara dengan bapak saya lewat telepon. Tapi setelah bertemu langsung, tidak sama seperti di telepon," kata Dery.
"Kami lama hidup terpisah, dan bertemu dia lagi ketika saya sudah dewasa. Tidak ada yang salah sebenarnya, tapi rasanya seperti orang yang baru kenal."
Baru sebulan tinggal di Shepparton bersama ayahnya, Dery memutuskan keluar dan tinggal sendiri.
"Saya nekad saja, meski bahasa Inggris saya masih belum lancar. Tidak gampang dapat pekerjaan. Seorang ibu warga lokal menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya. Saya bantu mengurus rumah dan kebunnya," kata Dery.
Pekerjaan pertama Dery tenaga dapur di restoran, lalu menjadi tukang kebun, menangani susu di peternakan sapi, mengurus lahan pertanian, memerah susu sapi, mengemudi traktor pembajak lahan dan memetik buah di pertanian.
Pekerjaan di pertanian di Australia berlangsung musiman yang dilakoni secara berpindah oleh banyak pelancong pemegang work and holiday visa dari banyak negara termasuk Indonesia.

Christiano Dery Theodorus in his farm job. Source: Supplied
Bersepeda motor sampai Queensland
Umumnya saat musim dingin di Victoria tidak banyak pekerjaan di pertanian, sehingga para pekerja biasanya pindah ke daerah pertanian yang hangat seperti di Queensland.
"Saat musim dingin di Shepparton biasanya hanya ada pekerjaan memangkas pohon anggur, tapi tidak banyak yang mau mengerjakan karena dingin," kata Dery.
Saat musim dingin usai, para pekerja musiman kembali meramaikan daerah pertanian di Victoria seperti Shepparton, Mildura atau Swan Hill untuk musim memetik tomat, pir, apel, ceri, anggur, dan stone fruit seperti aprikot, nectarine, prem, dan persik.
Dery pun pernah mengikuti pola itu, ketika musim dingin ia pergi bekerja di Bowen, Queensland dan Munduberra, New South Wales.
Ia mengendarai sepeda motornya selama tiga hari menuju Bowen. "Apapun dilakukan demi mencari uang untuk bertahan hidup," kata Dery.
"Saya naik sepeda motor karena dapat SIM mobil lebih susah, harus tiga kali tes, dan saya belum punya mobil. Kalau SIM sepeda motor hanya sekali tes kalau lulus langsung dapat SIM."
Saat ini Dery sedang mengerjakan panen ceri yang segera usai.
"Memetik ceri paling mudah. Paling berat pekerjaan memetik tomat yang di permukaan tanah seperti di Shepparton, karena harus membungkuk mengais buah tomat. Kalau di Bowen, memetik tomat dengan mesin," kata Dery.
Mural pertama di kamar anak
Tahun 2017, saat menjalani kursus mengemudi mobil, instruktur yang mengetahui Dery senang melukis memintanya membuat lukisan superhero di dua kamar anaknya.
"Itu portofolio mural pertama saya di Australia, mulai sejak itu saya mulai mempromosikan karya saya di media sosial maupun di acara dan pasar seni," kata Dery.
Pada Juni 2017 Dery diundang oleh Mooropna Education and Activity Center (MEAC) untuk menggelar pameran tunggal. Ia menghadirkan 18 karya lukisan dan 6 patung.
"Saat itu dengan bahasa Inggris yang terbata-bata saya berpidato di depan publik. Untungnya mereka mengerti, malah kemudian ada beberapa orang yang melempar pertanyaan," kata Dery tertawa.
Nama Dery pun kian dikenal dan semakin banyak menerima pekerjaan melukis mural di kota Shepparton yang sangat multikultural untuk sebuah kota kecil di daerah.

Christiano Dery Theodorus first exhibitoion in Mooroopna Education and Activity Center in June 2017. Source: Supplied
Kliennya kebanyakan pengusaha imigran yang ingin menghadirkan identitas kultural atau asal usul mereka di tempat bisnisnya.
Identitas kultural imigran
Salah satu mural yang dikerjakan Dery adalah lukisan benteng Aleppo di Nedal, restoran milik Bakri Tarsha asal Suriah yang datang ke Australia sebagai pengungsi.
"Nedal artinya perjuangan, yang juga nama anak saya. Benteng Aleppo yang indah adalah kebanggaan saya sebagai orang Aleppo, meski saya tidak bisa melihatnya secara langsung lagi," kata Bakri.
"Karena itu saya ingin Benteng Aleppo yang indah itu ada di dalam restoran saya, agar orang yang datang ke sini tahu keindahannya."
Saat saya dan Dery berada di Nedal, seorang anak Bakri mengatakan pemilik restoran India di sebelah pernah mengatakan ia juga ingin ada mural di restorannya.

Christiano Derry Theodorus painted Aleppo Castle in a Syrian restaurant in Shepparton, Victoria. Source: Supplied
Usai bersantap, saya dan Dery masuk ke restoran India tersebut dan bertemu pemiliknya yang menginginkan ada mural bergambar rempah dan tanaman khas masakan India di dinding restorannya.
"Mural di restoran memang untuk dekorasi. Tapi banyak yang ingin ada mural untuk mengingat asal-usul pemilik atau usahanya," kata Derry.
Sebuah restoran pizza yang dimiliki pengusaha India meminta Dery untuk melukis Taj Mahal dan kuil Gujarat.
Sementara itu di studio Point of Difference, sebuah ruang multikultural yang didirikan oleh perempuan asal Turki dan Samoa, Dery melukis mural wajah perempuan dengan separuh berhijab dan separuhnya dengan rambut tergerai.
"Kalau klien Australia biasanya meminta mural terkait dengan hobi dan minat, misalnya wajah musisi favoritnya," kata Dery.
"Sayangnya komunitas Indonesia yang tidak terlihat menunjukkan identitas kulturalnya di Shepparton. Sampai saat ini saya belum pernah diminta melukis mural dengan tema kultur Indonesia."
Share
