Sejak tahun 1600an - beberapa puluh tahun sebelum Inggris menancapkan bendera di Australia - pelaut Makassar dari Pulau Sulawesi telah berlayar ribuan kilometer melewati Samudera Hindia untuk berdagang dengan orang Aborigin suku Yolŋu di Arnhem Land, Australia Utara.
Pelaut Makassar datang untuk mendapatkan timun laut atau tripang, komoditas yang bernilai tinggi di China untuk bahan obat-obatan dan makanan.
Lebih dari seabad kemudian, sejarah bersama antara orang Aborigin dan orang Makassar masih dirayakan oleh komunitas Aborigin di Australia Utara sebagai periode saling percaya dan hormat - meski beberapa bukti sejarah menunjukkan ini tidak selalu terjadi.
Kedatangan orang Makassar di masa lampau terus dilestarikan lewat cerita dan dalam banyak artifak budaya seperti tari, musik, hingga karya seni rupa dari artis kontemporer.
Kedatangan pelaut Makassar yang menginspirasi bisa dilihat pada dua karya seniman perempuan suku Yolŋu (Yolngu), Dhambit Munuŋgurr pada pameran Triennial 2020 yang berlangsung hingga 18 April 2021 di National Gallery of Victoria.
Triennial 2020 juga menghadirkan karya animasi dari trio seniman visual Indonesia Tromarama (Febie Babyrose, Herbert Hans dan Ruddy Hatumena) yang berjudul Solaris pada layar raksasa.
Karya instalasi Munuŋgurr berjudul Can We All Have a Happy Life (2019 – 2020) terdiri dari 15 lukisan di atas kulit kayu dan sembilan larrakitj (tiang berongga) yang dibuat di timur laut Arnhem Land.

Dhambit Munuŋgurr tells the story of the Makassans sail through the treacherous gap known as 'the hole in the wall' which divides the Wessel islands Source: SBS/Alfred Ginting
Munuŋgurr adalah anggota Buku-Larrŋgay Mulka Centre, pusat seni yang dijalankan oleh komunitas Aborigin di Yirkalla, 700 kilometer di timur kota Darwin.
Protokol di komunitas Yolŋu untuk lukisan tradisional hanya boleh menggunakan palet warna alami yang biasanya diambil dari okre.
Namun kecelakaan mobil yang pernah dialami Munuŋgurr membuat dia tidak dapat melakukan pekerjaan mengesktrak pigmen. Dia meminta izin dari para tetua untuk memakai cat akrilik biru, dan diperbolehkan.
Dia pernah ditanya kenapa banyak menggunakan warna biru. "Karena bumi biru, laut biru, dan langit biru," jawabnya.
Salah satu karya Munuŋgurr berjudul "Makassans and Yolŋu" menggambarkan beberapa lelaki melemparkan jala ke air.

Dhambit Munuŋgurr working on her latest bark, recounting the history of the Makassan people visiting Arnhem Land. Source: Facebook Buku-Larrnggay Mulka
Pelaut Makassar berlayar dari Sulawesi dengan kapal Padewakang yang kini sudah punah dan merupakan cikal bakal kapal pinisi yang termasyhur.
Karya lainnya berjudul "The hole in the wall" menggambarkan para Maŋghatarra di bawah bintang timur (Morning star) berlayar melalui celah berbahaya yang dikenal sebagai Hole in the Wall antara Rarrakala (kiri) dan Guluwuru (kanan) yang membelah pulau-pulau Wesel.
Maŋghatarra adalah sebutan orang Yolŋu untuk pelaut Makassar. Sementara orang Makassar menyebut Arnhem Land sebagai Marege' yang berarti negeri liar.
Kedatangan pelaut Makasar direkam secara lisan selama berabad-abad. Orang Yolŋu mengadopsi beberapa bahasa Makassar seperti rrupiya (uang), bandirra (bendera), buthulu (botol), balanda (kulit putih), lipalipa (sampan), dan baŋ’kulu (kapak).
Pelaut Makassar berlayar dari Sulawesi dengan perahu yang biasanya berisi tiga puluh dan mendarat di Arnhem Land melakukan pertukaran barang seperti tembakau, beras, alkohol dan kemudian berlayar lebih ke barat ntuk mencari tripang.

In 2005 Munuŋgurr was given special permission to use acrylic paint, following a car accident that made it challenging for for her to manipulate natural pigment Source: Facebook Buku-Larrnggay Mulka
Setelah mendapat jumlah yang cukupm tripang kemudian direbut, dikeringkan dan diproses di pantai, di bawah pohon asam jawa (tamarind) yang ditanam oleh pelaut Makassar.
Puluhan atau bahkan diperkirakan ratusan orang Aborigin ikut kapal ke Makassar dan beranak cucu di sana, sebaliknya juga sejumlah pelaut Makassar juga menikahi orang setempat.
Perdagangan tripang antara orang Makassar dengan Bangsa Pertama Australia berakhir tahun 1906, dimatikan oleh pajak tinggi dan aturan pemerintah kolonial yang membatasi perdagangan orang non kulit putih.
Share


