Seorang guru aerobik yang melakukan gerakan aerobik diiringi lagu dangdut elektronik 'Ampun Bang Jago' tanpa disadari merekam konvoi militer Myanmar.
Pagi itu Khing Hnin Wai melakukan rutinitas hariannya melakukan senam aerobik dan merekamnya. Tak lama kemudian, di belakang Khing terlihat konvoi kendaraan lapis baja milik Tatmadaw, atau militer Myanmar, bergerak menuju gedung parlemen di ibukota Naypidaw.
Pada Senin Tatmadaw melancarkan kudeta dan menangkap sejumlah pemimpin sipil, termasuk Aung San Suu Kyi.
Tatmadaw kemudian mengumumkan keadaan darurat selama setahun, dan menuding partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), melakukan kecurangan.
Perempuan pembuat video, Khing Hnin Wai memang tidak menyadari apa yang terjadi di belakangnya, namun setelah video itu viral warganet Indonesia menunjukkan lagu yang dia pakai sangat relevan dengan situasi di Myanmar.

Protesters rally outside Myanmar's embassy in Thailand, after the Myanmar military seized power from a democratically elected civilian government. Source: AAP Image/Boonyakiat / SOPA Images/Sipa USA
Lagu 'Ampun Bang Jago' terinspirasi dari gejala di kalangan penggemar video game yang sombong karena merasa piawai, lalu judul ini menjadi frase slang sebagai retorika balasan untuk orang yang sombong dan sosok otoritas yang merasa benar sendiri.
Sebelumnya lagu itu telah pernah menjadi lagu protes dengan membawa pesan perlawanan terhadap kemapanan saat gelombang protes terhadap omnibus law yang menyebar ke seluruh Indonesia tahun lalu.
Aktivis dan pembela hak asasi manusia telah mendokumentasikan ratusan kasus dugaan kebrutalan polisi selama kerusuhan di bulan Oktober.
“Sebelumnya, lagu itu hanya dipakai pada demonstrasi, jadi kami sudah terbiasa. Tapi sekarang kita bicara tentang kudeta, dimana pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah dengan paksa, […] ini gila banget,” kata Jonathan Dorongpangalo, salah satu penyanyi dari dua rapper yang membuat lagu itu terkenal, seperti dikutip Jakarta Post.
Jonathan dan Everly Salikara dari Sulawesi Utara meluncurkan lagu itu pada bulan September dan dengan cepat populer melalui TikTok dan YouTube.
Subteks dari lagu tersebut, dikombinasikan dengan rekaman video aerobik saat kudeta, telah membuat krisis Myanmar dengan mudah berhubungan di mata warganet Indonesia, namun itu hanya menyentuh permukaan dari keterlibatan bilateral Indonesia di Myanmar sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara.
Militer pernah digdaya di Myanmar lebih dari lima dekade sebelum kekuasannya semakin terkikis sejak demokratisasi yang bergulir pada akhir 2010.
Partai sokongan tentara, Union Solidarity and Development Party (USDP) dua kali kalah dari NLD, partai Aung San Suu Kyi.

Myanmar's State Counselor Aung San Suu Kyi has been detained as the military seized power on Monday in a coup. Source: AAP
Puncaknya, NLD mendapatkan 80 persen suara rakyat pada Pemilu 2020, menenggelamkan USDP dengan hanya meraup 33 kursi di parlemen.
NLD makin dominan di parlemen, berpeluang merevisi konstitusi yang selama ini sangat menguntungkan bagi pucuk militer.
Tatmadaw yang di bawah pimpinan panglima Ming Aung Hlaing yang sukses mengkudeta, sejak lama tidak menyukai kemungkinan Myanmar berubah menjadi negara berasaskan demokrasi liberal.
Indonesia dan Myanmar adalah negara multietnis dari kawasan yang memiliki lintasan yang sama dalam perjuangan kemerdekaan di tahun 1940-an dan percobaan demokrasi di tahun 1950-an.
Dari perspektif Indonesia, Myanmar seperti bayangan masa lalu Orde Baru, matang dengan latar belakang sejarah, politik, dan sosial budayanya yang rumit.
Rezim Orde Baru berdiri ketika Soeharto merebut kekuasaan dengan memanfaatkan kudeta tahun 1965 dan berkuasa 32 tahun hingga dijatuhkan pada tahun 1998 oleh protes mahasiswa.
Tatmadaw berhasil mempertahankan kekuasaan selama lebih dari lima dekade, dilindungi oleh konstitusi yang dirancangnya sendiri dan memberinya kendali yang signifikan atas semua cabang pemerintahan - tidak berbeda dengan “dwifungsi” angkatan bersenjata Indonesia selama Orde Baru.
Militer Myanmar menyerahkan sebagian kekuasaannya pada tahun 2011, yang mengarah pada penciptaan sistem semi-demokrasi.
Meski begitu, banyak masalah masih tersisa, termasuk pengaruh militer yang terlalu besar dari konstitusi 2008, serta sejumlah kesengsaraan ekonomi dan ketegangan antaretnis.
Pemilu 2015 adalah pemilu pertama yang diperebutkan secara terbuka di Myanmar sejak 1990, dan NDL memenangkannya, meskipun peraih Nobel perdamaian itu masih dilarang menjadi presiden karena ketentuan konstitusional yang ditujukan khusus padanya.
Memang, Suu Kyi berhasil mengatasinya dengan menjadikan dirinya penasihat negara, tetapi kebuntuan pembagian kekuasaan antara partainya dan militer telah membangun ketegangan dan kebencian selama lima tahun yang akhirnya mengarah pada kudeta hari Senin.
Share
