Lumba-lumba sungai di Adelaide terancam

Para Konservationis menyerukan untuk meningkatkan perlindungan bagi penduduk istimewa si sungai kota Adelaide.

Proposed speed limit for dolphin sanctuary

Proposed speed limit at dolphin sanctuary Source: Advertiser

Di sebuah sungai, Port River yang sibuk di Adelaide, di antara kapal-kapal kargo, hidup sekitar 30 lumba-lumba hidung botol.

Kelompok ikan lumba-lumba itu adalah atraksi turis yang harus dilihat, tetapi kehidupan merkea semakin terancam.

Mike Bossley dari Whale and Dolphin Conservation, mengatakan akhir-akhir ini para relawan yang berpatroli di sungai telah memperhatikan tren yang mengkhawatirkan.

"Kami menghadapi banyak masalah akhir-akhir ini karena lumba-lumba yang sekarat. Dan kami duga, banyak yang tewas karena ditabrak perahu," katanya kepada SBS News.

Anak lumba-lumba yang berusia dua minggu, Holly, ditemukan tewas pada bulan Januari setelah tercedera barang tumpul.

'Kelompok Istimewa'

Bossley mengatakan kelompok ini sangat unik, karena mereka hidup secara permanen di dalam batas kota, dan karena mereka telah belajar kebiasaan yang aneh yaitu "berjalan dengan ekor".

"Mereka mungkin lumba-lumba yang paling urban di dunia, dengan jumlah yang cukup banyak, 30 ekor, tinggal di sini secara permanen, sepanjang tahun," katanya.

“Dan ini berarti bahwa mereka sangat penting untuk pariwisata tetapi mereka juga seperti kenari di dalam lingkungan lokal."

07ddbed6-a90d-4d88-94c6-a34bd5dd597c

Two dolphins leap from Adelaide's Port River.

 

Dr Catherine Kemper, seorang ilmuwan peneliti senior di South Australian Museum, mengatakan bahwa kelompok itu merupakan sumber informasi yang kaya bagi para peneliti, yang begitu dekat dengan pusat perkotaan.

Ia memeriksa lumba-lumba sungai yang mati dan mengatakan bahwa seringkali sulit untuk membuat penentuan mutlak tentang kematian mereka, tertabrak kapal adalah kemungkinan nyata.

1x1

Dolphins use 'names' to recognise friends

"Data menunjukkan beberapa hewan telah tertabrak perahu… tetapi jika kita sangat yakin dengan melihat cedera atau fisiologi bagian dalam hewan itu, maka kita cenderung mengatakan bahwa itu bukan tertabrak perahu sampai kita bisa benar-benar yakin. "

Ia mengatakan sifat kelompok yang selalu menetap di pantai berarti mereka dapat terlibat dalam konflik dengan manusia dalam banyak cara.

"Perahu merupakan satu masalah, tetapi ada banyak hal lain, kami membangun marina di pantai karena kami suka berada di laut, kami mengubah jumlah lamun dan tentu saja lamun penting untuk ikan yang mungkin dimakan oleh lumba-lumba."

Namun di masa lalu, ia mengatakan pernah menemukan peluru di lumba-lumba yang mati.

"Suatu waktu di tahun 1998, empat lumba-lumba di daerah itu ditembak. Dan masalah seperti itu memicu kami untuk berkumpul sebagai sebuah kelompok, yang disebut Dolphin Trauma Group," katanya.

 

Tindakan keamanan

Pada tahun 2005, bagian dari Sungai Port River dinyatakan sebagai tempat perlindungan lumba-lumba, tetapi beberapa pihak merasa kini ada alasan untuk mengambil perlindungan lebih lanjut.

Marianna Boorman adalah salah satu dari sekelompok relawan yang secara teratur memantau lumba-lumba.

“Kami ingin memastikan mereka berperilaku normal. Jadi jika kami melihat seekor lumba-lumba melakuakn penamparan dalam jumlah yang berlebihan, kami selalu mencoba untuk mendapatkan pandangan yang baik atau foto ekor mereka untuk memastikan tidak ada belitan, ”katanya.

ebc90140-7780-45df-8c6e-021e6c7b5623

Ia mengatakan lumba-lumba bisa bermain-main dengan perahu, sering berenang bersama mereka, tetapi lumba-lumba yang lebih muda lebih rentan terhadap tabrakan dengna kapal karena mereka belum menyadari kapan harus menjauh.

Ia mengatakan ada solusi sederhana yang dapat membantu melindungi mereka: menerapkan batas kecepatan di beberapa bagian Sungai Adelaide.

"Benar-benar perlu ada perubahan. Lebih banyak orang yang menggunakan area tersebut dan oleh karena itu ada lebih banyak kemungkinan lumba-lumba, bahkan orang, bisa terluka.

Saat ini, batas kecepatan di sungai bervariasi dari 4 knot hingga tidak terbatas.

"Memiliki batas kecepatan terbuka memang menarik orang-orang yang ingin melaju dengan kecepatan berlebihan, melakukan 'donat' dan mengubah arah secara tidak teratur, dan itulah yang membuat risiko lumba-lumba."

Aksi Lokal

Lebih dari 11.000 orang telah menandatangani petisi yang menyerukan kepada pemerintah negara bagian untuk menerapkan batas kecepatan 10 knot.

Menteri perhubungan negara bagian, Stephen Knoll, menolak gagasan tentang batas kecepatan tunggal, mengatakan bahwa hal itu bisa menempatkan perahu, dan mereka yang berada di sana, dalam bahaya.

"Jika operator kapal mengikuti semua undang-undang yang relevan dan melakukan hal yang benar, batas kecepatan tidak diperlukan," katanya dalam sebuah pernyataan yang diberikan kepada SBS News.

1x1

Scientists measure dolphin ‘happiness’ for the first time

 

“10 knot tidak akan memberikan keamanan operasi yang cukup untuk pengiriman atau operasi kapal pesiar rekreasi,” katanya, dan dapat meningkatkan “risiko tabrakan dan akan berdampak pada kemampuan operator perahu kecil untuk mencari perlindungan dengan segera selama peristiwa cuaca buruk”.

Mike Bossley mengkhawatirkan lebih banyak lumba-lumba akan mati jika tidak ada tindakan yang diambil.

“Status quo jelas tidak berfungsi. Jika Menteri Knoll menentang batas kecepatan 10 knot, maka kita perlu mencari opsi lain. ”

Untuk saat ini, Bossley dan para relawan akan terus berpatroli di sungai itu dan memantau penghuninya yang istimewa itu.


Share

4 min read

Published

Updated

By Rhiannon Elston


Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now