Mahasiswa Indonesia penerima beasiswa belajar di Australia skeptis dengan usulan Pemerintah Victoria untuk menerima masuk 120 pelajar internasional dan pekerja panggung dan film setiap pekan mulai bulan depan akan diterima oleh Pemerintah Federal.
Mahasiswa Indonesia merasa kecewa telah terlalu lama menunggu Australia membuka perbatasan sembari mereka menjalani perkuliahan secara daring dari tanah air.
"Saya dan teman-teman penerima beasiswa LPDP angkatan 2019 sudah kompak tidak merekomendasikan Australia lagi sebagai negara tujuan untuk pelamar beasiswa LPDP mulai angkatan 2021," kata Stiven Daniel Sigalingging, mahasiswa Monash University jurusan Master of Advanced Nursing.
Stiven yang berasal dari Kisaran, Sumatra Utara telah mulai perkuliahan daring dari rumah sejak 1 Maret 2021.
Stiven diterima untuk kuliah di Monash mulai Juli 2020, namun karena Australia menutup perbatasan internasional sejak Maret 2020, ia menunda permulaan kuliahnya menjadi Maret 2021.
"Karena tidak ada kejelasan kapan perbatasan dibuka, daripada ditunda terus, saya terpaksa ambil kuliah online," kata Stiven.
"Ini membuat frustrasi, kami menaruh harapan pada pemerintah Australia dan universitas. Tapi 14 bulan menunggu dan tidak ada hasilnya," kata Stiven.
Sejauh ini Stiven belum menerima kabar dari universitas tentang rencana Pemerintah Victoria untuk membuka kuota masuk 120 orang tiap pekan mulai bulan depan.

Dengan kuliah daring dari Indonesia, penerima beasiswa LPDP Stiven Daniel Sigalingging tidak bisa membangun jaringan internasional dengan mahasiswa negara lain. Source: Facebook Stiven Daniel Sigalingging
"Tidak ada kabar dari universitas. Saya skeptis dengan usulan itu. Seperti yang sudah-sudah Pemerintah Federal sepertinya bakal menolak rencana itu," kata Stiven.
"Kalaupun rencana itu disetujui, 120 orang kuota per minggu itu bukan semua untuk pelajar saja tapi dibagi dengan kru film dan pelaku bisnis lainnya. Belum ada kepastian juga akan ada kuota untuk pelajar dari negera dengan kasus COVID yang tinggi seperti Indonesia."
Pemerintah Victoria mengusulkan untuk menambah 120 kedatangan setiap pekan di luar skema karantina hotel dengan batas mingguan 1000 orang yang kembali.
Kuota 120 per pekan itu diberikan untuk universitas, produksi panggung dan film, dan penyelenggara acara besar yang akan membayar biaya karantina hotel $3000 per orang dewasa.
Dalam surat yang ditujukan kepada Perdana Menteri Scott Morrison, Plt Menteri Utama Victoria James Merlino mengajukan persetujuan untuk skema baru in mulai berjalan 24 Mei.
Stiven mengatakan ia memilih Monash University untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan keperawatan bukan hanya karena Australia berjarak cukup dekat dengan Indonesia.
"Saya ingin membangun jaringan internasional. Monash terkenal sebagai kampus terbesar di Australia dan punya populasi mahasiswa internasional yang sangat besar, sekitar 30-40 persen," kata Stiven.
Selain tidak bisa merasakan suasana akademik yang nyata, Stiven tidak yakin bisa mencapai rencana belajarnya dengan perkuliahan secara daring.
"Untuk unit di semester 1 dan 2 memang masih memungkinkan untuk kuliah secara daring dengan segala hambatan dan kekurangannya," kata dia.
"Tapi yang mengkhawatirkan adalah saya berencana mengambil opsi minor thesis di semester 3 dan 4, tapi kalau sampai akhir 2021 saya tidak bisa berangkat ke Melbourne, saya pesimis bisa menulis minor thesis dari Indonesia."
"Kami butuh akses terhadap fasilitas kampus dan juga membangun jaringan riset dengan profesor dan teman mahasiswa lainnya, yang bakal sulit dilakukan bila saya tetap di indonesia," kata Stiven.
Stiven mengatakan banyak penerima beasiswa LPDP Kementerian Keuangan mempertimbangkan opsi untuk kuliah di negara lain.
"Seorang teman saya sudah drop out dari University of Melbourne dan berencana kuliah di Belanda atau Amerika Serikat," kata dia.
"Dia mengeluhkan kualitas kuliah daring dari University of Melbourne yang banyak konten kuliah dari video rekaman."
Stiven mengatakan sejak Maret 2021, LPDP mengizinkan penerima beasiswa untuk pindah negara.
Share


