Presiden Xi Jinping mengatakan kepada para mitra dan pemimpin bisnis Afrika hari Senin 3 September bahwa investasi Cina di benua itu "tidak memiliki ikatan politik", bahkan ketika Beijing semakin dikritik atas proyek-proyek utangnya yang berat di luar negeri.
Xi berbicara sebelum dimulainya KTT China-Afrika selama dua hari yang diharapkan akan berfokus pada proyek Belt and Road, yaitu sebuah program infrastruktur perdagangan global.
Chinese President Xi Jinping says there's no political obligations tied to big loans to African nations. Getty
Skema raksasa itu bertujuan untuk meningkatkan akses Cina ke pasar dan sumber daya asing, dan meningkatkan pengaruh Beijing di luar negeri.
Telah terlihat pinjaman Cina berjumlah miliaran dolar ke negara-negara di Asia dan Afrika untuk pembuatan jalan, kereta api, pelabuhan dan proyek infrastruktur besar lainnya.
Namun para kritikus memperingatkan bahwa proyek peliharaan pemimpin Cina itu telah mengubur beberapa negara di bawah utang besar.
"Investasi Cina di Afrika datang tanpa ikatan politik," kata Presiden Xi dalam dialog tingkat tinggi dengan para pemimpin dan perwakilan bisnis Afrika beberapa jam sebelum Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC).
"Cina tidak ikut campur dalam urusan internal Afrika dan tidak memaksakan kehendaknya di Afrika," katanya.
Angola's President Joao Lourenco meets Chinese President Xi Jinping. AP
"Kerja sama Cina dengan Afrika jelas menjadi target utama kemacetan pembangunan. Sumber daya untuk kerja sama kami tidak dibelanjakan untuk proyek-proyek yang tersia-sia, tetapi di tempat-tempat yang paling mereka perlukan."
Tetapi Xi mengakui dibutuhkan untuk mnelihat kelayakan komersial proyek-proyek itu dan memastikan dibuat persiapan yang matang untuk menurunkan risiko investasi dan membuat kerjasama itu "lebih berkelanjutan".
Presiden Xi mengatakan, proyek Belt and Road "bukan skema untuk membentuk klub atau kelompok eksklusif untuk melawan yang lain. Sebaliknya itu adalah tentang keterbukaan yang lebih besar, berbagi dan saling menguntungkan."
Sebuah studi oleh Center for Global Development, sebuah think-tank AS, menemukan "keprihatinan yang serius" tentang keberlangsungan utang negara di delapan negara Asia, Eropa dan Afrika yang menerima dana Belt dan Road.
READ MORE
Presiden Rwanda Paul Kagame, ketua Uni Afrika saat ini, menepis kekhawatiran tersebut, dan mengatakan pembicaraan tentang "perangkap utang" adalah upaya untuk mencegah interaksi Afrika-Cina.
"Perspektif lain ... adalah bahwa mereka yang mengkritik Cina atas utang memberi terlalu sedikit," kata Kagame dalam wawancara dengan kantor berita resmi Xinhua.
'Dunia yang retak'
Pada pertemuan tiga tahunan yang lalu di Johannesburg pada tahun 2015, Xi mengumumkanbantuan dan pinjaman untuk Afrika sebesar $ 60 miliar.
Negara-negara di seluruh Afrika berharap bahwa antusiasme Cina untuk investasi infrastruktur akan membantu mempromosikan industrialisasi di benua itu.
Presiden Nigeria Muhammadu Buhari akan menyaksikan penandatanganan perjanjian infrastruktur telekomunikasi yang didukung oleh fasilitas pinjaman $ 328 juta dari bank Exim China selama kunjungannya, kata kantornya.
Xi mengatakan Belt dan Road mematuhi norma-norma internasional, dan Cina "menyambut baik partisipasi negara-negara lain yang mampu dan berkeinginan untuk bekerja sama pihak ketiga yang saling menguntungkan".
South African President Cyril Ramaphosa, walks with Chinese President Xi Jinping at the Great Hall of the People in Beijing.
AAP
Cina dengan senang hati akan membantu Afrika meningkatkan fasilitas pabean dan inspeksi komoditas dan menyediakan pasokan dan peralatan untuk meningkatkan konektivitas perdagangan dengan benua itu, tambah pemimpin China itu.
Ia juga menyuarakan harapan bahwa perusahaan-perusahaan Cina dan Afrika dapat menemukan cara-cara baru untuk bekerja sama di bidang teknologi.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, berbicara setelah Xi, mengatakan bahwa FOCAC harus strategis dan "membangun hubungan antara martabat, peluang kerja dan keamanan ekonomi bagi semua orang kami".
Ramaphosa memperingatkan bahwa manfaat globalisasi belum terdistribusi secara merata antar negara, menghasilkan "dunia yang retak di mana beberapa kekuatan rentan terhadap langkah-langkah unilateral dan proteksionis".
Utang Djibouti
Cina telah memberikan bantuan kepada Afrika sejak Perang Dingin, tetapi kehadiran Beijing di kawasan itu telah tumbuh secara eksponensial dengan kemunculannya sebagai kekuatan perdagangan global.
Perusahaan-perusahaan milik negara Cina telah secara agresif mengejar investasi besar di Afrika, yang sumber dayanya sangat besar dan hal itu telah membantu mendorong transformasi Cina menjadi sebuah lokomotif ekonomi.
Namibia's President Hage Geingob is one of a host of African leaders in Beijing for a summit on China-Africa relations.
Sementara hubungan antara Cina dan negara-negara Afrika secara luas positif, kekhawatiran telah meningkat tentang dampak dari beberapa transaksi China di wilayah tersebut.
Djibouti telah menjadi sangat tergantung pada pembiayaan Cina setelah Cina membuka pangkalan militer luar negerinya yang pertama di negara Tanduk Afrika tahun lalu, sebuah sinyal kuat dari kepentingan strategis benua itu ke Beijing.
Penduduk di negara-negara lain telah mengeluh tentang praktik penggunaan tenaga kerja Cina untuk membangun proyek dan apa yang dianggap sebagai kesepakatan untuk perusahaan Cina.
Kekhawatiran tersebut kemungkinan akan tumbuh ketika negara-negara di bagian dunia lainnya - terutama Asia Tenggara - mulai mempertanyakan apakah bantuan Cina datang dengan harga yang terlalu tinggi.
Dalam kunjungan ke Beijing pada bulan Agustus, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamed mengumumkan bahwa dia membatalkan serangkaian proyek infrastruktur yang didukung Cina senilai total $ 22 miliar.
Source: AFP - SBS