Pada hari Sabtu Korea Utara menyambut KTT dengan Korea Selatan sebagai "pertemuan bersejarah" yang membuka jalan bagi dimulainya era baru, setelah kedua pemimpin berjanji untuk menciptakan perdamaian permanen dan membersihkan semenanjung dari senjata nuklir.
Kantor berita resmi KCNA memuat teks Deklarasi Panmunjom dari para pemimpin secara lengkap dan mengatakan pertemuan itu membuka jalan "untuk rekonsiliasi dan persatuan nasional, perdamaian, dan kemakmuran".

Dalam dokumen itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in "mengkonfirmasi tujuan bersama untuk mewujudkan, melalui denuklirisasi lengkap, Semenanjung Korea yang bebas nuklir".
Kalimat tersebut juga termasuk dalam teks KCNA.
Selama bertahun-tahun, Pyongyang bersikeras tidak akan menyerahkan "pedang berharga" dari persenjataan nuklirnya, dimana dikatakannya bahwa mereka perlu mempertahankan diri terhadap kemungkinan invasi AS.
Namun Korea Utara telah menawarkan untuk menegosiasikan hal ini dengan timbal balik jaminan keamanan, menurut Seoul -- meskipun Kim tidak membuat referensi publik untuk melakukannya pada KTT luar biasa pada hari Jumat.
Ketika Kim melangkahi garis demarkasi militer yang memisahkan semenanjung itu, dirinya menjadi pemimpin Korea Utara pertama yang menginjakkan kakinya di Korea Selatan sejak Perang Korea berakhir pada tahun 1953 dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Ia kemudian membujuk Moon untuk melangkah ke Utara, dan kedua pemimpin berbagi hari penuh senyuman, saat-saat akrab, dan percakapan empat mata selama setengah jam.
Korea Utara telah membuat kemajuan pesat dalam program senjatan di bawah kepemimpinan Kim, meledakkan uji coba nuklirnya yang keenam dan paling kuat pada tahun lalu, serta meluncurkan rudal yang mampu mencapai daratan AS, yang memicu semakin kerasnya sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap rezim itu.
Kim dan Presiden AS Donald Trump saling bertukar kalimat penghinaan dan ancaman perang, yang meningkatkan ketegangan sebelum Moon menggunakan Olimpiade Musim Dingin untuk menjembatani dialog, mengawali putaran diplomasi yang memusingkan yang berujung pada pertemuan di Zona Demiliterisasi pada hari Jumat.
Para analis dan diplomat mengatakan bahwa kombinasi beberapa faktor berada di balik perubahan hati Pyongyang, termasuk bahwa mereka merasa berada di posisi yang kuat untuk bernegosiasi, dampak sanksi yang membayangi, dan kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS.
Namun KCNA memuji langkah Kim.
"Pertemuan bersejarah di Panmunjom terwujud berkat kecintaan pemimpin tertinggi untuk rakyatnya dan kemauan untuk menentukan nasib sendiri" bebas dari pengaruh luar, ujar mereka.
Washington menekan Pyongyang untuk menyerahkan senjata mereka dengan lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah kembali, dan para analis mengatakan bahwa kemajuan yang berarti tersebut akan bergantung pada hasil pertemuan yang telah banyak dinantikan antara Kim dengan Trump dalam beberapa minggu mendatang.