Pada tahun 2018, Kim Jung-un menyatakan Korea Utara tidak perlu lagi melakukan uji coba nuklir, namun negosiasi nuklir dengan AS menemui jalan buntu sejak KTT Hanoi pada bulan Februari.
Kini Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah menyatakan bahwa Pyongyang akan mengabaikan moratorium tes nuklir dan rudal balistik antarbenua, seperti dilaporkan oleh media pemerintah Rabu 1 Januari 2020.

"Tidak ada dasar bagi kita untuk terikat secara sepihak dengan komitmen itu lebih lama," kantor berita resmi KCNA mengutipnya pejabat partai yang berkuasa.
"Dunia akan menyaksikan senjata strategis baru yang akan dimiliki oleh DPRK dalam waktu dekat ini," katanya.
Pengumuman itu mengancam akan membalikkan pembicaraan diplomasi nuklir dalam dua tahun terakhir, dimana Presiden AS Donald Trump secara teratur merujuk pada "janji" Kim kepadanya yang tidak melaksanakan apapun.
Korea Utara menetapkan batas waktu akhir tahun 2019 bagi AS untuk menawarkan konsesi baru, atau akan mengadopsi "jlaan baru".
Pernyataan Kim kepada sidang pleno lengkap komite pusat Partai Buruh yang berkuasa memperjelas bahwa Korea Utara bersedia hidup di bawah sanksi internasional untuk menjaga kemampuan nuklirnya.
KCNA melaporkan bahwa "AS meningkatkan tuntutan yang bertentangan dengan kepentingan mendasar negara kami dan mengadopsi sikap seperti bandit. dimana Washington telah "melakukan puluhan latihan militer bersama besar dan kecil yang secara pribadi dijanjikan oleh presiden AS untuk dihentikan" dan telah mengirim peralatan militer berteknologi tinggi ke Korea Selatan, dan meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara".
"Kami tidak pernah bisa menjual martabat kami dan Pyongyang akan "beralih ke tindakan nyata yang mengejutkan untuk membuat (AS) membayar rasa sakit yang ditanggung oleh rakyat kami".
Nara Sumber AFP - SBS
