Korea Utara dan Selatan setuju untuk menghubungkan kembali jalan, kereta api

Korea Utara dan Korea Selatan sepakat pada Senin (15 Oktober 2018) untuk mulai menghubungkan kembali jalur kereta api dan jalanan, langkah maju dalam membaiknya hubungan kedua negara Korea itu, yang yang telah meningkatkan kekhawatiran AS tentang kemungkinan merongrong tekanannya terhadap Korea Utara agar menghentikan program nuklirnya.

Flags: South Korea and North Korea

Flags: South Korea and North Korea

SEOUL (Reuters) - Kesepakatan untuk memulihkan hubungan transportasi itu datang dalam pembicaraan di desa perbatasan Panmunjom yang bertujuan untuk menindaklanjuti pertemuan ketiga tahun ini antara Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bulan lalu.

"Selatan dan Utara mencapai kesepakatan setelah dengan sungguh-sungguh mendiskusikan rencana aksi untuk mengembangkan kembali hubungan antar-Korea ke tahap baru yang lebih tinggi," pernyataan bersama yang dirilis oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan.

Mereka setuju untuk mengadakan upacara pada akhir November atau awal Desember untuk meresmikan menghubungkan kembali rel kereta api dan jalanan yang telah dipotong sejak Perang Korea 1950-53.

Kedua pihak akan melakukan studi lapangan bersama tentang rencana transportasi mulai akhir bulan ini, menurut pernyataan itu.

Mereka juga setuju akhir bulan ini untuk membahas rencana untuk berkerja sama mengajukan tawaran menjadi tuan rumah bagi Olimpiade 2032.

Dan pada bulan November nanti, untuk mengeksplorasi cara-cara untuk memulai kembali reuni webcam dan pertukaran video untuk keluarga yang terpisahkan oleh Perang Korea.

 

Para pejabat militer dari kedua belah pihak akan bertemu "dalam waktu dekat ini" untuk menyusun langkah-langkah lanjutan menuju pakta militer yang disetujui pada pertemuan puncak bulan lalu.

Perjanjian itu mencakup pemulihan kembali komisi militer gabungan, penghentian latihan militer, zona larangan terbang di dekat perbatasan mereka dan penghapusan bertahap ranjau darat dan pos penjaga di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ).

Pertemuan juga akan diadakan untuk reboisasi pada 22 Oktober, dan tentang pencegahan penyakit dan kesehatan pada akhir Oktober di kantor hubungan gabungan yang dibuka bulan lalu di kota perbatasan Korea Utara, Kaesong.

Pembicaraan itu dipimpin oleh Menteri Unifikasi Selatan Cho Myoung-gyon dan Ri Son Gwon, ketua komite Utara untuk reunifikasi damai yang menangani urusan lintas batas.

“Kami berada pada momen yang sangat penting untuk denuklirisasi semenanjung Korea dan kemajuan hubungan antar-Korea, dan juga KTT kedua Korea Utara-AS”. Cho mengatakan kepada wartawan sebelum berangkat ke Panmunjom.

AS Khawatir

Pada bulan Juni lalu, Presiden Kim Jong Un bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dalam KTT yang belum pernah terjadi sebelumnya di Singapura dan kedua belah pihak sedang mengatur pertemuan kedua, yang menurut Trump kemungkinan terjadi setelah pemilihan kongres AS pada 6 November.

Meskipun Kim dan Trump telah bertemu, namun Washington masih mengejar kebijakan "tekanan maksimum" untuk membuat Korea Utara menyerahkan senjata nuklir dan rudal balistiknya yang menurut Pyongyang mampu menghantam benua Amerika Serikat.

Pencairan hubungan antara kedua tetangga Korea itu telah memicu kekhawatiran AS bahwa hal itu mungkin mendahului  negosiasi untuk membongkar program nuklir dan rudal Korea Utara.

Pada bulan Agustus, rencana inspeksi bersama untuk proyek kereta api itu dibatalkan setelah Komando PBB (UNC), yang kewenangannya tumpang tindih dengan pasukan AS di Selatan dan mengawasi urusan di DMZ, menolak jalan lintas untuk uji coba kereta itu, demikian menurut sumber militer.

 Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha mengatakan pekan lalu bahwa Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan "ketidakpuasan" atas perjanjian militer antar-Korea.

Pernyataan Kang merupakan konfirmasi langka perselisihan antara Seoul dan Washington, meskipun sekutu telah mengatakan mereka tetap bermitra melawan Korea Utara.

Dalam pernyataan akhir pada hari Senin (15 October), Korea Utara menyalahkan Seoul atas kendala yang dihadapi dalam melaksanakan pakta mereka.

"Jika kita melihat kembali proyek-proyek yang telah kita lakukan sejauh ini, ada masalah yang harus diperbaiki, dan pihak Selatan lebih tahu," kata Ri Son Gwon, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Ditanya kemudian tentang pernyataan itu, Cho Myoung-gyon mengatakan tidak ada “latar belakang khusus” tetapi menyatakan alasan penundaan dalam prakarsa kereta api dan jalanan serta pertukaran budaya lainnya adalah “maslaah keadaan masing-masing”.

Prakarsa kereta api dan jalanan dan tawaran Olimpiade bersama disetujui oleh Moon dan Kim pada pertemuan puncak terbaru mereka, di ibukota Korea Utara, Pyongyang.

Moon juga mengatakan Korea Utara akan secara permanen menghapus fasilitas-fasilitas kunci rudal di hadapan para ahli asing.

Trump mengatakan pada hari Rabu Korea Selatan tidak akan mencabut sanksi atas Korea Utara tanpa persetujuan AS.

recovered_5a527a32caf9df773affcce267ca9dcc.jpg

North Korean leader Kim Jong-un and South Korean President Moon Jae-in's historic handshake. AAP


Share

4 min read

Published

Source: Reuters



Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now