Ada usulan dari Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas La Trobe untuk tidak melanjutkan program Bahasa Indonesia, Yunani dan Hindi, di tengah kesulitan keuangan yang melanda perguruan tinggi di Australia karena pandemi COVID-19.
Bahasa Indonesian Students Association (BISA) meluncurkan petisi untuk menyelamatkan program Bahasa Indonesia di La Trobe yang telah berlangsung sejak tahun 1989.
BISA menyebutkan program memberikan nilai yang terhitung nilainya bagi pelajar untuk memahami budaya Indonesia, pemerintahan, dan masyaraat, dan membangun kemampuan kerja praktis untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam jalur karir yang mereka pilih.
"Program itu memberi jalur yang tergantikan bagi anak muda Victoria untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang Indonesia, tetangga terdekat dengan hubungan bilateral yang dekat," sebut BISA dalam petisinya.
"Jika La Trobe meneruskan usulan itu, akan mengancam kemampuan lulusan Australia untuk bisa berkomunikasi, menjalin bisnis dan membangun hubungan yang kuat dan panjang dengan rekannya di Indonesia dalam semua aspek kehidupan."
Usulan La Trobe untuk menghapus Bahasa Indonesia muncul setelah pemerintah Australia berkomitmen untuk membuat bahasa lebih murah untuk dipelajari untuk pelajar mulai tahun 2021.

Linda Sukamta (7th from the left) with her students celebrating the Indonesian Festival at Bundoora Campus, La Trobe University, 2012. Source: Photo courtesy Linda Sukamta.
Pengakuan pemerintah Australia tentang pentingnya studi bahasa Indonesia dan program mobilitas Indonesia mendorong untuk masuk dan memberikan penolong finansial untuk menyelamatkan program kunci studi Indonesia ACICIS.
"Lebih jauh lagi, hubungan Indonesia-Australia saat ini lebih penting dari sebelumnya, di saat kedua negara memasuki Comprehensive Strategic Partnership dan the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement," sebut BISA.
"Indonesia adalah ekonomi triliunan dollar dan diproyeksikan untuk menjadi ekonomi terbesar keempat di duna pada 2050, dalam ukuran Produk Domestik Bruto."
"Kehilangan program studi bahasa Indonesia berarti merusak kemampuan lulusan Australia untuk berkontribusi meningkatkan kemitraan ekonomi dan pembangunan antara kedua negara, termasuk pada akhirnya mengamankan kepentingan bersama Australia dan Indonesia dalam keamanan dan kemakmuran regional Indo-Pasifik dimana keduanya berada."
Pada tahun 1992, 22 dari 42 universitas Australia menawarkan program bahasa Indonesia. Saat ini tinggal 14 lembaga yang menawarkan Indonesia, termasuk Universitas La Trobe.
"Jika La Trobe menghentikan program studinya yang sudah berjalan 30 tahun, itu mewakili situasi yang sulit untuk keberlanjutan studi bahasa Indonesia di Australia," sebut BISA.
"Jika usulan ini diteruskan, ini akan sangat tidak konsiten dengan kebijakan nasional Australia yang fokus pada Asia dan berisiko merusak kemajuan yang begitu banyak telah dicapai dalam hubungan Indonesia-Australia."
Share

