Australia Barat dengan ibukotanya Perth adalah kawasan yang paling terisolasi dari kota lainnya di Australia.
Kota besar terdekat dari Perth adalah Adelaide yang berjarak 2131 kilometer, bandingkan dengan jarak Adelaide dengan Melbourne yang 654 kilometer, atau Melbourne dengan Sydney yang 713 kilometer.
Tak pelak akibat jarak Perth sering seperti tidak terlalu 'terdengar' di Australia, yang bersuara nyaring biasanya Melbourne dan Sydney, serta Canberra sebagai ibukota negara.
Terisolasinya Perth menjadi semacam berkah terselubung di kala pandemi virus corona menghantam dunia.
Saat Melbourne masih terpuruk dalam pembatasan (lockdown) virus corona tingkat empat dan Sydney berupaya keras menekan angka penularan, Perth mulai pulih dan bergeliat.
Ketatnya aturan penutupan perbatasan yang diterapkan pemerintah Australia Barat hingga kini
"Saat ini kehidupan di Perth sudah seperti sebelum pandemi. Sekolah dan kerja kembali normal. Tidak ada lagi penularan di masyarakat. Kasus positif corona biasanya dari karantina. Jadi penutupan perbatasan yang ketat membuahkan hasil," kata Fina Thorpe-Willet, ketua panitia Virtual Festival Indonesia Perth 2020.
"Bedanya sekarang dengan sebelum pandemi kita menjadi terbiasa dengan protokol kesehatan, hand sanitizer tersedia dimana saja, jaga jarak sosial juga masih terus ditekankan. Tapi polisi tidak lagi gencar berpatroli seperti saat pandemi," kata Fina kepada Alfred Ginting dari SBS Indonesian.
Pandemi telah mengubah rencana komunitas Indonesia di Perth mengulang sukses Festival Indonesia 2019 yang digelar selama tiga hari.
"Tahun lalu Festival Indonesia dibuat di lapangan seluas 7000 m2, untuk tahun ini kami sudah memesan lokasi di lapangan seluas 11.000 m2. Tapi situasi pandemi membuat kami pada Juni 2020 memutuskan untuk menerjemahkan apa yang kami lakukan pada festival konvensional menjadi virtual," kata Fina.
"Sebelumnya Ibu Konjen Dewi Tobing sebagai penggagas acara mengatakan kalau tidak bisa dilaksanakan dengan berat hati bisa dibatalkan, tapi teman-teman melihat kan sedang tren acara virtual, live streaming, untuk orang yang tinggal di rumah," kata Fina.
Awalnya acara virtual yang direncanakan dengan konsep sederhana, merekam beberapa penampilan kesenian komunitas Indonesia yang dikompilasi untuk disiarkan lewat kanal media sosial.
"Tapi rasanya kok kurang keren. Kami ingin membuat acara virtual yang bagus secara audi dan visual. Tapi di antara anggota tim tidak ada yang berpengalaman dalam produksi, karena ini kan seperti produksi acara televisi," kata Fina.
Pada awal Agustus, Fina dan rekan-rekannya menggelar uji coba, melakukan siaran langsung dengan cara mereka sendiri.
"Kami sewa alat dan studio, pakai kamera sendiri, untuk melihat bagaimana kesulitannya. Lalu kami riset ternyata ada jasa profesional untuk live streaming. Kami bicara dan sepakat akan memakai jasa mereka. Jadi kami semakin percaya diri karena kami dibantu teknisi yang profesional untuk acara ini," kata Fina.
Pada festival yang disiarkan pada Sabtu 12 September di facebook dan youtube ini, selain kelompok kesenian Indonesia di Perth, panitia juga akan menampilkan penyanyi Fatur dari Bandung, Papua Original dari Jakarta secara langsung. Dimulai pada pukul 11 waktu Perth, acara akan berlangsung selama empat jam.
"Ada penampil dari Kanada dan Qatar, serta Adelindo Angklung dari Adelaide yang sudah direkam. Selain itu ada penampilan kelompok gamelan dari satu sekolah di Perth yang karena peralatannya sangat banyak kami putuskan untuk disiarkan dari rekaman," kata Fina.
Pasar virtual
Selain pementasan seni budaya, Festival Indonesia Virtual 2020 juga memanfaatkan momentum pemberlakuan IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) 5 Juli 2020 lalu dengan pasar virtual yang menyediakan makanan, kerajinan maupun jasa yang melibatkan para pelaku usaha Indonesia di Perth.
Pada pasar virtual yang akan berlangsung selama 14 hari, orang memesan di depan.
"Produk dan jasa yang diminati akan dikirimkan melalui jasa pengiriman ke pembeli, dan tidak terbatas pada wilayah kota Perth dan sekitarnya saja," kata Fina.
Melalui pasar virtual ini, Festival Indonesia Virtual 2020 juga menjadi peluang bagi para pengusaha di Indonesia untuk memperkenalkan produknya ke pasar Australia.
Konsulat Jenderal RI untuk Australia Barat, Dewi Tobing menggaris bawahi peran penting VFI dalam mendorong kerjasama ekonomi antara kedua negara.

Pasar virtual Source: Facebook
Di samping misi budaya dan ekonomi, VFI 2020 ini juga membawa semangat filantropis dengan penggalangan dana untuk mendukung para pegiat seni dan budaya di Indonesia.
"Komunitas seni dan budaya merupakan salah-satu kalangan rentan yang tentunya juga terdampak situasi pandemi baik secara langsung maupun tidak langsung, dan oleh karenanya layak memperoleh perhatian," kata Fina.
"Selain transaksi di pasar, kami juga akan menyediakan tombol donasi bagi pengunjung."
Share
