Sebanyak 26 orang pengungsi yang ditahan di Park Hotel, Melbourne pada hari Rabu diberitahu mereka akan dibebaskan ke masyarakat dan mendapatkan bridging visa.
Keputusan pemerintah itu melegakan bagi para pencari suaka yang sebelumnya telah ditahan 13 bulan di Mantra Hotel Preston, utara Melbourne, dan tujuh tahun di pusat detensi di Pulau Manus dan Nauru.
Berita tentang pembebasan itu menyebar setelah salah satu pencari suaka asal Kurdi yang ditahan di Park Hotel, Mostafa Azimitabar, memposting tweet tentang hal itu pada Rabu pagi.
Mereka dibawa dari Park Hotel dengan bis menuju Melbourne Immigration Transit Accommodation Centre (MITA) pada Rabu pagi untuk diproses dan dibebaskan, kata pengacara.
Rekaman video yang diambil dari luar MITA pada Rabu petang menunjukkan dua bis kecil dan satu taksi meninggalkan faslitas itu dan para pendukung pengungsi bersorak dan melambaikan tangan ketika kendaraan pergi.
Para pengungsi dibawa ke Australia di bawah legislasi medevac yang sudah dicabut dari pusat detensi di Pulau Manus dan Nauru.
Selama berbulan-bulan, aktivis dan simpatisan pendukung hak pengungsi menggelar protes di depan Mantra Hotel dan kemudian setelah mereka dipindahkan ke Park Hotel.
Park Hotel sebelumnya bernama Rydges on Swanston yang merupakan salah satu dari hotel karantina sumber wabah virus corona gelombang kedua di Melbourne.
Bridging visa akan memungkinkan mereka untuk hidup di masyarakat sampai keputusan final terhadap pengajuan mereka untuk meminta suaka diputuskan
“Ini adalah kemenangan pertama dan terutama bagi orang-orang di dalam, yang ditempatkan dalam kondisi buruk selama beberapa tahun tapi tidak pernah menyerah berjuang untuk kemerdekaan mereka,” kata Nahui Jimenez, koordinastor protes untuk Campaign Against Racism and Fascism.
“Ini juga sebuah kemenangan bagi gerakan pengungsi, yang telah bersatu turun ke jalan dari hari ke hari, bulan ke bulan.”
CARF tetap melanjutkan rencana aksi protes pada 30 Januari di depan Park Hotel dan akan mengundang 26 orang yang baru dibebaskan sebagai tamu kehormatan.

26 refugees from the Park Hotel were told on 20th January that they have been granted bridging visas and set free into the community. Source: SBS/Alfred Ginting
“Kami akan melanjutkan protes sampai semua pengungsi di gedung itu dibebaskan," kata Jimenez.
"Mereka semua seharusnya diberikan kewarganegaraan permanen secepatnya, bukan sekadar bridging visa yang sudah ditawarkan sejauh ini.
Ian Rintoul dari Refugee Action Coalition mengatakan ia mengetahui ada total 45 orang yang dibebaskan pada Rabu pagi.
“Berita baik kalau pemerintah telah mulai membebaskan pengungsi yang dibawa dari Manus dan Nauru untuk perawatan kesehatan, mereka seharusnya tidak pernah ditahan di detensi di Australia. Mereka seharusnya dibebaskan segera," kata dia Rintoul dalam pernyataannya.
Rintoul mengatakan mereka yang dibebaskan hanya disediakan akomodasi tiga minggu.
Seorang juru bicara Departemen Dalam Negeri tidak bersedia mengonfirmasi berapa banyak pengungsi yang mendapat bridging visa, tapi mengatakan tidak seorang pun "yang mencoba perjalanan lewat laut ilegal" ke Australia akan ditempatkan secara permanen di Australia.

Two refugee activists hold sign in front of Park Hotel Carlton, Melbourne. Source: SBS/Alfred Ginting
"Para individu yang tinggal di tempat alternatif dari pusat detensi dibawa ke Australia sementara untuk perawatan kesehatan. Mereka didorong untuk menfinalisasi perawatan kesehatan mereka supaya mereka dapat melanjutkan jalan pemukiman mereka kembali ke Amerika Serikat, kembali ke Nauru atau Papua Nugini, atau kembali ke negara asal mereka," kata juru bicara itu.
"Bridging visa memungkinkan individu itu untuk bertempat tinggal sementara di masyarakat Australia sementara mereka memfinalisasi pengaturan mereka untuk meninggalkan Australia".
Share


