Sydney secara resmi telah menyatakan darurat iklim, dengan anggota dewan kota itu memberikan suara mereka, menyatakan bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko serius bagi masyarakat Sydney dan seluruh Australia.
Lord Mayor Clover Moore pada Senin malam meminta dewan untuk meminta Pemerintah Federal segera menanggapi keadaan darurat ini, dengan memperkenalkan kembali harga karbon untuk memenuhi target pengurangan emisi Perjanjian Paris.
Pada 2007, Kota Sydney mengungkapkan rencana strategis jangka panjangnya, Sustainable Sydney 2030, dimana 97 persen penduduk mengatakan mereka menginginkan aksi iklim yang kuat.
“Kita menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi kita hingga 70 persen pada tahun 2030, dan mengikuti Perjanjian Iklim Paris pada 2015, kami menetapkan tujuan yang lebih ambisius untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2050”, kata Lord Mayor itu.
Dewan juga menyerukan kepada Pemerintah Federal untuk membentuk Otoritas Transisi Adil untuk memastikan agar warga Australia yang bekerja di industri bahan bakar fosil mendapatkan pekerjaan alternatif yang sesuai.
“Kita menjadi dewan netral karbon pertama di Australia pada 2007, dan pada Juni 2017, kita mengurangi emisi dalam operasi kita sendiri sebesar 25 persen, kata Moore.
"Pada tahun 2020, kita akan didukung oleh 100 persen energi terbarukan, memungkinkan kita untuk memenuhi target 2030 kita pada tahun 2024 - enam tahun lebih awal."
Kepala eksekutif Dewan Iklim Amanda McKenzie mengatakan deklarasi Sydney - yangmana Dewan Kota diharapkan dengan mudah menyetujuinya - menggarisbawahi "betapa seriusnya masalah perubahan iklim."
"Ini krisis yang benar-benar terjadi," katanya. "Sydney telah merespon dengan cara yang tepat."
Awal tahun ini, sekelompok dewan Australia mendeklarasikan 'darurat iklim' setelah sebuah laporan PBB memperingatkan perlunya tindakan yang segera dan meluas guna mencegah kenaikan suhu dua derajat Celcius yang dapat menyebabkan bencana pemanasan global bagi planet ini.
