Setelah letusan mematikan di White Island di Selandia Baru, banyak pertanyaan bermunculan tentang mengapa para wisatawan diijinkan berada di gunung berapi aktif yang telah dipantau secara ketat selama bertahun-tahun tersebut.
Enam orang tewas dan delapan orang - termasuk warga Selandia Baru dan wisatawan asal Australia, Inggris, AS, Cina, dan Malaysia - hilang dan diperkirakan tewas setelah letusan gunung berapi Whakaari.
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan "akan ada pertanyaan yang diajukan, yang perlu dijawab... oleh pihak yang berwenang... itu adalah gunung berapi aktif yang tidak dapat diprediksikan".

Meski sistem pemantauan bahaya geologi nasional, Geonet melacak aktivitas gunung berapi, tetapi pulau ini dimiliki secara pribadi dan terserah pada operator tur untuk memutuskan kapan dapat berkunjung.
Geonet telah menempatkan gunung berapi ini pada tingkat dua, menunjukkan aktivitas vulkanik minor. Gunung ini berada di level satu menjelang letusannya sebelumnya pada tahun 2016.
White Island berada di Cincin Api Pasifik, sebuah wilayah yang dikenal sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi, dan merupakan puncak yang tampak dari gunung berapi besar di bawah laut yang terletak 48 kilometer di lepas pantai Whakatane di sisi perairan timur dari Pulau Utara Selandia Baru.
Salah satu operator perjalanan wisata, White Island Tours, menyebutkan pada situs webnya - yang tidak lagi dipasang - bahwa mereka beroperasi selama tingkat siaga yang berbeda, tetapi menambahkan bahwa "para penumpang harus menyadari bahwa selalu ada risiko aktivitas letusan terlepas dari tingkat peringatan bahaya."
Situs web itu juga menyebutkan bahwa perusahaan itu "mengikuti rencana keselamatan komprehensif yang menentukan kegiatan kami di pulau itu pada berbagai tingkatan [peringatan bahaya]."
Paul Quinn, pimpinan Ngati Awa Holdings yang memiliki White Island Tours, mengatakan kepada Radio New Zealand bahwa tingkat siaga yang meningkat di gunung berapi itu selama beberapa minggu terakhir tidak sampai pada ambang batas untuk menghentikan operasi mereka.
"[Untuk] Level 3 dan di atasnya kami berhubungan secara lebih langsung dengan GeoNet tetapi level 2 masih dalam pedoman operasional kami," ujarnya.
Para wisatawan hanya diperbolehkan mendarat di White Island sebagai bagian dari kelompok wisata dan diberi topi keras dan masker gas untuk melindungi dari uap belerang. Sekitar 10.000 wisatawan mengunjungi White Island setiap tahunnya.

Ross Dowling, peneliti pariwisata di Edith Cowan University di Perth, mengatakan bahwa "jumlah wisatawan yang mengunjungi gunung berapi aktif meningkat secara global sebagai bagian dari peningkatan wisata geologi dan juga wisata petualangan.
"Bagian dari daya tariknya adalah mengunjungi lingkungan alam yang tidak terprediksi dan bagi sebagian besar wisatawan mereka menganggap bahwa mereka akan dapat mengunjungi situs-situs berbahaya semacam itu dengan relatif aman."
"White Island telah menjadi potensi bencana selama bertahun-tahun," Ray Cas, profesor emeritus di School of Earth, Atmosphere and Environment di Monash University, mengatakan pada Science Media Center.
"Setelah mengunjunginya dua kali, saya selalu merasa bahwa terlalu berbahaya untuk mengijinkan kelompok wisata harian mengunjungi gunung berapi berbentuk pulau tak berpenghuni itu dengan kapal dan helikopter," tambahnya.
Ahli kegunungapian Shane Cronin mengatakan kepada Science Media Center bahwa "letusan secara tiba-tiba dan tak terduga dari gunung berapi seperti White Island dapat diharapkan terjadi kapan saja."
Magmanya dekat dengan permukaan, dan panas serta gas membentuk sistem hidrotermal.
"Kita tahu bahwa erupsi hidrotermal dan apa yang disebut 'freatik' dapat terjadi secara tiba-tiba dan dengan sedikit atau bahkan tanpa peringatan karena letusan tersebut didorong oleh ekspansi air yang sangat panas menjadi uap," katanya.
