Bagi diaspora dan generasi muda di Australia, bahasa Indonesia bukan sekadar bahasa ibu, tetapi juga identitas dan jembatan antara kedua negara.
Dalam perayaan HUT RI ke-81 di KJRI Melbourne, sejumlah siswa dari Dromana Secondary College tampil membawakan lagu-lagu Indonesia seperti "Tanah Airku" dan "Laskar Pelangi". Para siswa tersebut merupakan anak-anak Australia yang belajar bahasa Indonesia di sekolah mereka.
Momen tersebut menjadi contoh bagaimana bahasa Indonesia tidak sekadar dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga dihayati melalui budaya populer dan musik, ujar Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania.

Belajar bahasa Indonesia, menurut Bapak Prasetyo, bukan hanya soal berkomunikasi, melainkan juga jalan untuk memahami mentalitas dan budaya bangsa Indonesia. Ia juga menyoroti potensi budaya populer Indonesia untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa, sebagaimana Jepang dengan anime dan Korea dengan K-pop.
Bahasa Indonesia itu tidak hanya bahasa saja, tapi juga merupakan satu gaya, satu mentalitas dari bangsa Indonesia.Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania
Sementara itu, Dr. Jonathan Hasian Haposan, kandidat doktoral di bidang Kesehatan Anak dan Remaja di Universitas Melbourne, yang pada malam itu menerima penghargaan Konjen RI Melbourne Award 2026, mengatakan bahasa Indonesia berperan penting dalam kolaborasi riset antara kedua negara. Menurutnya, ketika peneliti Australia memahami bahasa Indonesia, mereka juga memahami konteks masyarakatnya sehingga penelitian yang dihasilkan bukan sekadar riset "tentang" Indonesia, melainkan riset "bersama" Indonesia.

Bahasa Indonesia itu menjadi identitas buat kita semua.Dr. Jonathan Hasian Haposan
Bahasa Indonesia, tambah Dr. Haposan, tetap dibutuhkan oleh diaspora di Australia, termasuk dalam membantu mahasiswa Indonesia yang menghadapi kendala bahasa saat mengakses layanan kesehatan.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





