SKIP TO MAIN CONTENT

Bahasa Indonesia, Lebih dari Sekadar Alat Komunikasi

Students from Dromana Secondary College after performing Indonesian songs at the 81st Indonesian Independence Day celebration in Melbourne.
Students from Dromana Secondary College after performing Indonesian songs at the 81st Indonesian Independence Day celebration in Melbourne. Source: Supplied / Helena Anggraeni

Bagi diaspora dan generasi muda di Australia, bahasa Indonesia bukan sekadar bahasa ibu, tetapi juga identitas dan jembatan antara kedua negara.


Published

By Anne Parisianne

Source: SBS



Skip to podcast episode content

Bagi diaspora dan generasi muda di Australia, bahasa Indonesia bukan sekadar bahasa ibu, tetapi juga identitas dan jembatan antara kedua negara.


Dalam perayaan HUT RI ke-81 di KJRI Melbourne, sejumlah siswa dari Dromana Secondary College tampil membawakan lagu-lagu Indonesia seperti "Tanah Airku" dan "Laskar Pelangi". Para siswa tersebut merupakan anak-anak Australia yang belajar bahasa Indonesia di sekolah mereka.

Momen tersebut menjadi contoh bagaimana bahasa Indonesia tidak sekadar dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga dihayati melalui budaya populer dan musik, ujar Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania.

Paskibra members during the 81st Indonesian Independence Day ceremony at the Indonesian Consulate-General in Melbourne.
Paskibra members during the 81st Indonesian Independence Day ceremony at the Indonesian Consulate-General in Melbourne. Credit: SBS Indonesian / Anne Parisianne

Belajar bahasa Indonesia, menurut Bapak Prasetyo, bukan hanya soal berkomunikasi, melainkan juga jalan untuk memahami mentalitas dan budaya bangsa Indonesia. Ia juga menyoroti potensi budaya populer Indonesia untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa, sebagaimana Jepang dengan anime dan Korea dengan K-pop.

Bahasa Indonesia itu tidak hanya bahasa saja, tapi juga merupakan satu gaya, satu mentalitas dari bangsa Indonesia.
Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania

Sementara itu, Dr. Jonathan Hasian Haposan, kandidat doktoral di bidang Kesehatan Anak dan Remaja di Universitas Melbourne, yang pada malam itu menerima penghargaan Konjen RI Melbourne Award 2026, mengatakan bahasa Indonesia berperan penting dalam kolaborasi riset antara kedua negara. Menurutnya, ketika peneliti Australia memahami bahasa Indonesia, mereka juga memahami konteks masyarakatnya sehingga penelitian yang dihasilkan bukan sekadar riset "tentang" Indonesia, melainkan riset "bersama" Indonesia.

L-R: Indonesian Consul-General for Victoria and Tasmania Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo and Dr Jonathan Hasian Haposan.
L-R: Indonesian Consul-General for Victoria and Tasmania Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo and Dr Jonathan Hasian Haposan. Credit: SBS Indonesian / Anne Parisianne
Bahasa Indonesia itu menjadi identitas buat kita semua.
Dr. Jonathan Hasian Haposan

Bahasa Indonesia, tambah Dr. Haposan, tetap dibutuhkan oleh diaspora di Australia, termasuk dalam membantu mahasiswa Indonesia yang menghadapi kendala bahasa saat mengakses layanan kesehatan.

Dengarkan podcast ini selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now