Pendengar, telah berlangsung The National
Australia Indonesia Language Awards atau
NAILA 2025. NAILA adalah kompetisi yang
memberikan penghargaan sekaligus mendorong
perkembangan pembelajaran bahasa
Indonesia di Australia pada semua jenjang.
Malam penganugerahan NAILA digelar pada
Sabtu dua puluh dua November di The
University of Queensland di Brisbane, di
mana diumumkan para pemenang dalam enam
kategori. Tahun ini saya sempat menjadi
juri NAILA dan di kesempatan ini saya
berbincang dengan salah satu juri lainnya,
yaitu Ana Surjanto. Berikut perbincangan
kami. Mbak Ana, terima kasih sudah
meluangkan waktu untuk wawancara ini. Ini
saya harus sebutkan dulu nih kepada
pendengar kalau kebetulan tahun ini saya
juga juri NAILA bersama dengan Mbak Ana.
Tapi kami berdua menjadi juri di kategori
-yang berbeda ya, betul ya Mbak?
-Iya, saya menjadi juri untuk kategori
-early, middle and tertiary [tertawa].
-Dan ini bagaimana nih kesan Mbak Ana
melihat para peserta NAILA yang Anda
nilai? Mungkin dari perbandingannya di
antara mereka yang di kategori
masing-masing ya?
Iya, seru sekali sih pas melihat mereka
itu ya pidato atau presentasi, ada juga
yang praktek langsung loh. Bahkan temanya
olahraga ya, ada yang langsung pakai bola
basket atau kayak yang primary category,
itu kan yang juaranya Nia Fernandez ya,
dia bahasa Indonesianya juga smooth gitu,
lancar, padahal masih anak kecil ya, gitu.
Maksudnya kategori primary itu tadi ya.
Dan dia pakai bola basket, jadi interaktif
juga sih dan nunjukin gitu. Maksudnya
sambil ngomong pakai bahasa Indonesia,
sambil ngelihatin hobinya dia. Terus, ya
itu yang juara satu kemarin.
Dan yang membuat saya pribadi terkesima
juga tidak semua diaspora Indonesia
ternyata yang tertarik untuk mendalami
bahasa Indonesia begitu ya?
Itu kan orang Australia juga kan yang
orang Australia yang tertarik belajar
bahasa Indonesia dan itu luar biasa gitu.
Salut sekali kemarin itu anak-anak-- iya
yang bahkan berbagai ini ya, dari seluruh
Australia ya, kemarin ada yang dari anak
di sekolah di Perth, di Canberra, di
Victoria gitu, anak-anak Australia yang
-tertarik dan belajar bahasa Indonesia.
-Ya, sangat menyenangkan melihat mereka
semua sangat antusias ya. Dan ini apa yang
paling Mbak Ana nikmati dari pengalaman
-menjadi juri?
-Ya, awalnya ya ada yang mengontak gitu
kan. Ya, saya merasa senang karena bisa
mendukung program bahasa Indonesia yang
diminati sama dipelajari sama anak-anak
Australia di Australia. Dan itu mereka
luar biasa sekali, lancar terus juga
smooth. Terus menarik sekali ya, beberapa
juga karena dengan tema olahraga itu ada
juga yang menunjukkan itu skillnya dengan
taekwondo. Jadi, jelasin taekwondo itu
yang jadi juara pertama juga yang kategori
middle. Itu saya ingat namanya Ella
Sullivan. Itu tinggalnya di Canberra.
Kemudian dia mempraktekkan bahwa nanti
kalau ada teman-teman Indonesia saya yang
ke Canberra, saya akan tunjukkan cara
bermain taekwondo gitu dan itu seru sekali
gitu dan sangat ekspresif juga itu
anaknya, terus interaktif gitu. Ya, saya
malah apa ya salut sekali gitu, apa ya?
Dan juga anak-anak di sini memang percaya
diri ya, gitu. Itu poin bagus sekali dalam
menyampaikannya juga apalagi pakai bahasa
Indonesia tentu saya terkesan dan kagum
sama anak-anak Australia yang belajar
bahasa Indonesia dan lancar gitu [tertawa]
.
Mungkin saya ingin perjelaskan terlebih
dahulu kepada pendengar bahwa metode
penjurianya adalah para peserta memberikan
video dua menit, tiga menit, jadi sangat
singkat dan videonya itu lumayan
interaktif. Karena di situ para peserta
tidak hanya katakanlah berpidato dalam
bahasa Indonesia, tapi juga ada seperti
yang Mbak Ana bilang tadi, ada menunjukkan
lagi sedang bermain taekwondo atau sedang
bermain bola atau sebagainya sih, seperti
itu. Dan untuk tema olahraga ini pas
tidak nih menurut Mbak Ana untuk konteks
Australia?
Itu tepat sekali, terutama tahun ini dan
saya jurinya ya karena saya mengetahui ya
budaya di Australia itu rata-rata
masyarakatnya memang suka olahraga.
beberapa olahraga yang terkenal dan mereka
juga sering mendapatkan medali emas ya,
misalnya seperti swimming, berenang gitu.
Jadi sangat pas dan keren kalau terutama
juga untuk menjadi sarana diplomasi juga
gitu. Dan kebetulan ini kan pakai bahasa
Indonesia ya, jadi sangat bagus sekali ya,
tepatlah gitu [tertawa].
Dan ini menurutmu nih Mbak, pentingnya
lomba NAILA ini untuk komunitas dan
maksudnya pembelajaran bahasa Indonesia
secara umum di Australia ini bagaimana ya?
Karena kan kita tahu ya minat orang
Australia untuk mempelajari bahasa
-Indonesia itu sepertinya turun ya?
-Betul, Mbak. Saya mendengar kabar itu
kalau ada penurunan pembelajaran bahasa
Indonesia tentu sangat sedih ya. Semoga
dengan adanya NAILA ini menjadi
penyemangat ya buat anak-anak Australia
yang lain untuk meningkatkan atau terus
belajar bahasa Indonesia karena juga biar
sustainable dalam arti Indonesia kan
negara tetangga gitu ya. Jadi sudah
selayaknyalah ya kita saling mengenal itu
termasuk dengan bahasanya ya. Ya, semoga
ini ya, ini juga menjadi concern bersama
ya, baik dari pemerintah Australia gitu
dan pemerintah Indonesia juga. Tapi ya
tentu diplomasi itu sudah sering dilakukan
ya, kalau dari di Indonesia sendiri yang
di Melbourne kan saya juga melihat ya, ada
festival Indonesia terus juga ada
warung-warung Indonesia gitu. Nah kemudian
dengan adanya NAILA ini semoga semakin
banyak menjadi pemacu gitu buat anak-anak
Australia yang lain. Wow gitu ya, bahwa
belajar bahasa Indonesia itu juga seru
kemudian juga menjadi familiar dengan
Indonesia sebagai negara tetangga gitu dan
semoga inilah sayang sekali lah kalau
turun malahan gitu, seharusnya naik gitu
-[tertawa].
-Dan lomba seperti NAILA ini bisa
memperkuat gitu, mempereratlah hubungan
Indonesia Australia?
Ya tentu Mbak, itu implikasinya bisa juga
tujuannya gitu ya pasti secara umum kita
berharap ya hubungan Indonesia sama
Australia makin dekat, makin erat gitu.
Nah dengan adanya NAILA, tentu ini menjadi
salah satu cara yang luar biasa juga ini
untuk mempererat hubungan Indonesia
Australia lewat diplomasi budaya dalam
arti bahasa ya, bisa dibilang diplomasi
bahasa dan budaya.Juga dengan tema
olahraga juga. Jadi berbagai sektor pun
bisa ter-cover juga gitu. Jadi ini hal
yang menarik ya, simple ya, lomba bahasa
gitu. Tapi ternyata ini menjadi acara juga
buat diplomasi ya gitu. Diplomasi dengan
budaya karena juga di poin-poin yang
disampaikan anak-anak di pidatonya itu
juga mereka juga memiliki pemahaman yang
luar biasa juga terhadap Indonesia gitu.
Beberapa itu juga mengusulkan ide-ide di
presentasi itu jadi lewat olahraga juga
gitu.
Mbak, ada tips enggak ya untuk peserta
yang mau ikutan NAILA tahun depan nih?
Iya semoga makin banyak sekolah-sekolah di
Australia ya. Artinya semoga banyak anak
Australia yang tahun depan mendaftar lomba
NAILA ini gitu. Terus juga, oh ya karena
berbagai kategori ya termasuk universitas
yang tersieri tadi juga semoga banyak juga
pendaftar dari anak-anak mahasiswa gitu.
Apalagi karena kan yang mahasiswa itu kan
pemuda gitu kan biasanya dikenal sebagai
agent of change gitu. Jadi, semoga makin
banyak anak-anak Australia dari berbagai
level sekolah gitu, baik sampai yang
tersieri tadi. Karena itu anak-anak muda
makin minat makin mengenal NAILA itu apa
dan juga ada peningkatan pendaftaran di
tahun depan. Intinya ini ya, buat
temen-temen Australia yang ingin belajar
bahasa Indonesia juga tidak perlu takut
salah masalah grammar atau kosakata ya
karena memang bahasa Indonesia itu malah
lebih simple gak begitu banyak perubahan
[tertawa] tenses gitu ya terus juga ini
bukan hanya sekedar bahasa juga tapi
mereka pasti akan semakin mengenal oh
Indonesia tidak hanya Bali gitu ya terus
juga sama ini ya, semoga terus tidak hanya
lomba NAILA juga ternyata semoga ada
peningkatan dalam pemakaian bahasa
Indonesia di kehidupan sehari-hari anak
Australia yang sudah belajar bahasa
-Indonesia, gitu Mbak.
-Iya, baik. Terima kasih banyak ya Mbak Ana
-atas waktunya.
-Sama-sama, Mbak Anne.
END OF TRANSCRIPT