Media sosial raksasa FACEBOOK mendapat kecaman karena tidak berbuat cukup untuk membatasi campur tangan asing, terutama dalam pemilihan AS dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Berita palsu menjadi perhatian utama selama pemilihan presiden AS 2016, setelah Rusia diduga menggunakan Facebook untuk mempengaruhi pemilih.
Dalam upaya untuk menindak campur tangan asing dalam pemilihan mendatang, media sosial raksasa tersebut untuk sementara waktu melarang iklan politik yang dibeli dari luar negeri.
Dalam sebuah pernyataan, direktur kebijakan lokal Facebook Mia Garlick mengatakan, "larangan Itu akan diberlakukan untuk iklan yang kami tentukan berasal dari entitas asing yang bersifat pemilu, artinya mengandung referensi kepada politisi, partai, atau penindasan pemilu."
Penumpasan berita palsu itu telah disambut baik oleh pakar media sosial University of Melbourne Dr Brent Coker




