Jakarta kini resmi menjadi kota terpadat di dunia dengan 42 juta jiwa, menggeser Tokyo, menurut PBB. Ahli demografi menjelaskan dampaknya dan apakah diaspora Indonesia perlu berpikir ulang untuk pulang.
Ketika PBB mengumumkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan 42 juta penduduk, bagi Radit, seorang mahasiswa Indonesia di Melbourne, angka itu bukan kejutan.
"Nggak kaget sih, karena jujur sebagai orang Jakarta yang mengalami sendiri betapa padatnya," ujar Radit yang dulu setiap hari rutin menggunakan berbagai moda transportasi––mobil, MRT, ojek online––dari rumah ke tempat bekerjanya di Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta mengatakan penduduk resmi Jakarta hanya 11 juta jiwa, dan angka 42 juta itu termasuk komuter harian dari Jabodetabek.

Menurut ahli demografi dan dosen di Macquarie University di Sydney, Dr. Salut Muhidin, metodologi yang digunakan PBB adalah The Degree of Urbanization (DEGURBA), sebuah standar global yang mengklasifikasikan wilayah menjadi kota, pinggiran kota, dan pedesaan, berdasarkan ukuran populasi, kepadatan, dan kedekatan geografis.
Kemudian, timbul pertanyaan-pertanyaan: apa sebenarnya dampak dari kepadatan ini? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan ini? Dan dengan 40% Jakarta berada di bawah permukaan laut yang terus tenggelam, apakah situasi ini masih bisa dikelola? Apakah pemindahan ibu kota ke Nusantara bisa membantu?
Ternyata, kepadatan Jakarta tidak mengurangi daya tariknya bagi mereka yang ingin tinggal di sana. Seperti Radit, yang meski kini menikmati hidup di Melbourne dengan standar yang lebih tinggi, tetap berencana pulang. "Ada rasa hangat yang tidak bisa ditemui," katanya.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





