Enggak kaget sih, Jakarta dengan empat
puluh dua juta orang di dalamnya. Karena
jujur sebagai orang Jakarta yang mengalami
sendiri betapa padatnya [tertawa kecil]
jadi enggak kaget sih. Malah kayak selama
di Jakarta kerja mobile bolak balik tuh
kadang mikir juga, masa sih Jakarta bukan
yang terpadat? Karena sebagai orang yang
memang mobilitas utamanya sebelum pindah
ke sini itu di Jakarta dari Selatan ke
Pusat, memang merasakan sendiri sih betapa
padatnya lalu lintas yang dihadapin
setiap harinya. Karena kebetulan kalau aku
tuh benarbenar beberapa mode transport ya
setiap hari. Mulai dari bawa mobil ke
stasiun MRT terdekat. Jadi ngerasain tuh
betapa padatnya lalu lintas roda empat,
ditambah lagi roda dua yang sangat banyak
juga setiap pagi, biasanya jam tujuan.
Kemudian di MRT, di rush hour itu jam
delapan sampai jam sembilan, ngalamin lagi
betapa penuhnya, tapi nyaman sih kalau di
MRT. Kemudian dari MRT turun di Stasiun
Setiabudi biasanya lanjut naik ojek lagi
ke Kuningan. Kalau aku sih akan tetap
balik karena ternyata setelah dijalanin
aku lumayan kangen rumah sih [tertawa].
Enggak bisa dijelasin ya walaupun betapa
fun, seru, standar hidup yang mungkin
berbeda, bahkan levelnya lebih tinggi di
sini. Secara-- ya saya pun bahagia gitu ya
hidup di sini. Cuman ada rasa mungkin
rasa hangat yang tidak bisa ditemui sih.
Jadi eventually bakal tetap balik ke
Indonesia karena orangorang ya. Once
pulang kita ambillah contohcontoh baik
yang bisa diambil dari tinggal di
Australia.
Itu tadi Radit, mahasiswa Indonesia di
Melbourne yang berasal dari Jakarta
menceritakan kesehariannya sewaktu masih
tinggal di Jakarta. Dan memang menurut
laporan PBB, Jakarta sekarang kota dengan
penduduk terbanyak di dunia, empat puluh
dua juta orang. Namun, mengutip Radit,
kepadatan Jakarta tidak membuat ia
mengurungkan niat untuk tinggal kembali di
sana. Kemudian timbul pertanyaan, apa
sebenarnya dampak dari kepadatan ini? Apa
yang bisa dilakukan untuk mengatasi
tantangan ini? Dan dengan empat puluh
persen Jakarta berada di bawah permukaan
laut yang terus tenggelam, apakah situasi
ini masih bisa dikelola? Untuk membahas
ini lebih dalam, saya berbincang dengan
Dr. Salut Muhyiddin, seorang ahli
demografi. Berikut percakapan kami.
Pak Salut, PBB baru saja menetapkan
Jakarta sekarang kota terpadat di dunia,
empat puluh dua juta penduduk menggeser
Tokyo ya. Sebagai ahli demografi, apa
-artinya ini buat Jakarta, Pak?
-Ya, memang saya mengikuti perkembangan
kependudukan termasuk Indonesia ya sebagai
demographer. Memang menarik itu laporan
dari World Urbanisation Prospect yang
terakhir dua dua lima kemarin dari UN.
Sebenarnya ada banyak [tertawa] message
yang ada di situ, tapi memang karena ini
berhubungan dengan Indonesia, Jakarta
dijadikan list sebagai the most populous
city. Banyak sekali dampaknya. Artinya
begini, bahwa ini sebagai istilahnya
pemberitahuan bahwa, hei, Jakarta semakin
tinggi loh ininya, tingkat urbanisasinya.
Yang saya baca di berita di dalam negeri
juga bilang, "Oh enggak, kita masih tetap
sebelas juta", gitu. Itu hanya semuanya,
betul adanya. Jadi kalau menunjukkan bahwa
kota itu sendiri, kalau mau baca
lengkapnya di UN report itu, memang dia
menunjukkan bahwa ada perbaikan dalam hal
metodologi dan sebagainya. Karena sebagai
demografi, kita untuk mengukur jumlah
penduduk di suatu tempat itu ada banyak
cara. Yang pertama secara alamiah,
pertambahan penduduk mulai dari
perpindahan kayak urbanisasi dan
kelahiran, dan juga pengurangan dari
kematian maupun perpindahan keluar. Tapi
pada saat yang sama juga ada yang tidak
alami, kita bilang ya. Alamiah dan yang
tidak alami itu adalah misalnya,
pemekaran. Ya kan? Artinya tadinya
wilayahnya cuma satu kelurahan, sekarang
kelurahan sebelahnya jadi kota nih, gitu.
Kemudian juga masalah definisi yang
tadinya misalnya awalnya cuma sepuluh ribu
penduduk itu sebagai kota, sekarang jadi
dua puluh ribu. Nah, gitu, jadi ada
pertambahan. Nah, banyak argue bahwa
Jakarta sebagai kota terpadat saat ini
sebagai dibilangnya sekitar empat puluh
dua juta, itu memang diakui di UN Report
itu, dia tidak hanya melihat sebagai
administratif. Karena dia ingin
membandingkan secara standar ya, dengan
kota lain, ya. Itu dari segi kepadatan,
kemudian juga dari sisi berhubungan antara
satu dan lainnya. Nah, itu mendapatkan
kesimpulan bahwa empat puluh dua juta
untuk Jakarta. Terlepas dari perbedaan
itu, ini adalah saya pikir kita diberikan,
istilahnya apa ya, tanda-tanda bahwa,
hey, banyak loh konsekuensinya dari kalau
semakin besar. Pertama, bahwa apakah kita
sudah memikirkan antara fasilitas pagi dan
malam gitu ya. Seperti di kota-kota
Australi atau di kota tertentu misalnya
Snowy Mountain, itu dia juga punya
estimasi penduduk yang biasa dan penduduk
ketika musim turis. Itu berdampak kepada
fasilitas.
Itu memberikan PR tersendiri kepada
pemerintah lokal ataupun pemerintah pusat.
Menyatakan bahwa tolong perhatikan yang
berhubungan dengan kebutuhan pemukiman
ini. Ya, mungkin kalau pagi yang
disediakan transportasi dan sebagainya,
tapi kalau ketika malam, apa gitu ya?
Jadi, itu yang pertama sebagai pengingat
bahwa apakah fasilitas yang ada sudah
sesuai dengan pertumbuhan ini. Yang kedua
juga adalah ini harus diingatkan bahwa
apakah planning tata kotanya sudah sesuai
dengan perkembangan penduduk? Terus terang
saja bahwa jumlah orang yang tinggal di
kota, di mana pun memang bertambah ya.
Secara dunia saja itu kalau kita bicara
awalawal kemerdekaan tahun empat lima lima
puluh, masih dua puluh persenan di
seluruh dunia.Tapi sekarang sudah hampir
empat puluh lima, empat puluh enam, empat
puluh tujuh persen penduduk dunia tinggal
di perkotaan dan jumlahnya lebih besar.
Kalau dulu misalnya bicara tentang dua
miliar, sekarang kita bicara lapan miliar
lebih, gitu ya. Di Jakarta atau di
Indonesia juga demikian, berapa persen,
tiga puluhan sekarang sudah lebih dari
lima puluh dua persen penduduk yang di
kota. Kalau buat saya, ini apa nih
persoalannya? Apakah pertambahannya karena
perpindahan penduduk? Apakah sudah diatur
sedemikian rupa bahwa perpindahan
penduduk ini-- memang kita tidak bilang
tidak bisa membatasi ya, kalau misalnya
country kan harus ada border dan
sebagainya, tapi dalam kota ya terus
terang aja, ekonomi sendiri bilang ada
gula ada semut. Selama kota itu
menjanjikan banyak gulanya, banyak orang
yang akan datang, itu tidak menutup
kemungkinan gitu ya. Dan kita tahu bahwa
kota Jakarta memang penuh potensi-potensi
dan menjadi atraksi untuk orang akan
hadir. Kenyataannya adalah apakah ada
planning termasuk tata kota, penyediaan
infrastructure, yang sudah mengakomodir.
Karena at the end of the day, pada
akhirnya semakin tinggi pasti juga semakin
banyak tantangan ya. Makanya isu macet
akan selalu ada kalau misalnya bertambah
kemudian juga soal pemukiman gitu ya.
Apakah mungkin layak atau tidak? Jadi
kalau saya lihat ini adalah benar adanya
bahwa ini adalah gabungan dari semua
sehingga harus ada kerjasama antara, kalau
secara administratif Kota Jakarta dan
-kota lingkungan sekitarnya.
-Dan ini jadi berarti metode yang dipakai
adalah metode yang dipakai sama dengan
kota-kota lain seperti Dhaka, Tokyo dan
sebagainya ya. Bukan hanya terpaut untuk
Jakarta saja.
-Betul.
-Dan berarti kan tadi Bapak juga bilang kan
ini menjadi pertanyaan begitu ya untuk
hidup layak dan sebagainya. Ini tapi
bagaimana nih Pak dengan empat puluh dua
juta jiwa ini apakah orang-orang Jakarta
masih bisa hidup layak? Maksud saya dari
segi akses terhadap perumahan yang
terjangkau, air bersih, transportasi,
ruang publik juga gitu, se-sebagainya
-begitu Pak.
-Kalau kita melihat laporan itu sendiri,
memang yang beda dari sebelumnya adalah
metodologinya itu menggunakan dia bilang
sebagai Degubra. Itu artinya kalau saya
baca reportnya itu singkatan dari Degree
of Urbanisation ya. Jadi itu sudah
diendorse dari
UN sendiri sejak tahun 2020 dengan
mengkategorisasikan bahwa kalau kota itu
misalnya harus lebih dari lima puluh ribu
gitu, kemudian kalau yang agak lebih
sedikit berapa puluh ribu, kemudian
seterusnya seterusnya. Jadi benar adanya
bahwa dibandingkannya itu secara umum. Nah
kemudian tadi pertanyaannya apakah
menjadi layak? Itu menjadi pertanyaan
berikutnya. Di Asia kebanyakan ini masih
pertumbuhan ya. Artinya sementara kenapa
Tokyo dibilangnya disalip karena beberapa
kota itu secara demografis pertumbuhannya
sudah menurun dibandingkan dengan
kota-kota di Asia lainnya yang seperti
Jakarta, kemudian Dhaka di Bangladesh,
kemudian juga Karachi di Pakistan dan
sebagainya. Mereka masih tumbuh terutama
tadi dari urbanisasi. Sementara di Tokyo
adalah penuaan. Bahkan menurut estimasi
dari PBB sendiri, itu Tokyo bisa menurun
dari tiga puluh tiga juta menjadi tiga
puluh satu juta nanti tahun 2050 karena
ada aging population tadi, penuaan. Nah,
empat puluh dua juta apakah layak huni
atau tidak itu tergantung dari kalau
dilihat melihat komposisinya ya. Jadi ada
kantong-kantong yang memang sudah dibenahi
menjadi layak hidup tapi ada juga masih
beberapa kantong yang belum siap. Kita
masih lihat di pinggirpinggir jalanjalan
tol masih ada orang yang tinggal sementara
gitu ya. Apakah itu sudah mulai dibenahi?
Kita belum tahu. Kemudian yang masih di
pinggirpinggir bantaran kali waktu
zamannya gubernur-gubernur sebelumnya dan
juga sekarang, itu selalu menjadi
perhatian kan. Kita jadi harus
mendefinisikan apakah ini layak atau
tidak. Ternyata di Tokyo bisa kok dibenahi
gitu ya dengan catatan bahwa memang
pendataannya sesuai gitu ya. Jadi tidak
saja ada rancangan yang harus dilakukan,
tapi juga pada saat yang sama kita
mengencourage dan memaksa bahkan kalau
dalam tanda petik artinya resident atau
penduduk mengikuti peraturan yang ada.
Jadi kalau memang tidak boleh dihuni
jangan dihuni gitu ya. Tapi bukan hanya
dilarang tapi ada diberikan alternatif
solusi, entah misalnya kalau istilahnya
zaman dulu ada bilang ya disediakan rumah
susun yang layak dan sebagainya. Itu perlu
diperjuangkan lebih banyak lagi kalau
bicara soal hunian. Tapi pada saat yang
sama bukan hanya hunian ya. Kita tahu
sendiri bahwa tempat-tempat untuk
berekreasi meskipun hanya sekedar taman
kecil atau untuk lari-lari kecil. Sekarang
orang konsentrasinya misalnya Car Free
Day ke Senayan ataupun ke Monas dan
sebagainya. Tapi apakah di
lingkungan-lingkungan kecil ada gitu ya?
Nah, itu juga perlu dipikirkan untuk
dibilang sebagai kota layak huni. Nah, itu
yang masih banyak PR yang belum terjawab.
Dan berarti kan ini jelas kelompok mana
yang sepertinya paling terdampak. Dan ini
juga nih kan kita tahu empat puluh persen
wilayah Jakarta itu berada di bawah
permukaan laut dan terus tenggelam ya.
Dengan tekanan populasi yang sangat tinggi
ini, bagaimana krisis lingkungan ini
-memperburuk situasi ya Pak?
-Ya, betul. Itu adalah salah satu isu lain
ya, yang termasuk saya bilang tadi, di
laporan itu juga menekankan bukan hanya
soal Jakarta menjadi metropolitan terpadat
sekarang, tapi juga isu lain. Dia
sudah menulis bahwa ketika sebuah kota
atau pun sebuah area menjadi semakin
padat, maka tantangan yang paling besar
adalah tantangan terhadap
lingkungannya.Kita tahu bahwa empat puluh
persen sudah di bawah permukaan air laut
ya. Dampaknya adalah harusnya ada semacam
regulasi ataupun pemanfaatan
lahan-lahan lain, jangan sampai ke sana.
Nah, ini yang belum banyak terdengar dan
juga masih harus dalam tahap penjajakan
bagaimana cara melakukannya itu. Saya
sendiri bukan ahli perumahan ya, tapi
kalau saya pikir semakin banyak perumahan
menuju ke arah utara itu sebenarnya juga
memberikan beban berat gitu ya. Mungkin
mulai dikurangi ataupun dialihkan ke
wilayah yang rentan terhadap penurunan
-lahan tersebut.
-Dan ini kan pemerintah sedang memindahkan
ibu kota ke Nusantara. Menurut bapak
apakah ini akan membantu mengurangi
-populasi Jakarta atau bagaimana nih?
-Jawabannya bisa ada ya dan tidak. Soalnya
ini udah perbincangan lama ya, soal ibu
kota negara. Pertama, memang kalau dari
kita lihat namanya ibu kota nusantara
adalah pada awalnya untuk memindahkan
fungsi ibu kota yang ada di Jakarta menuju
IKN Nusantara. Yang masih menjadi
perdebatan adalah apakah ketika semuanya
itu sudah dialihkan di IKN, serta merta
Kalau dari study yang sudah ada maupun
laporan yang sudah dilakukan dan
sebagainya. Contoh saja misalnya Canberra.
Ini Canberra adalah persis
sejarah-sejarahnya seperti IKN ya. Di mana
dulu antara Sydney dan Melbourne ingin
dijadikan sebagai ibu kota, akhirnya
dipindah ditarik garis tengahnya adalah
Canberra, sebuah kota yang didevelop atau
dibangun khusus untuk mengakomodir sebagai
ibu kota. Perkembangannya adalah ya, ibu
kota namanya dan administratifnya betul
pindah, tapi penduduknya itu tidak serta
merta langsung semuanya pindah ke sana.
Persoalan utamanya adalah kan sekarang ini
adalah jumlah penduduk dan dari jumlah
penduduk terjadi permintaan kemudian juga
kebutuhan dan sebagainya. Nah, sementara
ini IKN kan juga sedang dibangun tapi
perlahan perlahan dan bahkan awalnya mau
tahun dua ribu dua lima katanya semua
pegawai negerinya pindah tapi akhirnya
ditunda sampai lima tahun ke depan
eventually ya perlahan lahan. Dari
kacamata sejarah ini saja dari negara
manapun termasuk di Australia itu tidak
langsung tapi mungkin butuh waktu sepuluh,
dua puluh, bahkan tiga puluh tahun datang
dan itupun tidak semua akan ikut. Tapi
paling tidak yang berkepentingan dengan
administrasi keibukotaan ataupun
berhubungan dengan i-- perizinan itu, iya
mereka mau tidak mau harus tinggal di sana
dan sebagainya, tapi tidak langsung bisa
menjawab soal kependudukan yang ada di
Kota Jakarta itu sendiri.
Tadi kan Bapak bilang di Tokyo sudah peak
sementara di kota seperti Jakarta ini
masih terus bertumbuh ya. Mungkin ada
diaspora Indonesia yang mempertimbangkan
untuk pulang atau orang Australia yang
tertarik kerja di Jakarta. Kalau dari
kacamata demografi murni nih, apakah
sebaiknya mereka berpikir ulang atau
sebenarnya ini adalah sesuatu yang ada
solusinya gitu?
Kalau masalah pindah itu saya kebetulan
ahli di mobility ya, tentang migrasi. Saya
sempat melakukan komparatif study di Asia
dan juga beberapa kota di Afrika. Jadi
sebenarnya untuk berpindah itu motivasi
utamanya bukan hanya sekedar apakah itu
lebih padat atau tidak padat. Jadi lebih
kepada banyak motivasi termasuk yang besar
sekali itu hampir tiga puluh empat puluh
persennya adalah motivasi ekonominya.
Artinya ujung ujungnya apakah ketika saya
pindah ke suatu tempat, mau itu ke desa
ataupun ke kota, apakah saya bisa tumbuh
dan berkembang, gitu loh. Bukan hanya
melulu karena, ah di Tokyo ini udah padat,
udah stuck itu kemudian Jakarta. Itu bisa
jadi ya, jadi banyak teman-teman student
yang dulunya dia belajar di Australia
ataupun di kota lain, dia merasa kayaknya
peluang bisnis saya lebih enak kalau saya
di Jakarta karena dari marketnya akan
tumbuh dan sebagainya. Tapi ada juga pada
saat sama ada orang lain yang mungkin
sudah para senior atau ini merasa, aduh
kalau di sana saya mulai dari nol lagi ya.
Jadi bisa jadi itu menjadi satu
pertimbangan tapi tidak melulu
pertimbangan itu untuk berpindah ke Kota
-Jakarta.
-Demikian tadi pendengar, rangkuman terkait
Jakarta dengan penduduk terbanyak di
dunia yang dibawakan oleh Anne Parisiane
END OF TRANSCRIPT