Sutradara Nia Dinata berbicara tentang perjalanan kariernya di dunia perfilman Indonesia dan pilihan sadar untuk mengangkat isu-isu yang dianggap kontroversial.
Nia Dinata adalah salah satu sutradara perempuan paling berpengaruh di Indonesia. Namanya dikenal luas lewat film-film seperti Arisan! dan Berbagi Suami yang kerap mengangkat isu sosial dengan cara yang berani.
Dalam perbincangan dengan SBS Indonesian, ia menceritakan perjalanan kariernya dari awal hingga pandangannya tentang kebebasan berekspresi dalam berkarya.
Dinata mengatakan kecintaannya pada film sudah tumbuh sejak kecil. Dinata gemar menonton film sejak usia dini dan kemudian menempuh kursus pembuatan film di New York University, ujarnya.
Memulai Karier dari Iklan dan Video Klip
Sepulang dari Amerika Serikat pada era 1990-an, Dinata mengatakan ia mendapati industri film Indonesia sedang lesu. Bioskop didominasi oleh film Hollywood, sementara film Indonesia hanya muncul beberapa tahun sekali, ungkapnya.
Bagi Dinata, pembuatan film adalah keahlian yang harus terus diasah dan ia khawatir kemampuannya akan memudar jika tidak terus berkarya. Oleh karena itu, Dinata mengatakan, ia memulai kariernya dengan membuat video klip musik dan iklan televisi sebagai sarana untuk tetap mempraktikkan ilmu perfilman yang ia pelajari selama kuliah.
Dari situ, Dinata kemudian menyutradarai film layar lebar pertamanya, Ca-bau-kan, pada tahun 2002, yang diikuti oleh Arisan! dan Berbagi Suami, tambahnya.

Pilihan Sadar untuk Mengangkat Isu Sensitif
Sejumlah film Dinata mungkin dianggap kontroversial oleh sebagian penonton Indonesia. Dinata mengatakan pilihan untuk mengangkat topik-topik yang mungkin dianggap kontroversial dalam filmnya merupakan keputusan sadar karena ia tumbuh dalam keluarga yang justru sangat menghargai perbedaan, ujarnya.
Dinata terkejut melihat sebagian masyarakat di luar lingkungan rumahnya justru menghakimi mereka yang berbeda, ujarnya, dan pengalaman itu mendorongnya untuk selalu menulis sendiri skenario filmnya.
Ketika ditanya apakah karyanya merupakan bentuk aktivisme, Dinata mengatakan ia tidak mempersoalkan label tersebut. Yang terpenting, kata Dinata, karyanya merupakan bentuk kebebasan berekspresi.
Saya selalu dengan sadar menulis sendiri skenario film. Saya nggak pernah bikin film yang skenarionya tidak saya tulis sendiri.Nia Dinata - Sutradara
Pengalaman sebagai Sutradara Perempuan
Meskipun jumlah sutradara perempuan di Indonesia masih sedikit, Dinata mengatakan ia tidak merasakan hambatan yang berarti selama berkarier. Ia merasa beruntung karena selalu bekerja dengan tim yang menunjukkan rasa hormat dan kebersamaan.
Dinata mengatakan ia selalu menjaga timnya tetap kecil dan bekerja dengan orang-orang yang sudah ia kenal cocok.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.





