Dua guru bahasa Indonesia di Perth berupaya mengembangkan minat siswa untuk belajar bahasa Indonesia dengan memperkenalkan budaya Indonesia di kelas.
Samuel Ide sudah belajar bahasa Indonesia selama enam tahun. Siswa kelas 6 di Carey Baptist College, Forrestdale, Perth ini mengaku paling senang mengerjakan kuis karena bisa mengukur seberapa banyak yang telah ia pelajari, kata Samuel.
Malachi Hunt, siswa kelas 6 di Attadale Primary School, juga tak kalah bersemangat. Ia mulai belajar bahasa Indonesia sejak kelas 3 dan menyukai permainan di kelas karena membantunya mengingat kosakata baru, ujar Malachi.
Malachi juga tertarik mempelajari budaya Indonesia seperti Hari Nyepi, Ogoh-Ogoh, dan aneka makanan Indonesia, kata Malachi.
Keduanya meraih penghargaan Bahasa Indonesia Students Award yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Perth pada 31 Juli 2026. Penghargaan tahunan yang telah berlangsung sejak 2023 itu diberikan kepada 56 siswa dari 36 sekolah di seluruh Australia Barat.
Penghargaan itu semakin memotivasi Samuel untuk tetap belajar, kata Samuel.
Di balik antusiasme kedua siswa itu, ada upaya kreatif dari guru-guru mereka.
Waktu pelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar hanya satu jam per minggu sehingga menjadi tantangan tersendiri, kata Stevannie Santosa, guru bahasa Indonesia di Carey Baptist College.
Siswa mudah melupakan materi yang sudah mereka pelajari, kata Santosa. Ia mengatasinya dengan terus mengulang materi melalui aktivitas yang bervariasi, misalnya permainan, gerakan tubuh, dan menghubungkan bahasa Indonesia dengan budayanya, jelas Santosa.
Dian Leggett, guru bahasa Indonesia di Attadale Primary School dan Roleystone Community College, juga merasakan tantangan serupa. Selain keterbatasan waktu, ada pula siswa yang merasa cemas saat harus mempelajari sesuatu yang asing bagi mereka, ujar Leggett.
Meyakinkan mereka bahwa belajar bahasa Indonesia itu menyenangkan menjadi tugas utamanya, tambah Leggett.

Untuk memancing rasa ingin tahu siswa, Leggett mengandalkan bahan ajar autentik seperti menu restoran dan katalog supermarket dari Indonesia, kata sang guru.
Pengenalan budaya seperti menari, menyanyi, dan memasak makanan Indonesia juga menjadi cara yang efektif untuk mendorong minat belajar bahasa, ujar Leggett.
Baik Santosa maupun Leggett sepakat bahwa bentuk pengakuan terhadap pencapaian siswa sangat berperan dalam menjaga motivasi. Siswa yang merasa dihargai akan tumbuh kepercayaan dirinya dan semakin termotivasi untuk terus belajar, kata Santosa.
Pengakuan itu pun tidak harus selalu berdasarkan nilai, tetapi juga bisa berupa apresiasi terhadap semangat dan kemajuan belajar mereka, tambah Santosa.
Orang tua pun turut bangga ketika anak mereka menerima penghargaan, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas yang lebih luas, ujar Leggett.
Pihak KJRI Perth berupaya menjaga agar minat terhadap bahasa Indonesia di kalangan pelajar Australia Barat tidak menurun, kata Antonius Prawira Yudianto, Konsul Penerangan dan Sosial Budaya di KJRI Perth.
Komunitas diaspora Indonesia di Australia Barat justru memiliki peran yang lebih besar dari KJRI dalam upaya itu karena merekalah yang terus ada di sana, ujar Yudianto. Banyak inisiatif kegiatan yang datang dari mitra-mitra tersebut, tambah Yudianto.
Dengarkan perbincangan selengkapnya di podcast SBS Indonesian.




