Sengketa Thailand-Kamboja: Perspektif sejarah

Cambodia's Prime Minister Hun Manet (L) and Thailand's acting Prime Minister Phumtham Wechayachai (R) with Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim (AAP).

Cambodia's Prime Minister Hun Manet (L) and Thailand's acting Prime Minister Phumtham Wechayachai (R) with Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim (AAP). Credit: MOHD RASFAN / POOL/EPA

Gencatan senjata tanpa syarat telah berlaku antara Thailand dan Kamboja, yang dimediasi oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Kedua belah pihak saling menuduh sebagai pihak yang memulai pertempuran yang berlangsung selama lima hari dan menewaskan sedikitnya 38 orang.


Sehari sebelum gencatan senjata tercapai, SBS Indonesian berbincang dengan Dr. Muhammad Rum, Kepala Program Studi Magister di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada. Dr. Rum menjelaskan konteks historis perselisihan tersebut dan juga peran politik domestik yang signifikan dari kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.

Namun, karena Thailand dan Kamboja merupakan anggota ASEAN, Dr. Rum berpendapat bahwa perselisihan tersebut harus diselesaikan melalui dialog yang dapat dimediasi oleh Ketua ASEAN saat ini, yaitu Perdana Menteri Malaysia, Dr. Anwar Ibrahim.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now