Inspiration: From zero to OPAPER APP

Joanathan McIntosh participating in Street Food Festival held by the Indonesian Culinary Association of Victoria, Melbourne – March 2025. Photo courtesy SPD/Melb.
Armed with her baking skills, hard work, and strong self-confidence, she created the OPAPER APP, which has helped many small businesses in Indonesia.
Speaker 1
Kita mengalir ke acara yang selanjutnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang
kawalan muda Indonesia yang pada waktu itu mengunjungi
Melbourne.
Dan rupanya dia adalah seorang pengusaha.
Dan pada pertemuan kami yang pertama itu, saya
begitu tertarik dengan cerita beliau.
Berikut ada sekelumit dari bagaimana Mbak, saya panggil
Mbak karena masih muda sekali, bagaimana Mbak Jonathan
McIntosh itu yang hidupnya katakanlah di Amerika dan
di Indonesia itu merintis usahanya dalam mendirikan OPAPER
App itu untuk membantu para pengusaha terutama pengusaha
kecil di Indonesia.
Nah, apa tadinya atau bagaimana tadinya dia dapat
sukses dalam usahanya itu?
Berikut wawancara kami.
Tadinya apa sih yang mendorong Mbak Joanathan membentuk
atau mendirikan OPAPER App ini?
Speaker 2
Seperti yang aku bilang, aku S1, S2 di
Amerika.
Sebenarnya S2 itu saat-saat aku yang cukup
struggling, Bu.
Karena keluarga aku punya bisnis di Indonesia dan
mamaku yang came from nothing ya, bikin bisnis
yang cukup berhasil di Indonesia.
She took pride in it dan dia pengen
aku nerusin.
Cuma aku pengen jadi perempuan pertama di keluarga
ku yang lulus sekolah dan lulus S2.
Aku bilang ke mamaku, aku gak akan balik,
Ma.
Aku pengen S2 selesain dulu.
Lalu kita berdua karena sama-sama keras ya,
mamaku bilang, yaudah terserah kamu, tapi aku gak
mau bayarin, kamu hidup aja sendiri di negara
orang.
Mungkin aku cuma punya uang 100 dolar apa
berapa, itu yang aku bener-bener kayak, wah
gimana ya aku bayar uang sekolah, gimana ya
aku bayar apartmenku dan lain-lain, gimana ya
aku hidup gitu.
Akhirnya aku punya bakery, Bu, di Amerika.
Aku punya bakery karena aku tau aku bisa
baking dan aku udah berapa kali sebenernya jualan
buat fundraising, karena aku marathon.
Marathon untuk cancer, mamaku ada cancer waktu itu.
Lalu akhirnya mulailah aku berjualan dengan bakery ini
selama setahun lebih yang sangat susah, Bu.
Sangat susah kayak sistemnya juga gak cukup, aku
harus pagi-pagi belanja ke pasar, aku sambil
kuliah, nah itu Bu, bener-bener cuma kayak
ya ada uang berapa aku gulirin, aku PO,
sampai akhirnya aku masukin ke kafe-kafe dan
lain-lain, aku harus rental kitchen, gitu.
Jadi beneran cuma dari situ, itu aku struggling
banget sih, kayak aku gak bisa tidur, cuma
tidur berapa jam gitu kan, karena harus belajar
dan kuliah dan segala macem, gitu.
Itu yang menurut aku kayak, ah aku gak
akan lupain ini, gitu loh.
Tapi aku lulus, dan keuntungan itu bisa bayar
uang sekolahku, cuma aku kayak kayaknya aku gak
pengen deh jalanin bakery lagi, gitu.
Dan karena aku bidangnya finance, dan akhirnya aku
computer science, aku lanjutin kerja di investment, terus
aku kerja di startup.
Dan setelah 10 tahun aku kerja di startup
sebagai machine learning product lead, terus aku balik
ke Indo, lah kok problemnya masih sama yang
aku alamin, gitu.
Itu mungkin yang bikin aku tuh kayak, kayaknya
it's time for me, untuk bangun sesuatu yang
bisa bantu orang lain.
Jadi di situ.
Hanya satu kata yang dapat saya berikan, hebat.
Ini kan karena kemauan kan, nah apakah pengalaman
ini juga dicantumkan atau diberitakan dalam presentasi, atau
mungkin di OPAPER itu sendiri, sehingga orang
yang membacanya itu mengerti dan terinspirasi, mbak?
Kayaknya kalau di OPAPER sendiri, enggak ya,
Bu, ya.
Tapi aku sering keliling.
Aku tuh kalau ke, karena aku masih tinggal
di Amerika, setengah tahun di Amerika, setengah tahun
di Indonesia.
Tapi aku selalu keliling, dan aku selalu ngobrol
sama mercen-mercenku, kisah mereka tuh gimana, apalagi
yang bisa aku bantu, dan aku juga sharing
kehidupanku, dan lain-lain, gitu.
Mungkin dari situ juga makanya kita grow ya,
Bu, ya.
Yang tadi aku bilang, akhirnya karena sama-sama
berasa, oh kamu ngerti yang aku rasain, akhirnya
dia kenalin ke temennya untuk pakai all paper,
dan lain-lain.
Jadi kita selalu mungkin dari situ sih.
Itu yang dari grassroot-nya ya.
Yang kita pengen, ya emang kita juga ngebantu,
tapi ada sisi bisnisnya, karena kan kita, menurut
aku salah satu benefit yang aku dapatkan juga
adalah aku kerja lama di Amerika, aku juga
banyak koneksi, secara investor, secara lain-lain, dan
investor kita manca negara.
Dari US, dari Eropa, dari Jepang, dan dari
Singapura, gitu.
Itu menurutku sesuatu yang jarang juga didapetin opportunity
seperti itu, gitu kan.
Itu yang aku pengen, mungkin ke depannya kalau
kita udah makin maju, sesuatu yang aku bisa
bantuin ke yang lain, gitu.
Aku juga kadang mentorin founder-founder lain, sih.
Speaker 1
Ini berarti bidang lain ya, Mbak, ya.
Artinya itu bidang motivasi, kan.
Tidak apa-apa.
Tapi tadi dikatakan bahwa investornya itu justru dari
manca negara.
Bagaimana itu caranya merintis dan untuk menarik mereka
-mereka itu?
Speaker 2
Aku kerja di Amerika 10 tahun, ya.
Benar-benar dari bawah banget.
Sampai aku ngelead produk, sampai aku dipercaya, sampai
aku tuh bantu CEO-ku untuk pitching ke
investor, dan lain-lain.
Ini mungkin yang aku ngerasa, aku nggak pernah
mikirin seberapa banyak effort yang aku lakukan pada
saat aku kerja.
Aku cuma ngejalanin aja, karena menurut aku, ya
aku pengen tahu, aku pengen dapat pengalaman.
Jadi aku nggak hitung-hitung gitu loh, kayak
jam kerjaku atau gimana.
Tapi karena semua effort yang aku pelan-pelan
tumpuk selama 10 tahun, itu yang akhirnya orang
tuh tahu, gitu loh.
Kalau Hamadjuan, pasti dia akan mencoba terbaik, gitu.
Jadi investor aku tuh kenalnya dari aku kerja
dulu.
Dari network yang aku udah bangun di Amerika.
Lalu pada saat aku bangun No Paper, mereka
invest, mereka bilang ke temennya, kamu mau masuk
juga nggak, gitu.
Itu sih yang menurut aku nggak ada sesuatu
yang overnight, ya.
Speaker 1
Ini memang, semua ini kan dipersingkat ya tadi
ya, artinya tuh diambil intinya-intinya saja.
Tapi seperti kata Mbak Joanathan sendiri, bahwa semua
itu diritis dari awal.
Sukses untuk OPaper, dan sampai jumpa di
lain kesempatan.
Speaker 2
Thank you.








