Pada Jumat, 20 Maret 2026 adalah hari
Idulfitri di Australia. Banyak dari
diaspora Indonesia termasuk para mahasiswa
di Melbourne yang menjalankan sholat
Idulfwitri di KJRI. Sesudah menjalankan
sholat tersebut, diaspora menikmati
hidangan yang tidak mewah namun menjadi
ciri khas makanan Idulfitri di Indonesia
seperti lontong sayur, rendang, dan
ketupat. Saya sempat hadir dan berbincang
dengan tiga mahasiswa di Melbourne yaitu
Zahra, Venia, dan Yudi yang pertama
kalinya merayakan Idulfitri di Australia.
Ketiganya berbagi cerita tentang
pengalaman merayakan Idulfitri jauh dari
keluarga dan makanan khas yang mengobati
rindu kampung halaman. Simak percakapan
kami berikut. Boleh Anda perkenalkan nama
-Saya Venia.
-Dan Mbak Zahra dan Mbak Venia sekarang
-sedang di Melbourne sudah berapa lama?
-Saya tujuh bulan.
-Sama tujuh bulan juga.
-Di sini kenapa nih kalau boleh tahu?
Saya sedang mengambil jurusan Master of
Laws untuk meneruskan S2 saya di
-University of Melbourne.
-Saya juga di University of Melbourne, tapi
-saya ambil International Tax.
-Ini Lebaran pertama berarti kan di
-Betul, betul, betul.
-Dan kenapa Anda merayakan Idulfitri di
-KJRI?
-Kalau Lebaran kan memang biasanya kita
berkumpul keluarga ya. Karena ini
kebetulan kami student jauh dari rumah,
kita cari vibes yang mirip dengan rumah
lah yang ada di sini ya di KJRI di
-Indonesia.
-Betul. Kurang lebih alasannya sama karena
kan di KJRI juga bertemu sama sesama
orang-orang Indonesia ya, jadi seperti
-Lebaran di rumah seperti itu.
-Dan makanan apa yang paling dirindukan
dari di Indonesia? Ini kan pertama Lebaran
di luar negeri nih. Ada yang kangen nggak
-nih makanan Indonesianya?
-Kalau kemarin memang kami sudah masak opor
sendiri ya, terus mengharapkan ada
makanan lain di sini ternyata yang
diinginkan ada di sini. Ap pengen banget
lontong sayur, dapat di sini lontong
-sayur.
-Betul, saya juga udah ingin lontong sayur
dari lama, cuman selain lontong sayur saya
juga ingin opor.
-Dapat alhamdulillah.
-Dapat, dapat, dapat. Dan enak banget.
-Enak banget.
-Kalau di Indonesia biasanya yang masak
-untuk Lebaran siapa nih?
-Ibu saya sebenarnya, saya sebagai apa,
-[tertawa]
-Sama biasanya mama saya, saya
-membantu-bantu saja.
-Menurut Anda nih Lebaran tanpa makanan
-khas di rumah itu bagaimana?
-Tentu saja yang pertama kangen ya, kangen
masakan rumah. Terus-- tapi ya, tapi itu
tidak, tidak masalah karena di sini juga
kita masak masakan Indonesia dan juga
setelah sholat di KJRI ini kita juga
mendapatkan makanan Indonesia. Jadi ya
seperti di rumah sih rasanya.
Kalau saya kan Lebaran kurang afdol kalau
enggak ada ketupat sebenarnya. Terus
tadinya mau ya udahlah nggak usah makan
ketupat nggak apa-apa. Eh, di sini dapat
ketupat itu rasanya kayak nikmat luar
biasa. [tertawa] Karena kalau Lebaran
nggak ada ketupat tuh kurang ya. Betul,
kurang nampol gitu.
-Betul, betul.
-Kalau misalnya kira-kira nih sekarang ada
di rumah nih, di meja nih yang mau diambil
duluan apa?
[tertawa] Apa ya? Kayaknya klasiknya
rendang ya. Rendang sama ketupat itu nomor
-satu sih.
-Opor. [tertawa] Karena emang lagi pengen
-banget opor, terutama masakan mama sih.
-Memang baru ya di sini, tapi selain
makanan dari Indonesia, ada nggak sih
makanan Australia yang kepengen juga di
-saat merayakan hari Lebaran ini?
-Kalau kemarin sempat nyobain makanan Afgan
sebenarnya. Itu taste-nya mirip-mirip
dengan masakan Indonesia. Terus sempat
pada masa-masa itu saya pengen kari-karian
gitu, datang cari resto Afgan. Nah,
ketemulah yang rasanya mirip dengan
Indonesia. Spices-nya nendang banget.
Kalau saya beberapa waktu yang lalu sempat
coba makanan dari Ghana dan itu enak
-banget.
-Kalau keluarga di Indonesia dengerin
podcast ini, Anda mau bilang apa soal
Lebaran pertama di Melbourne?
Lebaran pertama jauh dari keluarga, tapi
cintanya tetap sama. I love you. [tertawa]
Sama, I love you. Semoga kita selalu
-diberikan kesehatan selalu ke depannya.
-Saya Yudi Reza Palapi. Ini kurang lebih
-satu bulan di Melbourne.
-Baru sekali tapi langsung Lebaran di sini
-nih.
-Betul, betul, betul, betul.
Dan Bapak kenapa tinggal di Melbourne saat
ini?
Kebetulan lagi lanjut studi di Uni Melb
ngambil Public Health.
Berarti Anda adalah seorang dokter begitu?
-Kebetulan iya.
-Anda asalnya dari mana dari Indonesia?
-Aslinya dari Aceh.
-Makanan apa yang paling dirindukan?
Waduh, kalau di Aceh itu kita kalau
Lebaran ada daging merah namanya.
Memang agak mirip-mirip kayak rendang,
tapi dia lebih karinya lebih kerasa.
Dan sekarang nih di Melbourne berarti
nggak dapat dong daging merah?
-Tentu saja ya sulit sekali ya, betul.
-Jadi sekarang jadinya bagaimana? Kalau
sama keluarga di Aceh semua sekarang
kira-kira akan makan daging masak merah?
Kebetulan kemarin kita udah ditunjukin
fotonya ya. Jadi ya rindu akan
kelihatannya udah terobati tapi malah
makin pengen nyobain ya.
Dan sekarang berarti Lebaran ini yang
dimakan apa nih?
Wah, alhamdulillah diberi kesempatan nih
untuk ke KJRI. Kalau tadi sih
ngintip-ngintip lontong rendang ya.
Mudah-mudahan sedikit mirip lah dengan di
-rumah ya.
-Dan ini kenapa memutuskan untuk Lebaran di
-KJRI?
-Mungkin memang biar mengurangi homesick
juga. Di sini kan kita dengan ketemu
bangsa sendiri ya pasti beda lah
feeling-nya dengan orang sekitar karena
beda lah ya adat istiadatnya. Jadi memang
nyari vibes-nya sih, vibes Indonesia di
sini.
Kalau keluarga di Indonesia nih dengar
podcast ini, Anda mau bilang apa soal
-Lebaran pertama di Melbourne?
-Kangen ya tentu saja dan pastinya Lebaran
itu enggak lengkap tanpa maaf-maafan
dengan keluarga. Jadi mohon maaf lahir
batin untuk keluarga. Mohon maaf nih belum
bisa pulang namanya masih belajar.
-Mudah-mudahan segera bisa berkumpul lagi.
-Terima kasih, Bapak Yudi.
END OF TRANSCRIPT