Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Indonesian students in Melbourne celebrate first Eid al-Fitr away from home

Indonesian diaspora preparing for the Eid al-Fitr prayer at the KJRI Melbourne. Credit_ Supplied_Rima Sundusita.jpg

Indonesian diaspora preparing for the Eid al-Fitr prayer at the KJRI Melbourne. Credit: Supplied/Rima Sundusita

Indonesian students in Melbourne share their experience of celebrating Eid al-Fitr for the first time abroad and the traditional food that helped ease their homesickness.


Friday 20 March 2026 marked Eid al-Fitr in Australia. Many members of the Indonesian diaspora in Melbourne, including university students, gathered at the KJRI (Consulate General of the Republic of Indonesia) to perform the Eid al-Fitr prayer. Following the prayer, they enjoyed humble yet quintessential Eid dishes from Indonesia such as lontong sayur, rendang and ketupat.

SBS Indonesian spoke with three students based in Melbourne — Zahra, Venia and Yudi — who were celebrating Eid al-Fitr in Australia for the very first time. Listen to the full interview to hear their stories and messages for their families back home in Indonesia.

Indonesian international students
Yudi Phallaphi, a Master of Public Health student at the University of Melbourne (L); International students at the University of Melbourne Zahra and Venia (R). Credit: SBS Indonesian/Anne Parisianne

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Pada Jumat, 20 Maret 2026 adalah hari Idulfitri di Australia. Banyak dari

diaspora Indonesia termasuk para mahasiswa di Melbourne yang menjalankan sholat

Idulfwitri di KJRI. Sesudah menjalankan sholat tersebut, diaspora menikmati

hidangan yang tidak mewah namun menjadi ciri khas makanan Idulfitri di Indonesia

seperti lontong sayur, rendang, dan ketupat. Saya sempat hadir dan berbincang

dengan tiga mahasiswa di Melbourne yaitu Zahra, Venia, dan Yudi yang pertama

kalinya merayakan Idulfitri di Australia. Ketiganya berbagi cerita tentang

pengalaman merayakan Idulfitri jauh dari keluarga dan makanan khas yang mengobati

rindu kampung halaman. Simak percakapan kami berikut. Boleh Anda perkenalkan nama

-Anda. -Saya Zahra.

-Saya Venia. -Dan Mbak Zahra dan Mbak Venia sekarang

-sedang di Melbourne sudah berapa lama? -Saya tujuh bulan.

-Sama tujuh bulan juga. -Di sini kenapa nih kalau boleh tahu?

Saya sedang mengambil jurusan Master of Laws untuk meneruskan S2 saya di

-University of Melbourne. -Saya juga di University of Melbourne, tapi

-saya ambil International Tax. -Ini Lebaran pertama berarti kan di

-Melbourne ya? -Betul.

-Betul, betul, betul. -Dan kenapa Anda merayakan Idulfitri di

-KJRI? -Kalau Lebaran kan memang biasanya kita

berkumpul keluarga ya. Karena ini kebetulan kami student jauh dari rumah,

kita cari vibes yang mirip dengan rumah lah yang ada di sini ya di KJRI di

-Indonesia. -Betul. Kurang lebih alasannya sama karena

kan di KJRI juga bertemu sama sesama orang-orang Indonesia ya, jadi seperti

-Lebaran di rumah seperti itu. -Dan makanan apa yang paling dirindukan

dari di Indonesia? Ini kan pertama Lebaran di luar negeri nih. Ada yang kangen nggak

-nih makanan Indonesianya? -Kalau kemarin memang kami sudah masak opor

sendiri ya, terus mengharapkan ada makanan lain di sini ternyata yang

diinginkan ada di sini. Ap pengen banget lontong sayur, dapat di sini lontong

-sayur. -Betul, saya juga udah ingin lontong sayur

dari lama, cuman selain lontong sayur saya juga ingin opor.

-Dapat alhamdulillah. -Dapat, dapat, dapat. Dan enak banget.

-Enak banget. -Kalau di Indonesia biasanya yang masak

-untuk Lebaran siapa nih? -Ibu saya sebenarnya, saya sebagai apa,

sous chef mungkin.

-[tertawa] -Sama biasanya mama saya, saya

-membantu-bantu saja. -Menurut Anda nih Lebaran tanpa makanan

-khas di rumah itu bagaimana? -Tentu saja yang pertama kangen ya, kangen

masakan rumah. Terus-- tapi ya, tapi itu tidak, tidak masalah karena di sini juga

kita masak masakan Indonesia dan juga setelah sholat di KJRI ini kita juga

mendapatkan makanan Indonesia. Jadi ya seperti di rumah sih rasanya.

Kalau saya kan Lebaran kurang afdol kalau enggak ada ketupat sebenarnya. Terus

tadinya mau ya udahlah nggak usah makan ketupat nggak apa-apa. Eh, di sini dapat

ketupat itu rasanya kayak nikmat luar biasa. [tertawa] Karena kalau Lebaran

nggak ada ketupat tuh kurang ya. Betul, kurang nampol gitu.

-Betul, betul. -Kalau misalnya kira-kira nih sekarang ada

di rumah nih, di meja nih yang mau diambil duluan apa?

Aduh sulit lagi.

[tertawa] Apa ya? Kayaknya klasiknya rendang ya. Rendang sama ketupat itu nomor

-satu sih. -Opor. [tertawa] Karena emang lagi pengen

-banget opor, terutama masakan mama sih. -Memang baru ya di sini, tapi selain

makanan dari Indonesia, ada nggak sih makanan Australia yang kepengen juga di

-saat merayakan hari Lebaran ini? -Kalau kemarin sempat nyobain makanan Afgan

sebenarnya. Itu taste-nya mirip-mirip dengan masakan Indonesia. Terus sempat

pada masa-masa itu saya pengen kari-karian gitu, datang cari resto Afgan. Nah,

ketemulah yang rasanya mirip dengan Indonesia. Spices-nya nendang banget.

Kalau saya beberapa waktu yang lalu sempat coba makanan dari Ghana dan itu enak

-banget. -Kalau keluarga di Indonesia dengerin

podcast ini, Anda mau bilang apa soal Lebaran pertama di Melbourne?

Lebaran pertama jauh dari keluarga, tapi cintanya tetap sama. I love you. [tertawa]

Sama, I love you. Semoga kita selalu

-diberikan kesehatan selalu ke depannya. -Saya Yudi Reza Palapi. Ini kurang lebih

-satu bulan di Melbourne. -Baru sekali tapi langsung Lebaran di sini

-nih. -Betul, betul, betul, betul.

Dan Bapak kenapa tinggal di Melbourne saat ini?

Kebetulan lagi lanjut studi di Uni Melb ngambil Public Health.

Berarti Anda adalah seorang dokter begitu?

-Kebetulan iya. -Anda asalnya dari mana dari Indonesia?

-Aslinya dari Aceh. -Makanan apa yang paling dirindukan?

Waduh, kalau di Aceh itu kita kalau Lebaran ada daging merah namanya.

Memang agak mirip-mirip kayak rendang, tapi dia lebih karinya lebih kerasa.

Dan sekarang nih di Melbourne berarti nggak dapat dong daging merah?

-Tentu saja ya sulit sekali ya, betul. -Jadi sekarang jadinya bagaimana? Kalau

sama keluarga di Aceh semua sekarang kira-kira akan makan daging masak merah?

Kebetulan kemarin kita udah ditunjukin fotonya ya. Jadi ya rindu akan

kelihatannya udah terobati tapi malah makin pengen nyobain ya.

Dan sekarang berarti Lebaran ini yang dimakan apa nih?

Wah, alhamdulillah diberi kesempatan nih untuk ke KJRI. Kalau tadi sih

ngintip-ngintip lontong rendang ya. Mudah-mudahan sedikit mirip lah dengan di

-rumah ya. -Dan ini kenapa memutuskan untuk Lebaran di

-KJRI? -Mungkin memang biar mengurangi homesick

juga. Di sini kan kita dengan ketemu bangsa sendiri ya pasti beda lah

feeling-nya dengan orang sekitar karena beda lah ya adat istiadatnya. Jadi memang

nyari vibes-nya sih, vibes Indonesia di sini.

Kalau keluarga di Indonesia nih dengar podcast ini, Anda mau bilang apa soal

-Lebaran pertama di Melbourne? -Kangen ya tentu saja dan pastinya Lebaran

itu enggak lengkap tanpa maaf-maafan dengan keluarga. Jadi mohon maaf lahir

batin untuk keluarga. Mohon maaf nih belum bisa pulang namanya masih belajar.

-Mudah-mudahan segera bisa berkumpul lagi. -Terima kasih, Bapak Yudi.

Sama-sama.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now