Tadi aku nyari pempek sama ketoprak terus
kebetulan dua-duanya ada juga di Melbourne
Festival ini. Karena jarang ketemu, kalau
ketoprak sebenarnya banyak, tapi kalau
pempek tuh susah, agak susah buat dicari
di Melbourne. Jadi aku pengen nyari
makanan yang udah lama nggak aku makan.
Dulu tuh makanan staple aku pas S1, aku
sering banget makan ketoprak sama pempek.
Jadi kayak kangen aja sih. Jadi aku kan
suka keju banget. Nah habis itu dulu tuh
kalau di kantin S1 aku, aku suka banget
nambahin ketoprak sama keju. Terus
temen-temen aku semua pada kayak, "Apaan
sih lo aneh banget ngapain makan ketoprak
sama keju?" Tapi jujur harus banget dicoba
-sih karena itu enak banget.
-Aku sebenarnya cari yang agak-agak berkuah
gitu mbak karena kan habis hujan dan
ketika aku ketemu salah satu stand aku
putuskan belinya lontong. Karena lontong
tuh paling identik dengan suasana seperti
ini yang kayak masih, masih anget-anget,
habis hujan juga, terus juga ya kangen aja
-dengan makanan Indonesia.
-Tadi udah makan bakso Cuan Kie, terus
nyobain kue-kue gitu kan yang biasanya ada
di Indonesia. Ternyata di sini ada gitu,
ada yang bikin. Karena salah satunya nggak
pedes, terus habis itu juga rasa kangen
ya sama rasanya bakso Cuan Kie, nggak cuma
yang bakso biasa aja tapi ada yang
goreng, ada pangsitnya juga tadi gitu.
Comfort food banget sih karena ada mienya,
ada dagingnya, ada sayurnya gitu kan jadi
udah komplit dan berkuah. Ini kan lagi
rada tadi agak dingin terus sekarang rada
panas jadi cari yang kuah anget-anget
-gitu.
- Itu tadi Sasha, Hakim, dan Hanny,
beberapa pengunjung Indonesian Street Food
Festival 2026 yang diselenggarakan oleh
ICAF di Queen Victoria Market di Melbourne
menceritakan makanan-makanan Indonesia
yang mereka cari dan coba di festival ini.
Buat mereka, makanan-makanan ini bukan
sekedar jajanan tapi juga obat kangen akan
rasa Indonesia. Tapi ternyata, di
festival ini bukan cuma soal makanan. Di
atas panggung ada juga penampilan musik
yang membawakan lagu-lagu daerah Indonesia
yang dikemas ulang dengan aransemen jazz,
lengkap dengan busana batik dan tenun.
Menariknya, yang menikmati bukan hanya
diaspora Indonesia tapi juga warga
Australia lainnya yang berlalu-lalang di
Victoria Market. Nah, untuk mengetahui
lebih lanjut soal upaya memperkenalkan
budaya Indonesia lewat musik ini, saya
berbincang dengan Anna Balani, penyanyi
dari salah satu band Indonesia di
Melbourne yang tampil pada hari itu.
-Berikut percakapan kami.
-Halo, nama saya Anna Balani.
Dan Mbak Anna sekarang sedang di
Indonesian Street Food Festival, tadi
tampil. Tampilnya dalam rangka apa nih,
Mbak?
Saya dalam rangka mengisi acara ini
sebagai performance... salah satu
performance... yaitu Indonesian band di
Melbourne.
Tadi Mbak Anna sempat menyanyikan
lagu-lagu Indonesia, begitu?
Iya, kita kebanyakan menyanyikan lagu-lagu
Indonesia, mempromosikan lagu-lagu dan
budaya Indonesia dengan cara lagu daerah
dan kita memakai pakaian juga pakaian
batik dan tenun agar supaya lebih dikenal
oleh warga negara Australia.
Ini memang unik mempromosikan lagu-lagu
Indonesia karena di sini yang saya lihat
saat ini banyak bukan orang Indonesia
malah, tapi Mbak Anna bernyanyi di atas
panggung menyanyikan lagu-lagu Indonesia
dan lagu daerah gitu. Saya lihat juga nih,
ada juga tetap yang kayak fokus gitu
melihat dan ini gimana ya rasanya Mbak
Anna? Kok banyak orang yang bukan orang
Indonesia tetap senang juga mendengar?
Iya, saya sebagai warga negara Indonesia
yang tinggal di Melbourne tentu saja proud
ya karena budaya saya bisa lebih dikenal
oleh orang warga negara Australia,
terutama lagu-lagu Indonesia.
Lagu-lagu dari semua kita, kita sebagai
warga Indonesia punya banyak budaya
culture yang harus kita explore dan kita
perkenalkan ke warga negara Australia, ke
orang-orang Australi. Dan so far saya
bangga banget dan happy karena sambutan
mereka sangat antusias ketika kami
menyanyikan lagu-lagu daerah, lagu-lagu
Indonesia yang notabene nggak, nggak semua
band Indonesia di Melbourne yang
menyanyikan lagu-lagu daerah dan dikemas
lagi dalam bentuk jazz atau diaransemen
-lagi, tidak.
-Menurut saya ini unik karena biarpun
terkadang di Indonesia pun banyak orang
yang lebih memilih lagu barat begitu ya.
Acara seperti ini tuh acara makan ya
memang sering dan ada acara musik itu khas
Indonesia banget. Tapi ini menurut Mbak
Anna nih apa sih yang bikin lebih
spesialnya acara seperti ini ada di
Australia?
Yang lebih spesialnya karena ini di
Victorian Market ya yang which is
unusual. Di sini banyak banget orang
berlalu-lalang, terutama orang dan
berbagai macam food sebenarnya bisa
ditemukan di sini. Tapi untuk khusus hari
kita mempromosikan Indonesian food dan
lagu-lagu.
Tapi kalau Mbak Anna sebagai penyanyi nih,
di Melbourne lebih pilih mana sih nyanyi
lagu Indonesia apa lagi nyanyi barat atau
dua-duanya?
Saya dua-duanya suka, tapi saya prefer,
lebih prefer membawakan lagu Indonesia.
orang-orang di sini enjoying Indonesian
song as well, not only Indonesian food.
Mereka tahu Indonesian song dan mereka
tahu bahasa Indonesia karena some of the
school in here mereka teaching Indonesian
bahasa kan, bahasa Indonesia kan. Jadi ya
kita bangga dong di sekolah-sekolah sini
some school they teach the kids bahasa
-Indonesia.
-Tadi kan Mbak Anna bilang diminta panitia
untuk menyanyikan lagu daerah. Kenapa
dimintanya untuk menyanyikan lagu daerah
-untuk acara ini?
-Sebenarnya sih kalau untuk saat ini karena
lebih ke inisiatif ya. KarenaYang pertama
dari semua
pulau-pulau di Indonesia kan kita terdiri
dari beberapa pulau tuh di Indonesia.
Jadi kalau misalkan kita membawakan lagu
barat kayaknya udah kurang nendang gitu.
Jadi kita mau vibesnya vibes Indonesia
banget.
Jadi nggak cuma warga Indonesia tapi
orang-orang Australi bisa makan, makan
makanan Indonesia dengan enjoying
Indonesian music as well.
Tadi Mbak Anna sudah cobain belum street
food-nya?
Sate. Satenya enak banget. Terus sambel SS
pedes ya. Kalau yang pada doyan pedes
bisa cobain sambel SS. Saya tidak
affiliate atau mempromosikan tapi saya
Dan di situ ada selain itu ada Dapurnya
Bubu itu juga enak. Hampir semuanya lah
enak. Saya, saya sering bingung kalau,
kalau ada Indonesian festival specially
ICAV yang ngadain. Jadi saya bingung. Saya
beli satu-satu takeaway.
Sebelum datang ke sini nih yang pengen
dicari, yang pengen dicoba banget nih apa?
Nasi padang, rendang, gulai per gulai. Itu
enak sekali dan kalau untuk masaknya kan
sangat ribet. Mendingan kita beli aja di
sini. Kita beli dengan harga sekian dolar
udah include semuanya, udah pakai nasi,
-everything complete, just enjoy.
-Kalau pulang ke Indonesia biasanya yang
-dicari makanannya apa?
-Karena saya dari pulau Jawa, saya dari
Surabaya specially. Biasanya rujak cingur
ya. Rujak cingur, bebek goreng, something
kayak ikan goreng, ikan bakar,
lalapan-lalapan seperti itu, itu very
-Surabaya.
-Sebagai katakanlah orang Indonesia yang
sudah lama tinggal di Melbourne, dari sisi
kitanya sendiri nih sesama orang
Indonesia untuk apa sih seperti
ya mempertahankan budaya kita sendiri itu
untuk apa ya?
Mempertahankan, yah kita sangat perlu
mempertahankan budaya kita karena kita
bakal passing ke anak cucu kita bahwasanya
our root is from Indonesia, from this
culture. Jadi mereka bisa mempelajari
bahasa budaya. Jadi tidak luntur walaupun
anak-anak saya atau suami saya yang
notabene sudah tinggal lama di Australia,
mereka masih mengenal budaya-budaya
Indonesia. Especially makan dari segi
makanannya. Karena I'm sure Indonesian
food is, is very delicious. Ya pasti
dicari kemana-mana seperti nasi goreng,
mie goreng, bakso, apalah itu semua satai.
Banyak sebenarnya makanan Indonesia yang,
yang nggak ada dijual di sini, yang kita
harus memperkenalkan. Karena Indonesia itu
dari beberapa pulau
itu mempunyai ciri khas makanan
sendiri-sendiri. Yang misalkan soto. Soto
di Sumatera dengan soto di Kalimantan dan
soto di Sulawesi atau soto di Jawa pasti
rasanya dan bentukannya berbeda, ya kan.
Nah, itu seharusnya kita memperkenalkan
semua tuh di sini. Mungkin next kita bisa
bikin
another event kayak Soto Station khusus
soto the whole Indonesia.
-Ya kan? Belum ada kan?
-Mbak Anna Balani,
terima kasih ya atas waktunya sudah
berbincang dengan SBS Indonesian.
END OF TRANSCRIPT