Kecelakaan, yang terjadi pertama kalinya di dunia dari pesawat jet Boeing Co 737 MAX, menewaskan semua 189 orang di dalamnya dan rongsokan utama serta 'kotak hitam' kedua tidak berhasil ditemukan dalam pencarian tahap awal.
Lion Air mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka mendanai upaya pencarian bernilai Rp. 38 miliar (2,6 juta dolar) menggunakan kapal pasokan lepas pantai MPV Everest, yang diperkirakan akan tiba di area pencarian pada hari Senin.
Namun cuaca buruk dan hujan deras di pelabuhan Johor Bahru di Malaysia mengganggu proses pengarahan peralatan dan mobilisasi kru, menunda kedatangan kapal di lokasi kecelakaan hingga Rabu, kata perusahaan penerbangan itu Minggu malam.
Keputusan Lion Air untuk memiayai proses pencarian ini merupakan hal yang langka dilakukan dalam hal kemandirian usaha pencarian, karena proses ini biasanya dibiayai oleh pemerintah.
Secara hukum, pencarian perekam suara kokpit adalah "tugas dan tanggung jawab" dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia (KNKT), ungkap Lion Air.
Kementerian Transportasi, yang bertanggung jawab atas anggaran KNKT, tidak memberikan komentarnya terkait hal ini.
Tim penyelidik Indonesia mengatakan pada pekan lalu bahwa perselisihan birokrasi dan masalah pendanaan telah menghambat pencarian perekam suara dan mereka kemudian meminta bantuan pada Lion Air.
Para pakar keamanan mengatakan bahwa tidak biasa bagi salah satu pihak yang terlibat untuk membantu mendanai proses penyelidikan, yang diwajibkan oleh aturan PBB agar independen guna memastikan kepercayaan atas rekomendasi keselamatan yang diberikan.
Ada juga kekhawatiran yang lebih luas tentang sumber daya yang tersedia untuk dilakukannya penyelidikan semacam itu dalam ukuran global, ditambah lagi dengan adanya risiko jeratan sengketa hukum.
Waktu terus berjalan dalam perburuan 'ping' akustik yang berasal dari perekam suara kokpit dari L3 Technologies Inc yang dipasang pada pesawat jet tersebut. Alat ini memiliki suar yang menyala selama 90 hari, menurut yang dituliskan di brosur online pabrikan.
Perekam data penerbangan berhasil ditemukan tiga hari setelah terjadinya kecelakaan. Perekam ini memberikan pemahaman tentang sistem pesawat dan masukan-masukan dari para awak, meskipun penyebab jatuhnya pesawat belum ditentukan.
