Pemerintah Australia diberitakan mengecilkan kemungkinan Scott Morrison akan maju dengan proposal untuk memindahkan pos diplomatik Australia di Israel, dalam percakapan pribadi pemerintah dengan para menteri Indonesia.
Pemerintah Morrison masih mencoba untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan yang banyak dinantikan dengan Indonesia, idealnya tahun ini, tetapi menghadapi reaksi dari Jakarta terkait pemberitahuan bahwa pemerintah Australia akan 'mempertimbangkan' pergeseran kebijakan Timur Tengah-nya.
Fairfax Media melaporkan bahwa pihak Australia telah memberi tahu para menteri Indonesia di Singapura, di mana KTT ASEAN sedang berlangsung, bahwa hanya ada "lima persen kemungkinan" pemindahan kedutaan akan benar-benar terjadi.
Posisi publik Mr Morrison adalah bahwa ia masih "terbuka" untuk memindahkan kedutaan besar Australia di Israel dari kota Tel Aviv ke Yerusalem. Pemerintah sedang melakukan "peninjauan kembali", yangmana Mr Morrison indikasikan akan selesai sebelum Natal.
Kemarin, Menteri Perdagangan Indonesia, Enggartiasto Lukita, menegaskan bahwa perjanjian itu masih ada sampai Australia menjelaskan niatnya terhadap isu Israel.
"Perjanjian ini dapat ditandatangani sewaktu-waktu, tetapi kapan Anda akan menandatanganinya tergantung pada posisi Australia (terkait isu kedutaan besar)," ujarnya kepada media Indonesia.
Para analis telah memperingatkan bahwa kelompok-kelompok Islam di Indonesia akan menjadikan masalah ini sebagai 'titik nyala' masalah politik domestik dan akan menumpuk tekanan terhadap pemerintah Indonesia.
Menteri luar negeri bayangan Partai Buruh, Penny Wong, mengatakan tidak perlu menunggu sampai Natal bagi Morrison untuk mengungkapkan rencananya atas masalah Israel.
"Kenapa menunggu sampai Natal?" Ms Wong mengatakan di ABC Radio.
Dirinya mengatakan bahwa pemikiran untuk memindahkan kedutaan ini merupakan tindakan yang "gegabah", "kurang pertimbangan" dan "terburu-buru", dan akan "berimplikasi terhadap kedudukan kita di wilayah ini".