Natasha Sharen Lukito pernah memiliki American dream atau impian untuk hidup sejahtera di Amerika Serikat.
Menjelang rampung kuliah manajemen bisnis di Taiwan tahun 2016, dia meninjau lagi impiannya.
“Saya ingin melanjutkan sekolah di Amerika, supaya bisa kerja dan menetap. Tapi biaya kuliah di Amerika mahal sekali,” kata Sharen.
“Sebenarnya saya mendapat tawaran kerja di Taiwan, tapi saya merasa tidak cocok untuk tinggal lama di sana.”
Seorang temannya menginformasikan tentang peluang bekerja di Australia dengan work and holiday visa (WHV).
Australia menyediakan kuota bagi 1500 orang Indonesia yang berusia di bawah 30 tahun untuk bekerja di Australia maksimal tiga tahun.
Tahun lalu Australia dan Indonesia meneken perjanjian perdagangan bebas yang salah satunya komitmen Australia untuk membuka kuota WHV menjadi 4500 orang sampai tahun 2025 dengan penambahan 500 kuota setiap tahun.
Setelah meneliti persyaratan WHV, Sharen tertarik untuk mencoba.
"Saya pikir kerja dua tahun di Australia bisa menabung untuk jadi jembatan ke Amerika.”
Setelah menjalani proses selama sembilan bulan, pada bulan Agustus 2017, Sharen mendapatkan visanya dan menginjakkan kaki di Queensland pada Desember 2017.
Kehilangan pekerjaan saat pandemi
Sharen beberapa kali pindah kota dan melakoni beragam pekerjaan, dari pelayan di bar di pedalaman, pemetik buah, hingga di kafe dan restoran.
Sebelum visa tahun keduanya habis pada Desember 2017, Sharen merasa Australia telah merebut hatinya.
Peserta WHV dari Indonesia bisa mengambil tahun ketiga, tapi Sharen memilih jalan lain.
Dia mendaftar program diploma pendidikan anak usia dini untuk bisa mendapat pekerjaan sebagai pendidik di pusat pengasuhan anak sebagai jalan mendapatkan izin menetap permanen (permanent residency).
Sembari kuliah, Sharen bekerja di tiga bisnis hospitalitas di Melbourne, tapi pandemi lalu kemudian lockdown membuat ia kehilangan pekerjaan.
“Selama tiga bulan sampai Juni saya menganggur. Semua rencana dan perhitungan saya jadi kacau balau. Cari pekerjaan susah sekali,” kata Sharen.
Untuk menutupi biaya hidup, Sharena dan seorang temannya membuat penganan khas Indonesia seperti risoles dan lumpia yang dipasarkan di media sosial.
Pada bulan Juni, kenalannya seorang Indonesia yang menjalankan perusahaan kontraktor untuk konstruksi turbin angin menawarkannya pekerjaan di proyek di Australia Barat.
Sharen tak melewatkan tawaran itu, apalagi sudah tiga bulan dia menganggur dan perkuliahannya berjalan secara daring karena pandemi.
Dia pun menjalani pelatihan atas biaya perusahaan untuk mendapat sertifikasi Global Wind Organisation (GWO) di kawasan industrial Footscray, Melbourne.

Natasha Sharen in training to get Global Wind Organisation (GWO) certificate. Source: Supplied
“Pelatihannya di gedung menyerupai menara selama lima hari, pagi belajar teori di kelas dan sorenya praktek,” kata Sharen.
Pekerjaan minim perempuan
Pada akhir Juni Sharen berangkat ke Australia Barat yang menerapkan penutupan perbatasan hingga pertengahan November lalu.
“Hari pertama ke proyek rasanya senang sekali karena belum pernah bekerja di konstruksi. Tapi sekaligus takut dan tegang karena tidak ada pengalaman dan tiba-tiba berada di lapangan yang tidak banyak perempuan,” kata Sharen.
Di proyek yang berlokasi dua jam dari kota Perth itu, Sharen bertemu Siska Angga Winata, pemegang WHV yang berada di Australia sejak Juli 2019.
Siska lulusan akademi perhotelan NHI di Bandung, namun selama di Australia tidak pernah bekerja di sektor hospitalitas, melainkan selalu di pertanian.

Work and holiday visa holder from Indonesia Siska Angga Winata works at wind turbine tower in Western Australia. Source: Supplied
Pekerjaan Sharen dan Siska adalah tenaga pembersih menara turbin yang baru selesai dikerjakan.
Saat konstruksi komponen turbin menjadi kotor karena sentuhan tangan teknisi, tergores, atau cat mengelupas.
Setiap kali menara selesai, teknisi seperti Sharen dan Siska membersihkan atau melakukan perbaikan seperti mengecat ulang bagian yang mengelupas agar diserahterimakan dalam kondisi sempurna
Sharen mengatakan kendala paling berat dalam menjalani pekerjaan itu adalah mengangkat beban berat seperti drum berisi cairan pendingin mesin ke puncak menara turbin yang setinggi 130 meter.
“Secara fisik saya kuat karena lama bermain dalam tim basket. Saya juga percaya kesetaraan gender, tapi memang ada perbedaan kemampuan fisik dengan laki-laki,” kata Sharen.
“Angkat satu atau dua drum bisa. Tapi sampai sepuluh, saya tidak kuat. Kami harus mengatrol drum naik dengan tali, itu berat. Saya selalu berusaha angkat sampai merasa tidak kuat, lalu minta bantuan rekan laki-laki.”
Tidak seperti Sharen, Siska jarang berolahraga sehingga di awal bekerja di proyek dia merasa sangat berat.

Wind farm project. Source: Supplied
“Tapi karena buat pengalaman, lama-lama saya menikmati juga. Tidak mudah untuk dapat pekerjaan itu, jadi saya mensyukuri saja,” kata Siska.
“Selama tiga bulan di proyek seperti latihan fisik terus. Dulu angkat koper 15 kilogram berat sekali, sekarang angkat koper 30 kilogram biasa saja.”
Mabuk angin dan buang air di plastik
Tantangan lain dalam bekerja di turbin adalah angin yang sering terlalu kuat.
Pernah suatu ketika, Sharen bersama tiga rekannya terjebak di puncak menara saat angin bertiup sangat kencang.
“Di bawah angin tidak terlalu terasa, tapi di atas tower ikut goyang. Seperti mabuk laut. Dalam kondisi angin kencang kami tidak bisa langsung turun, karena tali bisa melilit dan jadi bahaya,” kata Sharen.
“Kami harus menunggu angin reda sambil rebahan selama 20 menit. Jadi kami berempat muntah, turun semua wajahnya pucat.”
Siska menambahkan tantangan lain bagi perempuan adalah buang air kecil.
“Kalau sedang di atas tidak mungkin turun hanya untuk ke toilet. Jadi kami harus buang air di plastik," kata Siska.
"Berusaha cari tempat yang paling pojok. Kalau ada laki-laki minta mereka untuk balik badan. Awalnya risih, tapi lama-lama terbiasa."
Sharen dan Siska menikmati tantangan beratnya pekerjaan mereka.

Natasha Sharen Lukito and Siska Angga Winata. Source: Supplied
“Rasanya bangga, ternyata bisa juga menjalani pekerjaan itu meski tidak banyak perempuan,” kata Sharen.
“Upahnya bagus dan karena jam kerjanya teratur dapat bayaran yang stabil, kalau di hospitalitas tidak teratur karena tergantung panggilan untuk kerja.”
Karena jam kerja di proyek yang teratur, Sharen bisa menjalani perkuliahannya tanpa banyak kendala.
“Selesai kerja jam empat, kelas mulai jam 5.30 sampai jam 9 malam, empat hari seminggu. Jam 10 malam saya sudah bisa istirahat, bangun jam 5 pagi. Jadi istirahat cukup, tujuh jam.”
“Secara fisik memang capek, tapi lebih teratur. Sabtu kerja hanya setengah hari, jadi akhir pekan bisa jalan-jalan.”
Bulan November mendatang Siska akan bekerja lagi di proyek ladang angin di Ballarat Victoria.

Siska Angga Winata in canola farm. Source: Supplied
Dia akan memakai slip gajinya dari proyek untuk memenuhi syarat WHV tahun ketiga.
Setelah tiga tahun di Australia, Siska akan kembali ke Indonesia dan berencana untuk merintis usaha restoran.
Sementara itu Sharen setelah proyek di Australia Barat selesai pada bulan September, memilih tinggal di Sydney untuk merampungkan program diplomanya yang sekitar setahun lagi
Karena situasi pandemi dia masih belum mendapatkan penempatan kerja untuk syarat diploma.
Apakah Sharen masih menyimpan impian Amerika?
“Dulu saya sering dengar orang bilang kalau Australia salah satu tempat hidup terbaik di dunia. Sekarang saya percaya. Di situasi pandemi sekarang, saya beruntung berada di Australia daripada di Amerika.”
Share



