Dua mahasiswa Indonesia berbagi pengalaman kuliah dan tinggal di Australia pada International Student Summit 2026 di Melbourne.
International Student Summit 2026 digelar di Melbourne Town Hall pada 25 Juli lalu. Acara tahunan yang juga dihadiri Walikota Melbourne Nick Reese ini mempertemukan mahasiswa internasional dengan berbagai organisasi penyedia layanan pendidikan, migrasi, dan ketenagakerjaan di Australia.
SBS hadir dan mendirikan stan di acara tersebut.
Di kesempatan itu, SBS Indonesian berbincang dengan dua mahasiswa Indonesia, Syahlafa Khairunisa, mahasiswa S2 jurusan Sistem Informasi Bisnis di Monash University, dan Franklin Utomo, mahasiswa S1 jurusan Perdagangan di University of Melbourne. Keduanya telah dua tahun tinggal di Australia dan membiayai kuliahnya secara mandiri.
Khairunisa, yang menghadiri acara tersebut untuk mencari informasi soal transisi dari dunia perkuliahan ke dunia kerja, mengatakan, motivasi utamanya kuliah di Australia adalah keinginan mendapatkan pengalaman baru di luar Indonesia.
Australia merupakan salah satu negara dengan tingkat perekrutan tenaga kerja yang tinggi, menurut Khairunisa, sehingga pengalaman belajar dan bekerja di sana akan menjadi bekal berharga bagi kariernya. Meski demikian, Khairunisa berencana bekerja di Australia hanya untuk mendapatkan pengalaman sebelum akhirnya kembali ke Indonesia, tambahnya.
Budaya yang berbeda dari Indonesia menjadi hal yang mengejutkan bagi Khairunisa. Menurutnya, warga Australia secara umum sangat taat pada aturan. Hal-hal yang di Indonesia bisa dilakukan secara spontan, di Australia harus direncanakan jauh-jauh hari, tambahnya.
Soal biaya hidup, Khairunisa yang juga bekerja paruh waktu sebagai asisten manajer toko mengatakan, walaupun rupiah tengah melemah terhadap dolar Australia yang mengakibatkan biaya terasa sangat tinggi jika dikonversikan ke rupiah, pengalaman yang ia peroleh selama belajar di Australia tetap sepadan dengan pengeluarannya di sini.
Sementara itu, Franklin Utomo mengatakan, ia menyukai belajar dan tinggal di Australia. Sebagai mahasiswa, Utomo mengatakan, ia menyeimbangkan kehidupan belajar dengan kehidupan sosial karena menurutnya hal tersebut membuat pengalaman kuliah di Australia lebih bermakna.

Namun, keberadaan mahasiswa internasional di Australia tidak lepas dari sorotan politik.
Senator Pauline Hanson dari Partai One Nation menyatakan, sejumlah mahasiswa internasional menyalahgunakan sistem visa melalui praktik perpindahan kursus. Ditanya soal hal ini, Khairunisa mengatakan, klaim tersebut merupakan generalisasi yang tidak mencerminkan seluruh mahasiswa internasional. Banyak mahasiswa yang datang ke Australia karena ingin menempuh pendidikan di bidang yang tidak tersedia di negaranya, ujarnya.
Mengenai usulan Hanson agar mahasiswa yang berhenti atau selesai kuliah harus meninggalkan Australia terlebih dahulu sebelum dapat mengajukan visa pelajar baru, Khairunisa mengatakan, mewajibkan mahasiswa pulang sebelum mengajukan kembali kurang adil karena keharusan pulang terlebih dahulu dapat mengganggu jalur pendidikan dan mempersulit mereka untuk kembali melanjutkan studi.
Terlepas dari hal tersebut, kuota mahasiswa internasional mengalami kenaikan.
Pada 2026, kuota mahasiswa internasional di Australia naik menjadi 295.000 dari 270.000 pada 2025. Namun, angka ini tetap di bawah angka puncak pasca-COVID yang mencapai sekitar 600.000. Mahasiswa dari Asia Tenggara tetap diprioritaskan.
Menanggapi kenaikan ini, Khairunisa mengatakan, ia menyambut baik kebijakan tersebut dan yakin mahasiswa yang benar-benar memiliki niat untuk belajar tetap bisa masuk.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.





