Kejuaraan bulu tangkis Konjen Cup di kota regional Victoria mempertemukan pemain dari berbagai negara dan menjadi ruang bagi diaspora Indonesia untuk menjaga koneksi sosial lewat olahraga.
Di Bendigo, kota regional di Victoria, sekitar sembilan puluh orang berkumpul di lapangan bulu tangkis pada Sabtu, 11 Juli 2026, untuk mengikuti kejuaraan bulu tangkis Konjen Cup.
Sekitar enam puluh di antaranya adalah pemain, sementara sisanya hadir sebagai penonton. Mereka datang bukan hanya untuk bertanding, tetapi juga untuk bertemu kawan lama, bersosialisasi, dan sekadar melepas penat.
Kejuaraan bulu tangkis komunitas ini sudah memasuki tahun ketujuh, meskipun format Konjen Cup sendiri baru diperkenalkan tahun ini. Marthin Nanere, ketua penyelenggara, mengatakan, piala ini berasal dari Konsulat Jenderal RI di Melbourne dan mempertemukan tim Melbourne melawan tim regional Victoria dalam sembilan partai. Tim regional menang tipis, lima berbanding empat.
Selain Konjen Cup, turnamen juga menggelar pertandingan terbuka dengan sistem gugur. Kategorinya dibagi dua: kompetitif dan sosial, yang terakhir bagi mereka yang ingin bermain santai tetapi tetap bisa membawa pulang hadiah.

Pesertanya beragam. Selain warga negara Indonesia, ada pemain dari Singapura, India, Vietnam, dan Malaysia yang tinggal di sekitar Bendigo. Walikota Bendigo, Thomas Prince, hadir memberi sambutan dan membuka acara dengan permainan informal melawan Konsul Jenderal.
Kejuaraan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Namun bagi Nanere, nilai terbesar dari acara ini bukan di piala atau skor. Di Bendigo, lebih dari seratus pemegang working holiday visa asal Indonesia tinggal dan bekerja. Klub bulu tangkis yang aktif empat kali seminggu menjadi salah satu ruang sosial utama mereka. Dokter, paramedis, pekerja aged care, mereka datang setelah jam kerja untuk bermain dan melepas penat.
Di luar aspek kompetisi, Nanere mengatakan, ia melihat bulu tangkis berperan penting bagi kesehatan fisik dan mental komunitas di Bendigo. Olahraga ini, katanya, menjaga kebugaran tubuh tanpa memandang usia, sekaligus menjadi ruang bagi para pekerja untuk menyalurkan tekanan dan tidak terkungkung oleh persoalan pekerjaan sehari-hari.
Nanere menyebut olahraga sebagai bahasa yang tidak perlu dipelajari. Pemain tertua di klub mereka berusia delapan puluh enam tahun dan masih aktif bermain setiap minggu.
Ke depan, Nanere mengatakan, ia berharap kejuaraan ini terus berlanjut dengan format bergilir antara Bendigo dan Melbourne.
Simak podcast ini selengkapnya untuk mendengar perbincangan lengkap dengan Marthin Nanere.





