Paduan suara Gondwana dan Suara Indonesia Dance yang membawa tari tradisional Aceh, Ratueh Doek, baru-baru ini kembali dari lawatannya ke negara Malaysia dan Singapura. Bagaimana proses serta persiapan lawatan tersebut? Bagaimana respon dari penonton di kedua negara jiran itu?
Alfira O’Sullivan adalah direktur artistik, pendiri dan juga penari Suara Indoneia Dance. Sedangkan Murtala direktur bersama, koreografer dan penari Suara Indonesia Dance. Murtala yang bearasal dari Aceh itu dapat dianggap sebagai penjaga warisan budaya yang memiliki spesialisasi dalam seni perkusi tubuh dan tari duduk tradisional Aceh.
Melakukan lawatan ke mancanegara bagi Suara Indonesia Dance bukalah hal yang pertama. Namun penampilan mereka di Singapura dan Malaysia pada bulan Juli ini dengan membawakan tarian tradisional Aceh, Ratueh Duek, benar-benar menegaskan Murtala melalui anak didiknya itu sebagai duta diplomasi budaya yang sekaligus mengkokohkan kedudukan Ratueh Duek sebagai tarian tradisional Aceh.
Selain tanggapan para penonton yang sangat apresiatif, Murtala yang mendampingi penari remaja Australia itu merasa bangga dan berbesar hati atas penampilan anah didiknya. Dalam wawancaranya dengan SBS Indonesian, Murtala dan Alfira O’Sullivan menggambarkan persiapan serta pelaksanaan dari lawatan itu. Terutamanya Murtala dapat melihat dengan jelas dampak dari kedisiplinan itu telah menanamkan rasa tanggung jawab, pemahaman akan budaya dan kebanggaan dalam diri masing-masing anak didiknya.





