Sebagai seorang sineas muda, Raphael Wregas Bhanuteja menjadi sutradara film Indonesia pertama yang menerima penghargaan di Film Festival Cannes untuk film pendeknya yang berjudul Prenjak, 2016. Selain itu Wregas juga telah menerima beberapa penghargaan lainnya seperti Penghargaan Citra untuk Sutradara Terbaik, Penghargaan Citra untuk Film Pendek Terbaik (Kota ini dan Prenjak) dan Penghargaan Citra untuk Skenario Asli Terbaik serta Penghargaan Maya untuk Film Pendek (Lemantun) dan Spesial Penghargaan Iqbal Rais sebagai Sutradara Muda. Penayangan perdana film Para Perasuk ini dilakukan di Film Festival Sundace, 24 Januari 2026. Film ini juga menjadi film pembuka di Festival Film Internasional Darwin yang berlangsung dari 10 – 20 September 2026.
Sebelum penayangannya di Festival Film Internasional Darwin 2026, film Para Perasuk ini sebenarnya pernah tayang di Sydney dan Melbourne dalam Festival Film Taiwan 2026 di Australia yang berlangsung di berbagai kota dari tanggal 23 Juli hingga 6 September. Apa yang menarik dari film Para Perasuk ini? Secara ringkas dapat disimpulkan dalam beberapa poin yaitu: Premis dan Cerita yang Unik, Visual dan Pendekatan Estetika serta Akting dan Totalitas para pemain. Ditambah juga dengan prestasi internasionalnya dalam penanyangan di Sundance Film Festiva (USA) dan di Busan (Korsel) yang sempat meraih penghargaan.
Jadi apa di balik keberhasilan film Para Perasuk ini? Semuanya itu dijelaskan oleh senias inspiratif Wregas Bhanuteja dalam wawancaranya dengan SBS Indonesian.





