Seniman asal Minahasa ini menjadikan penyihir, perempuan pemberontak, dan makhluk yang dianggap mengancam sebagai pusat karyanya. Instalasi terbarunya, "Primate Visions: Macaque Macabre", kini dipamerkan di Monash University Museum of Art (MUMA), Melbourne.
Natasha Tontey duduk di ruang pertemuan di dalam Monash University Museum of Art (MUMA), Melbourne, ketika SBS Indonesian menemuinya untuk wawancara.
Tontey mengenakan mantel bulu sintetis berwarna hijau neon yang menyala di antara dinding abu-abu ruangan. Di baliknya, kemeja putih dengan dasi bermotif, celana biru, dan sepasang sepatu kets yang sudah usang. Kacamata mata kucing sewarna mantelnya bertengger di hidungnya. Penampilannya seperti menolak untuk diam, seperti karyanya.
Di ruang galeri beberapa langkah dari tempat ia duduk, instalasi multibagian berjudul "Primate Visions: Macaque Macabre" sedang dipamerkan sebagai bagian dari pameran "Syncretic Wilds". Dalam karya itu, Tontey mengeksplorasi hubungan antara masyarakat Minahasa dan monyet hitam Sulawesi yang dikenal dengan nama yaki melalui film, patung, kostum, dan audio.
Ini bukan satu-satunya pameran Tontey tahun ini. Di saat bersamaan, karyanya juga hadir di Ateneo Veneto di Venice, Italia, dan Carnegie Museum of Art di Pittsburgh, USA, ujar Tontey kepada SBS Indonesian. Semua karya yang dipamerkan berbeda satu sama lain, katanya.
Tontey menciptakan citra bergerak yang terhubung dengan instalasi, desain suara, kostum, pertunjukan, dan tulisan, jelasnya. Di MUMA, misalnya, beberapa bagian dari set filmnya berupa patung yang kemudian dipajang di ruang galeri.
Perhatian Tontey tidak tertuju pada keindahan. Yang ia cari adalah sosok-sosok yang dianggap mengancam: penyihir, monster, perempuan pemberontak, hewan, tubuh-tubuh yang bermutasi. Semua figur itu, menurut Tontey, sengaja diciptakan oleh negara, agama, ilmu pengetahuan, atau media sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan dikendalikan.
Tontey menyebut tema itu sebagai ketakutan yang sengaja diproduksi. Justru dari sosok-sosok yang terpinggirkan itulah Tontey menemukan sumber pengetahuan dan kemungkinan baru, tambahnya.
Aku sering berpusat pada figur yang outsider, outcast, atau dianggap aneh: perempuan pemberontak, penyihir, monster, hewan, atau tubuh-tubuh yang mutan. Aku melihat bagaimana mereka bisa menjadi sumber pengetahuan dan kemungkinan baru.Natasha Tontey
Menariknya, inspirasinya datang dari tempat yang tidak terduga, kata Tontey. Sinetron Jin dan Jun serta film horor Suzanna, misalnya, turut membentuk estetika karyanya.
Jalan Tontey menuju seni rupa tidak dimulai dari sekolah seni. Tontey mengikuti ekstrakurikuler fotografi di SMA, lalu lokakarya di Galeri Foto Jurnalistik Antara, tuturnya. Tugas akhirnya justru mendapat nilai buruk karena dianggap bukan foto jurnalistik.
Namun di sana Tontey bertemu sejumlah tokoh, termasuk Oskar Motuloh dan Firman Ikhsan, yang menunjukkan kepadanya bahwa fotografi bisa menjadi medium seni rupa, jelasnya.
Namun ketertarikan Tontey terhadap dunia visual sudah tertanam jauh sebelum itu. Waktu berusia sekitar lima tahun, Tontey pernah mengunjungi Vatikan, tuturnya. Ibunya mengajak Tontey melihat patung David karya Michelangelo dan lukisan langit-langit di Kapel Sistina, kenangnya.
Selain itu, mendiang ibunya yang memiliki ketertarikan terhadap dunia fesyen dan visual, kata Tontey, menanamkan kecintaannya terhadap seni.
Identitas Minahasa turut membentuk cara Tontey bekerja. Tontey tumbuh dalam keluarga Minahasa yang erat dan masih berbahasa Minahasa, katanya. Namun Tontey mendekati budayanya dengan kebanggaan sekaligus kritik, tanpa meromantisasinya, tambahnya.
Tak lama setelah wawancara dengan SBS Indonesian, acara pembukaan pameran dimulai. Tontey mengajak pengunjung berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, berhenti di depan setiap bagian instalasi untuk menjelaskan karyanya––tentang hubungan masyarakat Minahasa dengan yaki, tentang pakaian-pakaian yang berasal dari set filmnya.
Berpameran di luar negeri adalah sesuatu yang ia nikmati dan ingin terus ia lakukan, kata Tontey. Baginya, setiap pameran di luar Indonesia adalah kesempatan untuk membawa cerita Minahasa ke hadapan penonton yang belum pernah mendengarnya, ujarnya.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.





