Mungkin banyak yang mengaitkan agresi Israel di Gaza dengan agama. Namun seorang ustadz yang hidup bersama seorang rabbi selama tiga minggu menemukan bahwa persoalannya lebih kental unsur politisnya. Bersama seorang pendeta, ketiganya berdialog untuk saling memahami lebih dalam.
Keputusan Ustadz Niki Alma Febriana Fauzi untuk mengikuti program ini sempat dipertanyakan oleh sejumlah rekannya, terutama karena program tersebut melibatkan seorang rabbi, kata Ustadz Niki kepada SBS Indonesian.
Ia pun menyadari bahwa sepulangnya nanti akan muncul persepsi tertentu terhadap dirinya, termasuk kemungkinan dilabeli liberal, ujar Ustadz Niki.
Namun bagi Ustadz Niki, hal terpenting adalah menyampaikan apa yang didapat selama perjalanan tanpa memaksakan orang lain untuk menyetujuinya. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing dan tidak mungkin menyenangkan semua pihak, kata Ustadz Niki.
Ustadz Niki, dosen di Program Studi Ilmu Hadits, Fakultas Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, mengikuti program 1000 Abrahamic Circle Project pada Agustus 2026. Program ini merupakan inisiatif dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang didirikan dan diketuai oleh Dino Patti Djalal.
Dalam program tersebut, tiga pemuka agama dari Islam, Kristen, dan Yahudi tinggal bersama selama tiga minggu secara bergiliran di negara masing-masing.

Minggu pertama dihabiskan di rumah Father Adrian, seorang pendeta di Kota Iligan, Filipina. Minggu kedua berlangsung di Yogyakarta. Minggu ketiga dan terakhir dijalani di Melbourne, di kediaman Rabbi Ralph.
Program ini berbeda dari kegiatan lintas iman yang biasanya hanya berupa seminar atau konferensi, kata Ustadz Niki. Para pesertanya benar-benar hidup bersama, makan bersama, bahkan mencuci piring bersama, ujarnya.
Kita hidup bersama, makan bersama, cuci piring bersama... ngobrol informal ketika makan... Kalau di konferensi... mungkin lebih ke hal yang lebih formalitas, tapi kalau kita hidup bersama, pas lagi ngobrol itu justru jauh lebih natural, jauh lebih jujur, dan kita bisa tanya sedetail mungkin apa yang kita penasaran.Ustadz Niki Alma Febriana Fauzi
Percakapan yang muncul dari keseharian seperti itu justru lebih natural dan lebih jujur, kata sang ustadz.
Di tengah konflik global yang kerap ditunggangi sentimen keagamaan, program ini menemukan relevansinya tersendiri, kata Ustadz Niki. Banyak konflik yang sebenarnya lebih bersifat politis, namun agama yang terkena dampak stereotipnya, tambahnya.
Ustadz Niki merupakan peserta angkatan kedelapan dari program ini. Salah satu alumni dari angkatan sebelumnya adalah Habib Ja'far.
Dengarkan perbincangan selengkapnya di podcast SBS Indonesian, di mana Ustadz Niki juga menceritakan suka dan duka hidup bersama dua pemuka agama tersebut.





