Hubungan antara pedagang teripang dan masyarakat Pribumi di Australia melibatkan pertukaran historis yang sudah berlangsung lama, dimulai dengan nelayan Makassar yang memperdagangkan teripang untuk mendapatkan barang, yang berdampak besar pada budaya dan bahasa setempat.
Dalam wawancara ini, Daeng Abdi Karya, seorang seniman dari Makassar, menceritakan sebuah inisiatif kemanusiaan yang berhasil menyatukan kembali keluarga yang terpisah selama lebih dari seratus tahun.
Inisiatif ini berfokus pada melacak jejak seorang pelaut Makassar bernama Husaing Daeng Rangka (yang juga dikenal sebagai Yuching oleh komunitas Yolngu) yang memiliki dua istri di Makassar dan dua di komunitas Yolngu, Australia.
Setelah hukum imigrasi baru diberlakukan pada tahun 1906, Husaing tidak dapat kembali ke Australia, sehingga ia terpisah dari keluarganya di sana.
Proses pelacakan ini didasari oleh catatan arsip pemerintah Australia dan, yang lebih penting, oleh "songlines" atau nyanyian tradisional suku Yolngu yang menyimpan kisah dan kenangan tentang para pelaut Makassar.
Meskipun di sisi Makassar tidak ada catatan serupa, cerita-cerita dari keturunan para pelaut yang diwariskan secara lisan menjadi kunci. Tim yang terdiri dari seniman dan akademisi berhasil mengidentifikasi keturunan kelima dari Husain Daeng Rangka, baik dari pihak Makassar maupun Yolngu.

Pertemuan ini diorganisir di tepi Sungai Jeneberang di Makassar, lokasi yang sangat bersejarah karena merupakan pusat peradaban Kerajaan Gowa.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi reuni keluarga, tetapi juga sebuah ritual sakral yang dihadiri oleh keturunan Husaing dari Makassar, keturunan dari suku Yolngu, dan beberapa tetua suku Aborigin dari Australia Selatan.
Upacara ini diiringi dengan musik dan tarian klasik Makassar, serta nyanyian tradisional Yolngu yang mengkonfirmasi kembali ingatan kolektif kedua belah pihak.

Reuni ini menunjukkan bahwa sejarah kedua negara tidak hanya ada dalam catatan formal, tetapi juga hidup dalam cerita rakyat dan tradisi lisan.
Kisah ini menegaskan pentingnya mengenali dan mendokumentasikan narasi masyarakat adat yang sering kali terabaikan dalam kurikulum pendidikan nasional.
Daeng Abdi Karya berharap bahwa kisah-kisah seperti ini akan terus digali dan diabadikan melalui seni, sehingga dapat diakses oleh khalayak luas dan memperkuat koneksi antara Indonesia dan Australia.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.




