Idulfitri di Australia jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara di Indonesia baru dirayakan keesokan harinya pada Sabtu, 21 Maret. Perbedaan waktu ini menjadi tantangan tersendiri bagi diaspora Indonesia di Melbourne yang ingin merayakan lebaran bersama keluarga di tanah air.
SBS Indonesian berbincang dengan tiga diaspora Indonesia di Melbourne, yaitu Sae, Ahimsa, dan Kiky, yang tahun ini merayakan Idulfitri jauh dari keluarga besar di Indonesia.
Annisa Saraswati atau akrab dipanggil Sae, mahasiswa S2 di Monash University, yang tinggal bersama suami dan anaknya, bercerita bahwa keluarga besarnya di Jakarta akan menelepon dan menggiliir ponsel agar semua anggota keluarga bisa saling menyapa. Momen sungkeman pun dilakukan secara virtual, dengan ponsel diletakkan agak jauh agar mereka bisa menyaksikan prosesi dari layar.
Hal yang membuat Sae tersentuh adalah ketika ayahnya meminta seluruh anggota keluarga mengirimkan foto masing-masing, lalu mengeditnya menjadi satu foto keluarga besar seolah mereka sedang berkumpul bersama di rumah.
Sementara itu, Ahimsa W Swadeshi, mahasiswa S2 di University of Melbourne, mengaku bahwa momen yang paling dirindukan adalah bisa memeluk ibunya setelah salat Id. Baginya, teknologi memang tidak bisa menggantikan kebersamaan secara langsung, tetapi menjadi ruang agar tetap terkoneksi dan tidak merasa sendirian.

Rizqie M Ihsan atau akrab dipanggil Kiky, mahasiswa S2 di University of Melbourne, merayakan Idulfitri tanpa keluarga untuk pertama kalinya, menyampaikan bahwa sungkeman secara virtual bersama orang tuanya sudah direncanakan sebelumnya.
Meski tidak ideal, menurutnya kebersamaan dengan sesama perantau di Melbourne menjadi berkah tersendiri karena mereka bisa saling merasakan hal yang sama.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.




